Menu

Mode Gelap
Api Prometheus I Cerpen – Aldi Rijansah Puisi Ngadi Nugroho Asmara yang Tidak Diakali Waktu Puisi Maulidan Rahman Siregar Puisi Ilham Wahyudi

Puisi · 27 Sep 2025 19:10 WIB ·

Puisi Rio Fitra SY


 Edvard Munch, The Lonely Ones, 1935 Perbesar

Edvard Munch, The Lonely Ones, 1935

CARA MENCEGAH BERAKHIRNYA CINTA

Aku menyayangimu meskipun aku miskin.
Tidak ada yang keren dalam kemiskinan,
meski puisi bisa membuatnya menjadi indah.

Puisi pernah menjadi alasanmu memilihku,
tapi puisiku telah lama membelah dirinya sendiri
menjadi pajak-pajak yang hitam manis.

Aku mencintaimu walau kau tak mau kupeluk.
Pelukan tidak selalu mampu menahan kepergian.
Pelukan tidak lagi sanggup menghangatkan hati yang dingin.
Pelukan tidak selalu seperti dalam film-film layar lebar.

Mungkin aku telah lalai menyayangimu
dalam hal-hal yang tidak pernah kita miliki.
Cinta berevolusi hari demi hari.
Yang bisa berubah maka akan berubah.
Aku tidak bisa mencegah apapun lagi.
Kita hanya perlu menunda cinta ini berakhir sehari lagi.
Sehari lagi. Sehari lagi. Sampai hari-hari mati.

ALASAN LAIN MENCINTAIMU

Telah kucari di tahun-tahun pelajaran
sekolah. Nampak benar seperti kehilangan.

Aku cari di sela-sela gelas-gelas pajang
yang penakut, di sela-sela keterusterangan.

Aku cari di jalan menuju rumahmu,
di jalan kecil yang menyesatkanku.
Seperti tak ada.

Telah kucari alasan lain mencintaimu.
Ternyata hanya ada satu alasan.
Tak ada yang lain.

CINTA DAN REMPAH

Di pasar yang sorak-sorai
aku teringat suaramu
seperti cengkeh yang meniup angin
membawa hangat-pedas aroma udara.
Para pedagang berteriak,
menawarkan cinta dalam setiap bumbu.

INSULINDE

Peta di meja
Basah
Rute patroli
Terpotong sekaki

Orang-orang
Pulang
ke Kapel Ursulin

Bedak pada lesung pipimu
Dan gincu
Dari kamp itu

Dengarlah
Suara radio
Penuh debu
Rumah
Hanya semacam
remah
Di meja makan

Pulanglah
Hindia telah lain
Rumah kontrakan
Terjangkau
Di pulau
Yang tak pernah
kau kenal

Aku tak yakin
Siapa di antara kita
Yang harus mengucapkan
Selamat jalan

SLUB

Keindahan seringkali datang dari ketidakaturan.
Kekeliruan masa lalu, cintaku yang kerap telat waktu,
Dan luka-lukamu yang menolak sembuh,
Adalah sisi lain yang ingin kau baca sebagai puisi.
Bekas luka adalah benang-benang yang luput dari tenunan.
Ia mencuat di permukaan menjadi taburan bintang
Dalam sebentang kain.
Keindahan seringkali muncul dari kesalahan seperti itu
Seperti nada dalam puisi ini yang kerap menghindari rima.
Keindahahan seringkali muncul dari hal-hal seperti itu.

Rio Fitra SY, lahir dan tumbuh di Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Sehari-hari bekerja menjahit. Saat ini tinggal di Bogor.

Artikel ini telah dibaca 295 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Puisi Galih Santoso

8 February 2026 - 23:22 WIB

WikiArt.org

Puisi Fahrullah

11 January 2026 - 03:01 WIB

Puisi Hafifah Harahap

4 January 2026 - 20:53 WIB

wikiart.org

Puisi Yusuf Idin Adhar

30 November 2025 - 08:07 WIB

Rene Portocerrero, Dancers via wikiArt.org

Puisi M.K. Gotansyah

25 November 2025 - 00:27 WIB

Helena Almeida, Voar, via WikiArt.org

Puisi Cyprianus Bitin Berek

9 November 2025 - 04:01 WIB

Dymntro Kasvan, Am I Susanna, via WikiArt.org
Trending di Puisi