Asyik dan Tak Asyik Film Pengabdi Setan

Twitter: Joko Anwar

Setelah mendapati link untuk menonton film ini, dan menontonnya, saya menarik kesimpulan bahwa: Film “Pengabdi Setan” tidak asyik. Mengecewakan, ada yang kurang. Padahal, sejak film Joko Anwar ini keluar, saya selalu berupaya keras untuk mencari link-downloadnya, (maklum saja, bukan karena tidak mampu ke bioskop, ke bioskop sendiri itu nggak asyik). Apa yang salah? Mengapa film Pengabdi Setan tidak asyik? Berikut hasil perenungan saya:

1. Menumpang ngetop pada film terdahulu

Dikisahkan, bahwa film ini adalah adaptasi dari film terdahulu, di era 80-an, meski tidak kesuluruhan (film-fim lain juga begitu, hehe..). Film ini mencoba menangkap momen itu. Momen di mana sejak Kak Seto suka bilang “zaman now” masyarakat Indonesia pun, ramai-ramai ingin kembali ke zaman dulu, zaman belum ada internetnya. Haha. Emang siap?

2. Meme-meme yang viral Meme

Ibu yang dibumbui kata-kata lucu membuat saya (atau mungkin anda) ikut tertarik pada film ini. Semakin viral memenya, semakin banyak pula yang mau menonton.

3. Tidak ada adegan seks-nya

Kekecewaan terbesar saya (atau mungkin juga anda) adalah bahwa film horor Joko Anwar kali ini tidak menampilkan adegan seks. Tidak seperti film Joko Anwar yang lain, di film ini Joko Anwar tidak bisa ‘memanfaatkan’ kemampuan acting Tara Basro. Saya berpendapat, masih banyak publik perfilman Indonesia yang ingin melihat Tara Basro bergoyang-goyang di ranjang. Iye kan, Mblo?

4. Masih menggunakan efek suara-suara seram

Buat ngagetin orang, suara bisa dijadikan film horor sebagai tambahan bumbu. Hanya saja, hal ini tentu membosankan. Film indie dari Amerika dengan judul “A Ghost Story” bisa jadi panutan. Bukan membanding-bandingkan ini, ya, hehe.

 Meski begitu, ada pula sisi positif dari film Pengabdi Setan ini, di antaranya:

1. Menempatkan ahli agama sebagai manusia biasa

Memang sih, ahli agama juga boleh main film. Tapi, kerjanya nggak ngusir-ngusir seten terus kan? Di sini, Pengabdi Setan bisa menempatkan ahli agama sebagai manusia biasa yang tetap memiliki sisi rapuh. Tidak sebentar-sebentar keluar ayat dan bunuh-bunuh hantu jahat.

2. Pemilihan soundtrack lagu yang pas

The Spouse lewat lagu yang bikin merinding itu enak didengar.

Suara Aimee Saras itu pas. Aimee Saras itu sexy. Kecil dan menggemaskan. Aimee Saras adalah panutan wanita urban (Tidak ada hubungannya dengan film, haha…)

3. Terkenal di Dalam dan Luar Negeri

Di luar negri, film ini mendapat  tempat yang lumayan. Di sini, juga begitu. Sila cari sendiri artikel-artikel seputar itu.

 

Jaya terus perfilman Indonesia!

Uyeee…

Facebook Comments

About the author

mm
MAULIDAN RAHMAN SIREGAR

MAULIDAN RAHMAN SIREGAR, lahir di Padang, 03 Februari 1991. Penyair bukan, cerpenis tidak, tapi pengen. Buku puisinya, Tuhan Tidak Tidur atas Doa Hamba-Nya yang Begadang (Erka Publishing; 2018), Menyembah Lampu Jalan (Purata Utama; 2019)