Aku Ingin Membunuh Satu dari Tiga Tokohnya

https://ccsearch.creativecommons.org/

Aku masih termangu di depan laptop, memikirkan cara yang tepat untuk membunuh salah satu di antara tiga tokoh yang ditulisnya : Aku, Dia, atau Kamu. Aku harus membunuh tokoh-tokoh itu untuk mengurangi rasa bersalahnya.

            Aku duduk di bawah jendela besar kamarnya. Setiap sore Aku mencari kesibukan dengan pergi ke taman, bermain gitar, atau membereskan kamar diiringi lagu-lagu kenangan, atau membaca buku di bawah jendela. Namun sore ini adalah sore yang tak biasa. Aku duduk menghadap laptopnya ditemani sekotak rokok yang ia beli di warung sebelah. Sesekali Aku merenung, memainkan asap rokok yang berputar serupa gumpalan awan atau bulatan donat. Beberapa hari terakhir Aku tak pernah tersenyum. Harusnya Aku bahagia, karena ini adalah hari-hari terakhir masa lajangnya. Namun tidak. Ia termenung panjang dan menghabiskan waktu di kamar kosnya.

Aku tidak tahu bagaimana cara membunuh Dia. Perempuan itu terlalu bahagia untuk dibunuh. Betapa tidak? Dia anak tunggal pengawas sekolah, cantik, dan sudah pasti tidak pernah kekurangan apapun. Ibunya memiliki rumah dengan sepuluh kamar kos yang letaknya di depan rumah mereka, termasuk kamar Aku.

Dia pandai memasak. Satu-satunya kesibukan yang dilakukannya adalah membuat apa saja di dapur mungil ibunya dan menyantap hasil masakannya sambil menonton film India atau drama Korea.

Dia mengajar di salah satu sekolah sebagai tenaga honorer. Meski  digaji lebih kecil dari pelayan toko, Dia tak pernah mengeluh. Sepuluh tahun dijalaninya di sekolah itu. Lagipula tak ada kebutuhan lain yang harus dipenuhinya selain peralatan kosmetik yang harus dan mutlak dipenuhinya. Dia membutuhkan semua itu karena begitulah cara ibunya membesarkan. Dia selalu tampil cantik di setiap kesempatan. Bahkan di rumah pun ia harus terlihat cantik. Ayah dan ibunya memberikan segala sesuatu yang dibutuhkannya, sehingga ia tidak pernah bekerja lebih keras, atau juga berharap lebih banyak dari gaji yang diperolehnya.

Satu-satunya hal yang tidak dimiliki Dia adalah kekasih. Setiap lelaki yang memacarinya tak sesuai dengan keinginan ibunya. Ibunya perempuan berselera tinggi yang merasa memiliki anak secantik barbie. Ya, dengan hidung mancung dan kulit kuning Dia, ibunya merasa menjadi perempuan beruntung bisa memiliki anak secantik Dia. Semua yang ada pada diri Dia adalah anugerah terindah bagi mereka. Ibunya berharap seorang lelaki gagah meminang Dia. Seorang pegawai bank atau minimal dokter yang akan menjadikan putrinya sebagai seorang permaisuri di kerajaan kebahagiaan. Itulah harapan ibunya.

Dia berdiam di rumah ayah ibunya hingga usia tiga puluh dua. Tak seorang pun bisa memenuhi kriteria menantu seperti yang diharapkan ibunya. Banyak lelaki yang datang dan beberapa dicintainya. Namun ketika si ibu menggeleng, maka Dia tak akan melanjutkan kisah cinta itu. Dia akan selalu sibuk di dapur mungil ibunya dan menonton sinetron India atau drama Korea. Ia kesulitan menunggu lelaki yang benar-benar tepat untuk dijadikan menantu ibunya.

Hingga suatu hari seorang lelaki datang kepadanya: Aku.

Tak ada pilihan lain bagi Dia selain menerimanya. Aku adalah lelaki dengan kemapanan di garis standar. Sama seperti orang tua Dia, Aku dan keluarga Aku adalah keluarga guru di daerah pesisir. Bagi ibu Dia, cukuplah Aku dijadikan sebagai menantu mengingat bahwa Dia mencintai Aku. Mereka berembug dan menetapkan tanggal pernikahannya dengan hitungan tanggal lahir. Aku empat tahun lebih muda dari Dia. Aku lelaki dengan kemampuan dan penampilan rata-rata. Tidak tampan, tidak putih, dan ada beberapa lubang jerawat yang memarut di wajahnya.

            Itulah yang menyebabkan Aku kesulitan untuk membunuh tokoh Dia. Dia hidup terlalu bahagia. Dia dilimpahi cinta kedua orang tuanya sebagai anak tunggal yang nyaris tidak memiliki kesulitan di sepanjang hidupnya. Kematian seperti apa yang paling tepat untuk Dia? Satu-satunya hal yang tidak dimiliki perempuan itu adalah cinta, dan Aku tahu lelaki yang akan menikah dengan Dia tidak terlalu mencintainya.

Barangkali Aku tidak perlu membunuhnya, kata Aku. Dengan cinta yang alakadarnya, Dia akan mati sendiri berlahan-lahan. Cinta Aku akan luntur, dan itulah satu-satunya kesempatan untuk membunuh Dia. Dia akan mati dengan kekecewaan. Sebuah kekecewaan yang tak bisa diselamatkan oleh orang tua Dia.

Aku tak bisa membunuh Dia.

*

Aku mencintai Kamu. Kamu perempuan cantik dan enerjik yang digilai semua lelaki. Berbeda dengan Dia, Kamu seperti seekor burung, terbang bebas. Kamu senang bernyanyi. Suaranya merdu dan sesekali kibasan tangannya yang bergerak seolah tarian yang alami. Kamu gemar bercerita tentang hal-hal di dunia luas. Aku sering merasa takjub. Kamu dipenuhi seribu satu keajaiban yang tak terbantahkan. Itulah yang dicarinya selama ini, seorang yang bisa mengajaknya menemukan keajaiban-keajaiban.

Telah lama Aku merasa kehidupannya mati. Ayah ibunya tak memberi banyak pilihan. Sebagai anak lelaki, Aku tidak menemukan keajaiban. Sama seperti Dia, kedua orangtuanya terlalu ikut campur dalam setiap keputusan, termasuk dalam hal cinta. Aku merasa hidupnya terlalu manis untuk seorang lelaki. Aku menginginkan petualangan-petualangan yang menantang, bukan hanya berkutat di dalam kamar dan membaca buku-buku. Dan itu baru disadarinya ketika ia bertemu Kamu. Kamu memiliki petualangan yang membuat hidupnya yang hampa dan sepi menjadi berwarna dan bergejolak.

Disadarinya, Kamu memiliki segala hal yang diinginkan, teman-teman yang baik, tempat-tempat terbaik, dan juga kisah-kisah yang menarik untuk diceritakan dan dikenang. Keajaiban itulah yang dirasakannya terhadap Kamu, dan Aku yakin itulah cinta yang sebenarnya. Aku melihat indahnya bola mata Kamu ketika berbicara tentang kisah para nabi, tentang suara burung-burung, juga kisah pangeran dan putri di kerajaan-kerajaan.

Aku memang pernah mengunjungi kota-kota di luar sana, namun Aku tidak pernah mengenal sejarah yang besar di kota itu. Seperti ketika Aku memainkan lagu dengan gitar dan piano setiap sore, tetapi tak pernah tahu penulisnya. Sedangkan Kamu, ia mengenal buku dan lagu dengan baik. Ia menyanyikan setiap lagu dengan suara merdu. Setiap sore mereka menghabiskan waktu di tepi taman untuk bernyanyi dan memainkan lagu-lagu sukacita. Kamu adalah keajaiban yang baru disadarinya belakangan, yang diakuinya sebagai cinta.

Aku mencintai segalanya tentang Kamu, tetapi hal yang paling pahit dari semua itu adalah, Aku tak tahu apakah itu perasaan yang umum bagi seorang lelaki lain di luar sana pada Kamu. Aku tak pernah tahu apakah Kamu mencintainya, apakah Kamu yang dipenuhi dengan seribu satu tantangan dan keajaiban itu bisa menerima cintanya yang lugu dan lebih sering bisu. Di hadapan Kamu, tak satupun kisah dalam hidupnya yang bisa diceritakannya dengan bangga. Pun tentang kedua orang tuanya yang kaya dan gaji terjamin oleh negara.

“Apa kau memiliki kekasih?” tanya Kamu suatu kali padanya.

Aku menelan ludah kelu. Kamu tak pernah tahu, sejak mengenal Kamu, Aku telah kehilangan minat terhadap cinta. Aku sudah lupa rasanya mencintai perempuan lain selain perasaannya pada Kamu. Pun perasaannya pada Dia yang sudah terlanjur terikat restu dan kesepakatan orang tua.

Aku menggeleng. “Aku sudah lupa, kapan terakhir jatuh cinta” jawabnya lugu.

Kamu terbahak-bahak mendengarnya. Gadis itu tertawa keras hingga tubuhnya terguncang dan matanya berair. “Berapa orang?” tanyanya di sela-sela tawa yang tersisa.

Aku menghitung, “Tiga”.

Kamu mengangguk. Tawanya sudah tak lagi menggebu. “Lumayan” katanya. “Aku mencintai beberapa lelaki, namun hanya satu yang benar-benar peduli padaku”

“Lalu?”

“Kandas” kata Kamu mengangkat bahu.

“Kebodohan?” Aku bertanya lugu.

“Mungkin. Orang ketiga” jawabnya lebih ringan, “Dari pihak dia”

Kamu bercerita betapa bodoh cinta yang datang padanya dengan suara yang datar. Aku  menghentikan permainan gitar, menyimak satu lagi keajaiban Kamu. Keteguhan hati Kamu. Sama sekali ia tidak berpikir kehidupan Kamu yang sedemikian sepi.

Meski mungkin Kamu tidak mencintainya, tapi Aku merasa sangat cemburu mendengar cerita tentang lelaki itu. Aku mengepalkan tangannya geram. Aku ingin menonjok lelaki yang telah mengkhianati dan menyakiti Kamu. Aku menenangkan diri dan kembali memainkan gitar dengan nada sembarang.

“Ia masih menyayangimu?” Aku bertanya gusar.

“Ia mengatakan ingin memulai segalanya dari awal, namun aku sudah tidak berminat dengan cinta yang seperti itu” kata Kamu mengakhiri pembicaraan, “Untuk apa?” Kamu tertawa kecil.

Aku ingin mendekap dan memeluk Kamu saat itu juga. Perempuan itu begitu tegar melewati segalanya. Dengan mudah saja ia mengatakan semua luka seolah ia tidak membutuhkan cinta atau lelaki manapun dalam hidupnya. Aku semakin tidak tahu cara yang tepat untuk mengutarakan cinta pada Kamu. Perempuan itu memiliki benteng tinggi untuk dirinya sendiri. Satu-satunya hal yang bisa dilakukannya adalah menatap mata Kamu yang indah dan membaca segalanya di sana.

            Aku tak bisa begitu saja membunuh Kamu, karena Kamu terlalu ajaib baginya. Bagi Aku, Kamu adalah segalanya. Ia seseorang yang selalu hidup di semua tempat. Kamu hadir di setiap buku yang dibacanya, dalam setiap lagu yang dinyanyikan, dalam lagu yang dimainkannya. Kamu selalu ia temukan di setiap mata polos bayi-bayi, dan Kamu pun tinggal di setiap dada orang-orang di sekelilingnya. Sulit bagi Aku untuk membunuhnya. Kamu telah hidup dalam diri Aku, dalam tubuh lelaki itu.

Aku sudah mulai putus asa. Aku tak menemukan cara yang tepat untuk mencintai Kamu, untuk mengungkapkan perasaan. Maka Aku membiarkan dirinya menerima cinta Dia. Perempuan itu tidak terlalu buruk baginya. Mereka berdua sama-sama butuh pelarian. Dia terlalu sering patah hati, sedangkan Aku belum pernah sepatah hari-hari itu, hari-hari di mana Aku harus memutuskan untuk benar-benar melupakan Kamu dalam hidupnya.

“Aku akan menikah” Kamu berkata padanya suatu hari, “…dengan lelaki itu”

            Aku tak sanggup menanggung perasaan itu seorang diri. Dia datang pada saat yang tepat, saat Aku patah oleh keputusan Kamu. Dia menawarkan manisnya cinta yang ditawarkan dalam setiap masakan yang dikirimkan ke kosnya setiap pagi. Dia mengantar ransum setiap pagi dan sore, hingga akhirnya Aku memutuskan untuk menikahi Dia.

*

Aku masih termangu di depan laptopnya. Layar masih kosong. Dia dan Kamu adalah dua tokoh perempuan yang tak bisa dibunuhnya. Ia menarik nafas perlahan. Dalam dan berat. Sesekali Aku memainkan asap rokoknya, membentuk bulatan awan atau donat. Aku hanya duduk termangu di depan monitor hingga jauh malam.

Aku akan menikah dengan Dia, dan Kamu akan hadir di sana sebagai kawan. Alangkah rumitnya perasaan itu. Kamu tak pernah menikah dengan lelaki itu.

“Lelaki itu hanya membutuhkan dirinya sendiri untuk dicintai dan dinikahi” kata Kamu saat itu. Seperti biasa, Kamu tidak menangis dan tidak pula menganggapnya sebagai beban.

Tak ada jalan keluar yang bisa diciptakan Aku selain dengan membunuh salah satu di antaranya. Aku tak tahu siapa yang harus ia bunuh terlebih dahulu. Aku harus membunuh Kamu supaya Kamu tak hidup lagi dalam hidupnya. Atau Aku harus membunuh Dia karena cinta Dia akan berlahan-lahan membunuh jiwa Aku yang telah lama mati. Sebelum semua itu terjadi, Aku berharap dirinya mati terbunuh dalam kisah pelik ini.

Aku menutup laptop, menyalakan lagi sebatang rokok. Mereka bertiga akan mati dengan caranya sendiri, katanya pelan. Berlahan-lahan ia tersenyum. Aku tak perlu membunuh siapapun.

 Akhir Februari 2017-Oktober 2019

Facebook Comments

About the author

mm
KARISMA FAHMI Y

Karisma Fahmi Y, lahir di kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Esai, cerpen dan puisi-puisinya pernah dimuat di majalah Kalpadruma, harian Solopos, harian Joglosemar, majalah Papirus, tabloid Cempaka, Nova, majalah Pesona, harian Suara Merdeka, Majalah Sastra Horison, Pikiran Rakyat, Koran Tempo, Majalah Budaya Sagang, Buletin Sastra Pawon, Joglo. Puisi, esai dan cerpennya tergabung dalam sejumlah antologi. Tinggal di Solo. Buku terbarunya adalah “Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian” diterbitkan oleh penerbit Basabasi, dan satu cerpennya ada dalam buku Antologi Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2016.

mm By KARISMA FAHMI Y