Menu

Mode Gelap
Api Prometheus I Cerpen – Aldi Rijansah Naik Becak Denganmu – SAJAK-SAJAK NGADI NUGROHO Asmara yang Tidak Diakali Waktu Tutorial Mengubah Nasib – SAJAK-SAJAK MAULIDAN RAHMAN SIREGAR Bila Ia Tertidur – Sajak-sajak Ilham Wahyudi

Cerpen · 24 Dec 2023 09:32 WIB ·

Lampu Itu Belum Padam – Cerpen Mahrus Prihany


 Lampu Itu Belum Padam – Cerpen Mahrus Prihany Perbesar

Rapi’ah memperbaiki kembali posisi sumbu lampu yang hampir padam itu. Ia dorong sumbunya dengan menggunakan tusukan dari kayu agar lebih panjang ke atas. Sebentar-sebentar ia harus melakukan itu agar lampu tetap menyala.

Minyak tanah di dalam botol lampu memang tersisa sangat sedikit sementara persediaan memang telah habis, dan Rapi’ah juga harus berhemat. Selain harganya mahal, minyak tanah sekarang susah didapat. Itu sungguh berbeda saat Rapi’ah masih kecil, betapa mudahnya mendapatkan minyak tanah. Itulah ia harus tetap meneruskan pekerjaannya malam ini juga sebelum lampu itu benar-benar padam. Besok ia bisa membeli minyak tanah di pasar.

Sebenarnya bisa saja Rapi’ah menggunakan lilin, tapi entah kenapa Rapi’ah merasa lebih senang dan akrab dengan minyak tanah dan lampu botol atau kaleng. Semua itu mengingatkan Rapi’ah pada masa kecilnya, masa di mana listrik belum terpasang di desa. Serasa ada semangat lain ketika ia menuangkan minyak tanah ke dalam botol kecil itu. Rapi’ah menatap jam dinding, telah tengah malam, sebentar lagi penanggalan akan berganti. Rapi’ah mempercepat gerakan tangannya.

“Sudah larut malam. Belum selesai pekerjaanmu, Rapi’ah?” Terdengar suara emak dari pintu masuk menuju dapur. Emak sepertinya terbangun dari tidur.

“Satu jam lagi mungkin selesai, Mak.”

“Tidurlah, jangan terlalu lelah. Biar Emak yang gantikan.”

“Tanggung, Mak. Tidak apa. Emak tidur lagi saja.” Emak belum juga beranjak, ia menatap Rapi’ah penuh iba dan juga tanda tanya.

Perempuan yang usianya telah kepala enam itu memang sering memendam rasa heran pada anaknya yang kini telah berusia kepala empat lebih. Sejak Rapi’ah kembali ke kampung dari perantauannya sekitar satu tahun lalu, emak memang tidak pernah bertanya banyak pada Rapi’ah meski dadanya penuh dengan begitu banyak hal yang mengganjal. Emak coba tahan karena tak ingin makin membebani pikiran Rapi’ah yang sepertinya memang sedang menyembunyikan dan menanggung beban berat.

“Lampunya hampir padam, Rapi’ah. Mungkin minyaknya telah habis. Jadi lebih baik kautidur,” lanjut emak.

“Lampunya belum padam kok, Mak.” Emak tahu jika perkataannya itu pasti tak dihiraukan Rapi’ah.

Esok adalah hari Rabu, hari pasar Kampung Subik. Rapi’ah pasti akan lembur menyelesaikan pekerjaannya. Malam Rabu memang malam yang paling sibuk bagi anaknya tersebut meski pada malam-malam lainnya, Rapi’ah juga tak kalah sibuk. Esok ia bisa menjual habis barang dagangannya dan hasil penjualan bisa digunakan membeli banyak kebutuhan rumah selain sebagian ditabung. Para pembeli bukan saja dari kampung ini, tapi juga dari kampung-kampung lain. Bahkan biasanya pembeli dari kampung luar itu telah melakukan pemesanan terlebih dahulu.

Sesaat setelah tubuh emak menuju kamar, Rapi’ah meneruskan kembali pekerjaannya. Ia dekatkan ujung plastik yang telah ia lipat sedikit ke arah nyala lampu agar terbakar dan menutup rapat. Ada beberapa ukuran kantung plastik; seperempat, setengah, dan satu kilogram, namun yang paling banyak adalah plastik yang berukuran seperempat kilogram. Sebelumnya ia telah memasukkan keripik singkong goreng dengan tiga macam rasa; asin, pedas, dan tawar ke dalam kantung plastik-plastik tersebut. Ia mengerjakannya sendiri sedari pagi, dari mulai mengolah, membumbui, hingga menggorengnya. Rapi’ah melarang tubuh ringkih emak untuk membantu pekerjaannya.

***

Rapi’ah memang tak pernah membayangkan jika putaran nasibnya akan menjadi seperti ini. Tapi sungguh ia belajar menerima semua kenyataan hidupnya. Ia bisa belajar banyak dari itu dalam setahun terakhir ini. Pada minggu-minggu atau satu bulan pertama saja ia merasa sangat berat bahkan seperti tak kuat lagi menanggungnya. Ingin rasanya menceritakan semua itu pada emaknya. Tapi bukankah karena alasan kesehatan emak itu ia kembali ke kampung. Itulah kenapa ia pendam sendiri semua. Akhirnya Rapi’ah merasa mampu melewati itu, melewati masa sulit dan kritis. Meski hidupnya belum sepenuhnya baik, tapi setidaknya ia telah mampu membuat keadaan dirinya juga kesehatan emak membaik.

Pagi hari setelah berbenah rumah, Rapi’ah pergi ke kebun. Tanah itu dulu seperti belukar sebelum Rapi’ah membereskannya, suatu pekerjaan yang tak pernah terbayangkan olehnya meski ia terlahir sebagai anak petani tulen. Ingin menangis rasanya ketika itu, tapi ia tahan meski akhirnya tumpah juga air matanya. Untunglah tak ada orang melihat saat ia menyeka dan mengeringkan air matanya. Bayangkan, Rapi’ah harus membabat habis rumput-rumput liar yang telah tumbuh tinggi dan lebat di atas tanah itu. Begitu juga setelahnya, dari mulai tanam, mencabut, membawa pulang dengan gerobak dorong, mengupas, mengiris, dan menggoreng, kemudian membungkusnya menjadi makanan, hingga memasarkan produk itu di pasar, warung-warung, dan desa-desa sekitarnya.

Emak tak boleh melihat air matanya tumpah. Ia selalu tersenyum di depan emak saat kembali dari ladang dengan keringat yang bercucuran di parasnya hingga membasahi sekujur tubuhnya itu. Rapi’ah telah tanami tanah warisan ayahnya yang bisa dibilang lumayan luas itu dengan singkong yang kemudian diolah menjadi keripik. Setengah tahun pertama lebih, tentu ia belum mendapatkan hasil dari semua itu. Untuk bertahan hidup dan menghidupi emaknya, ia menjual perhiasan seperti cincin, kalung, dan gelang emasnya. Untunglah ia masih sempat menyimpan dan menyelamatkan semua perhiasan itu dari suaminya.

“Ini ada kiriman uang dari Mas Yudin, Mak,” begitulah Rapi’ah berbohong pada ibunya setiap bulan. Tiga bulan sekali, Rapi’ah pun meminta Yudin, suaminya, untuk pulang kampung. Semua ia lakukan agar emak menganggap rumah tangganya baik-baik saja. Rapi’ah sungguh tak ingin kesehatan emak makin terganggu karena memikirkan dirinya dan keluarganya. Betapa ia ingin menyenangkan emak pada masa tuanya. Tak apa ia harus menjual simpanan perhiasannya, toh sekarang ia sedang bangkit dan mencari penghidupan lagi di kampung.

Tiga tahun lalu bapaknya Rapi’ah meninggal dunia. Setelah itu kesehatan emak sering menurun sementara ia tinggal sendirian di kampung. Dulu saat bapak masih hidup, Rapi’ah pernah meminta bapak dan emak tinggal di kota bersamanya. Yudin, suami Rapi’ah, juga tidak keberatan. Emak bersedia, tapi bapak menolak keras karena lebih betah tinggal di kampung dibanding di ibu kota yang terasa sumpek. Dulu bapak dan emak pernah mengunjunginya di kota, dan bapak hanya betah menginap satu atau dua malam. Rapi’ah bisa memaklumi penolakan bapaknya. Ia rajin mengirim uang bulanan pada orangtuanya karena ia tahu berapa pendapatan bapak sebagai seorang penggarap ladang dan sawah milik orang sambil mengurus ladang beberapa bidang milik sendiri.

Beberapa waktu setelah bapak meninggal, emak sebenarnya bersedia ikut Rapi’ah tinggal di kota walau merasa terpaksa. Bagi emak lebih baik tinggal bersama anak dan cucunya daripada sendirian di kampung. Tapi sungguh yang jadi masalah adalah, kondisi ekonomi Rapi’ah dan keluarganya dalam keadaan terpuruk, benar-benar hancur. Mobil dan sepeda motor milik mereka bahkan telah dijual untuk mencukupi kebutuhan. Selain pandemi menghantam – walau sebenarnya Rapi’ah masih bisa bertahan – namun penyebab utama kebangkrutan tersebut adalah kecerobohan atau kebodohan suami Rapi’ah.

Yudin tergiur buaian seseorang hingga ia menginvestasikan uang dalam jumlah besar. Yudin ditipu orang. Rapi’ah kala itu telah memperingatkan suaminya. Bahkan sempat terjadi pertengkaran hebat di antara mereka. Bagi Rapi’ah, hanyalah kerja keras jika seseorang ingin menjadi kaya. Tak ada yang instan. Modal usaha mereka habis, sementara usaha katering makanan mereka yang sebelumnya telah berkembang pesat juga terhantam pandemi.

Ia sungguh susah lagi untuk bangkit walau masih mampu sekadar bertahan hidup karena pada kenyataannya, semua seperti kembali normal meski diberlakukan pembatasan oleh pemerintah untuk mencegah penularan Covid-19. Setelah itu, sikap suami Rapi’ah cenderung temperamental untuk suatu urusan kecil sekalipun. Rapi’ah selalu mengalah, itulah yang membuat rumah tangganya yang dulu harmonis berubah bagai neraka. Rapi’ah sendiri tak pernah mencoba mengungkit atau menyalahkan Yudin karena keceobohannya.

Rapi’ah lalu minta izin pada Yudin untuk pulang kampung. Ia bisa menggunakan alasan kesehatan emak untuk pulang dan emak tak perlu ikut dengan mereka di ibu kota. Meski awalnya Yudin menanggapi penuh emosi namun Rapi’ah bisa memberi pengertian dengan lembut.

“Biar Rapi’ah yang pulang temani Emak. Emak tahu bahwa kondisi ibu kota dan negeri kita sedang tak baik,” jawab Rapi’ah pada emak ketika itu. Di benak Rapi’ah juga telah terpikir untuk mengolah tanah yang tak terurus di kampung. Di pikirannya, tanah itu adalah aset besar, sungguh sayang jika tersia-sia. Tanah milik bapaknya di kampung itulah yang bisa menyelamatkan dan membangkitkan harapan hidupnya dan keluarga.

“Bang Yudin jangan pikirkan kami. Tak perlu mengirim uang padaku dan emak. Fokus pada kebutuhan Abang sendiri dan anak-anak ya. Semoga keadaan segera membaik kembali. Bang Yudin bisa menggunakan sepeda motor kita yang satu lagi untuk narik ojol.” Itulah hari di mana Rapi’ah memulai hidup barunya. Ia tak ingin emak tahu akan keadaan dirinya dan keluarganya. Yudin masih bisa menengoknya meski justru saat lebaran tak bisa mudik. Untunglah dua anak Rapi’ah sudah cukup besar dan mengerti kondisi yang terjadi.

Bagi Rapi’ah ini memang kesempatan baik yang bisa ia gunakan untuk memulai usaha di kampung. Ia justru melihat peluang itu meski sadar, tenaga yang dikerahkan akan berlimpah, seperti sapi yang bekerja tak sudah-sudah. Ia harus sungguh-sungguh siap lelah. Satu hal lain yang harus Rapi’ah pikirkan adalah kondisi batin emak. Sebagai orang kampung, emak dulu sering membanggakan Rapi’ah di depan warga dengan mengatakan dan menceritakan keberhasilan Rapi’ah. Rapi’ah memang harus memikirkan itu agar emak juga tak merasa kecil hati di depan orang-orang. Kampung Rapi’ah tentu berbeda jauh dengan ibu kota, banyak kabar dan berita begitu mudah tersebar di kampung ini. Tapi Rapi’ah telah merasa mampu mengatasinya. Baginya itu bukan soal besar.

Apa kata orang-orang jika mereka melihat Rapi’ah harus banting tulang di kebun laiknya lelaki. Rapi’ah yang selalu tampil rapi, Rapi’ah yang dulu tak pernah ke kebun, Rapi’ah yang sukses di kota, Rapi’ah yang sering dibanggakan ibunya, kini menanam singkong dan mengolahnya lalu menjualnya di pasar dan warung-warung. Semuanya dilakukan sendiri tanpa suami dan anak. “Pastilah terjadi sesuatu antara Rapi’ah dengan suaminya?”

Semua itu makin menyemangati Rapi’ah bekerja. Banyak orang tak peduli proses, tapi melihat hasil. Itulah kenapa semangat Rapi’ah terbakar, ia harus berhasil. Pada hari biasa, Rapi’ah juga memasarkan keripiknya lewat group WA warga kampungnya. Sungguh ponsel di tangannya itu begitu membantu. Rapi’ah sudah merancang strategi untuk melakukan ekspansi pasar yang lebih luas. Ia juga mulai mengembangkan aneka rasa produk keripik singkongya.

Ternyata kondisi Yudin di ibu kota tak juga membaik. Menurut Rapi’ah, itu bukan karena tak ada kesempatan atau peluang. Ia melihat semangat juang suaminya telah menurun. Kondisi mental suaminya telah terhantam juga. Rapi’ah paham betul itu. Ia tak bisa berharap lagi akan itu. Dulu saat kondisi ekonomi mereka jaya, adalah Rapi’ah juga yang banyak mengatur semua urusan pekerjaan. Dengan bekal pengalaman itu pula, Rapi’ah yakin bisa memulainya kembali di kampung. Sungguh, Rapi’ah kini memang sudah sangat siap dengan jalan nasibnya.

Rapi’ah mendorong sumbu lampu agar tak padam. Ia sebenarnya bisa menggunakan kompor gas, namun tentu sayang sekali jika menggunakan nyala api kompor yang lebar dan memutar itu hanya untuk merapatkan ujung-ujung kantung plastik. Rapi’ah sungguh makin bersemangat meneruskan pekerjaannya. Semakin banyak keripik singkong yang ia bungkus ke dalam plastik, terasa semangat hidupnya makin menyala. Semakin hari beranjak malam, serasa nasibnya jauh dari kelam. Dan Rapi’ah merasa telah mencapai puncak saat melihat lampu itu benar-benar padam.***

 

Mahrus Prihany, lahir di Peninjauan, Lampung Utara, pada 17 April 1977. Meluluskan studi di Akademi Bahasa Asing Yogyakarta (ABAYO) dan jurusan Komunikasi Penyiaran Islam STAI Publisistik Thawalib, Jakarta. Bergiat di Komunitas Sastra Indonesia (KSI), kepala sekretariat Lembaga Literasi Indonesia (LLI), dan sebagai Redpel di portal sastra Litera.co.id.

Artikel ini telah dibaca 125 kali

Baca Lainnya

Buya Kawin Lagi – Cerpen Yoga Mestika

16 February 2024 - 01:23 WIB

Siasat – Cerpen Windy Shelia Azhar

6 February 2024 - 04:50 WIB

Yngwie Malmsteen dalam Sumur – Cerpen Ridwan Hasan Pantu

9 January 2024 - 01:17 WIB

OPERA DAN JANJI SEMUSIM – Cerpen Unzila Rohmah

3 December 2023 - 13:05 WIB

QAYEN – Cerpen Panji Pratama

19 November 2023 - 16:19 WIB

Dia dengan Segala Ke-ISEKAI-annya – Cerpen Zuijink Yash

14 November 2023 - 04:50 WIB

Trending di Cerpen