ALBUM KETIGA UNDER THE BIG BRIGHT YELLOW SUN; SEMANGAT BARU POST-ROCK INDONESIA

UNDER THE BIG BRIGHT YELLOW SUN
BRIGHTLIGHT Album ketiga Under The Big Bright Yellow Sun

Under The Big Bright Yellow Sun, band postrock asal Bandung, Indonesia yang berdiri sejak 13 Agustus 2007 ini mengeluarkan album ketiga mereka pada Oktober 2019 silam. Album ketiga mereka diberi judul; BrightLigt.

Band ini sudah berusia 12 tahun. Personil saat ini; Komeng (gitar), Ranyay (gitar), Ezza (gitar), Didi (bas) dan Koi (drum).

Berisi 9 materi lagu; Prologue, Follow The Light, When The Light Arrived, Brightlight, In Hope I Die, Regret, Endless, Ironic. Pt 2, dan Epilogue.

Sebagai pembuka album, kita diantarkan dengan prologue, mendayu, menyentuh, menhampiri. Menarik tapi memberi kesempatan buat kita untuk lepas atau mengabaikan track ini. Itu yang saya rasakan. UTBBYS melalui track awal ini menawarkan kesabaran buat pendengarnya.

Track kedua; Follow The Light. Ya, harus ikuti. Di track kedua ini orang-orang yang sabar mendengarkan lagu pertama, dibuat senang. Kita diberikan semangat (lagi).

When The Light Arrived mengagetkan saya. Awal materi lagu ini, saya pikir band apa. Wgwg. Apakah ini tawaran baru? Hingga ke menit 01.30 saya masih bertanya-tanya. Di mana UTBBYS-nya? Pertanyaan saya dijawab pada menit 01.31 track ini. Yeay. Dada kembali bergemuruh. Semangat kembali berpacu. Terlebih ketika di menit menit tertentu saya merasai bumbu lokalitas yang mulai diselipkan UTBBYS ini. Mendengar lagu ini, saya seperti diantarkan pada sebuah kemenangan besar. Ya, menang lomba takraw atau bulutangkis di kampung, dengarlah track ini. Pas.

Jika keimanan saya tak berubah, Brightlight merupakan track favorit saya di album ini. Saya sudah lama menduga, UTBBYS akan bikin track begini. Itu saya yakini setelah melihat performa mereka di salah satu panggung bersama Bottlesmoker. Ya ampun, ini suling apa? Merdeka! Merdeka. Benar-benar merinding saya dengar track ini. Bahagia. tidak ada tangis, tidak ada kesedihan. Saya sulut lagi rokok saya dalam-dalam. Nikmat betul.

In Hope I Die tidak mengagetkan saya. Materi ini mirip dengan beberapa track UTBBYS di beberapa album lain mereka. Tapi pukulan Koi di track ini, sangat-sangatlah rapi. Ia menghentak-hentak sejak track ini dimainkan. Saya dikagetkan di menit 06.25.

Sudah 5 track sejauh ini. Saya kaget di track keenam. Wgwg. Bebunyian apa lagi ini, hehe. Di track berjudul Regret ini sentuhan elektroniknya kental. Atau, apakah itu gitar? Wallahu a’lam, saya tidak bisa membaca/mendengar/menganalisis itu secara mendalam. Petikan gitar yang tenang, mendayu, meneduhkan. Nikmat. Melenakan, menerbitkan kantuk. Akan tetapi, tidur bukanlah hal yang tepat untuk mendengarkan track ini.

Track ketujuh; Endless. Sejuk. Indah. Ingin memeluk istri. Ingin menidurkan anak. Ingin naik haji. Itulah kesan pertama saya di menit-menit awal track ini. Benar-benar melenakan. Benar-benar UTBBYS banget. Saya juga teringat gelengan kepala seorang perempuan cantik di laman youtube yang menampilkan UTBBYS sedang manggung. Allohu akbar, menangis saya dengan track ini. Track ini track favorit kedua saya di album ini.

Ironic. Pt 2 adalah kelanjutan dari Ironic yang terdapat di album penuh kedua mereka Quintessential Turmoil (2014). Bila dibandingkan dengan Ironic, Ironic Pt 2 lebih menyedihkan. Lekatkan track ini ke telinga manusia millenial jaman sekarang. Gesekan biola dan bunyi-bunyi pianonya akan bikin mereka menangis sejadi-jadinya. Apalagi terompet Israfil itu. Ya Tuhan…

Upacara kita ditutup dengan penutup yang wah. Epilogue adalah isyarat bagi penggemar UTBBYS khususnya, atau penggiat postrock umumnya, bahwa band ini tidak akan berakhir di album ketiga ini. Track penutup ini punya semangat yang akan membuat kita kembali lagi mendengarkan album ini.

Album ini sebagai kado bagi para penggemar UTBBYS. Pada perayaan ulangtahun yang jauh dari kata hingar bingar tersebut, UTBBYS membagikan album ini secara gratis melalui kanal youtube mereka. Hal itulah yang saya sesali, hehe. Saya telat sekali mengetahui album cantik ini. Menyedihkan!

Buat kawan-kawan yang ingin mendengarkan album penuh mereka, bisa cek ke laman bandcamp. Atau jika mau membeli rilisan fisiknya, sila kontak mereka di Instagram mereka.

Selamat ulang tahun, Under The Big Bright Yellow Sun. Jaya Musik dalam negeri. Sebagai catatan, saya bukanlah pengamat musik. Bukan pula orang yang paham dengan musik. Tulisan sederhana ini hanya sebagai bentuk apresiasi saya terhadap band ini. Salah satu band yang mampu bertahan dengan idealisme mereka. Sungguh benar band yang layak diapresiasi.(*)

Facebook Comments

About the author

mm
MAULIDAN RAHMAN SIREGAR

MAULIDAN RAHMAN SIREGAR, lahir di Padang, 03 Februari 1991. Penyair bukan, cerpenis tidak, tapi pengen. Buku puisinya, Tuhan Tidak Tidur atas Doa Hamba-Nya yang Begadang (Erka Publishing; 2018), Menyembah Lampu Jalan (Purata Utama; 2019)

mm By MAULIDAN RAHMAN SIREGAR