Menu

Mode Gelap
Api Prometheus I Cerpen – Aldi Rijansah Naik Becak Denganmu – SAJAK-SAJAK NGADI NUGROHO Asmara yang Tidak Diakali Waktu Tutorial Mengubah Nasib – SAJAK-SAJAK MAULIDAN RAHMAN SIREGAR Bila Ia Tertidur – Sajak-sajak Ilham Wahyudi

Puisi · 24 Dec 2023 10:06 WIB ·

Di Wajahmu – SAJAK SAJAK MAULIDAN RAHMAN SIREGAR


 Di Wajahmu – SAJAK SAJAK MAULIDAN RAHMAN SIREGAR Perbesar

Udang di Balik Bakwan

udang di balik bakwan tak pernah tahu, koruptor atau wakil rakyat mana, yang akan melumatnya. udang di balik bakwan tak bisa lekas gegas sembunyi, sebab, gigi-gigi akan senantiasa memburunya, segegas laju kota.

udang di balik bakwan pun juga tak bisa kembali ke laut, sebab, doa baik abang gorengan mematahkan kakinya,

anak si Abang mau sekolah tinggi, dan mau jadi koruptor, melanjutkan budaya kita?

2018

di rumah sakit

 

di rumah sakit, ibu hamil ngangkang

lakinya di kirinya, bakapnya kanan

eh, bapaknya

 

si ibu hamil tadi menonton yutub

cara merawat bayi

aku, di depan mereka, kaget

karena dalam ngangkangnya ibu

saya melihat seorang anak,

lucu, seperti si bapak

 

di bangku antrian

dekat handphone-handphone diisi ulang

dua pasang binatang pacaran

kepala si jantan, rebah

di selangkang tuan putri

dan, saya, bertanya kepada Tuhan

di mana sih, letak rasa humor?

 

saya ingin menangkap anak si ibu hamil

dan dua ekor binatang yang pacaran itu,

ke dalam kamera, dan mengunggahnya

di instagram, tapi saya takut, selamanya

di rumah sakit

 

2019

Melihat Api Berjenggot

 

Takbir yang kau teriaki

Dan keringat dinginmu di panas terik

Dan sendal teman yang kau pijak

Dan seruan ganti presiden

Dan tukang mizon yang tak kau dengar

Dan tukang es yang tak kau bayar

Dan Tuhanmu yang jauh, dan Tuhanmu yang jauh

Dan Tuhanmu yang ditulis dengan tanpa awalan kapital

Dan doa kepada Tuhanmu dengan aamiin yang kurang harkat

Dan aamiin yang entah sampai

Dan aamiinmu yang kau sebut ketika mengunyah permen karet

Dan aamiin temanmu, dan aamiin teman temanmu, dan amiin amiin yang cuma di hati.

 

Demi apa pun itu, yang ada dan menumpang di jenggotmu. Yang kulihat hanya api, semata api.

Di situ kah, artis dangdut seksi kesayanganmu kau sembunyikan?

 

Mei, 2018

Di wajahmu

 

Di wajahmu, kulihat majalah sastra

Yang tanggal kulitnya

Telanjang-telanjang dia menyusun

huruf yang berserak dari puisi.

Kau sudah tak menulis lagi?

 

2018

Di Situ

 

Aku melihat sungai di senyummu

Dan seorang ibu, cuci baju di situ

Ke tepinya sedikit

Di sungging kumis tipismu

Seorang peziarah tengah berdoa,

“semoga sampai semua semoga”

Naik ke atas, di tempat kau punya mata

Ada seorang presiden sedang masuk tivi di situ

Bicara soal bagaimana negara harusnya

Bicara bagaiamana rakyat bisa makan

Selebihnya, cahaya saja di situ

Kilau dan bahaya!

Memanjat ke atas, aku sampai di ubun-ubun.

Aku yang sembunyi di situ

Hingga kutahu, shampo apa yang kau pakai

Dan caramu membuka baju, ketika harus mandi

Bosan di atas, kuturun ke dada

Entahlah, kenapa kau begitu fasih menyebut namaku. Ada debar di situ. Kencangnya seperti kencangnya Muhammad menemui langit.

Masih, masih ada aku di situ

 

2018

Genit

 

Dari balik cadar-Mu

kau sembunyikan alam raya

kau sembunyikan surga

juga neraka-neraka

yang kau beri sedikit cuma

agama-agama yang harus

tua bersama kami, harus

mati bersama kami.

apalah kami, gudangnya celaka

banyak kali meminta

istri cantik, anak pintar,  mobil-mobil

pun, kuota internet yang murah

lagi meriah

apalah kami, ka-Mu semua

ka-Mu segala

tak bolehkah kami menumpang hidup

di kaki-Mu yang kuat, kokoh, terpercaya?

 

2018

Di Hadapan Buku Puisi Jelek yang Sudah Berkali-kali Kau Cari Pengetahuan Di Dalamnya, yang Kau Temukan Hanya Ketidaktahuan yang Maha, dan Kau Baca Lagi, dan Kau Baca Terus.

 

Demi jutaan pasang mata

Dan angka-angka menuju saku-saku

Sampaikan salam kami pada buku-buku puisi yang jelek.

 

Maaf kami banyak-banyak

 

Sebab, demi halaman ke halaman

Yang kami dapat cuma

Kegetiran dan kegetiran

Semacam kau sedang menahan kentut

Dalam diskusi yang dipimpin bos kesayangan

 

2018

 

Maulidan Rahman Siregar, kolektor kotak rokok.

Artikel ini telah dibaca 73 kali

Baca Lainnya

LELAKI DI PADANG PASIR – Sajak-sajak Ahmad Rizki

16 February 2024 - 01:14 WIB

Echo Flow melanjutkan Eksistensinya dengan Track berjudul ‘Di Balik Tirai’ OST Film “SIA?”

9 January 2024 - 01:23 WIB

Impian Kecil di Jendela – SAJAK-SAJAK SAFARI MAULIDI

9 January 2024 - 01:13 WIB

KUR PENGGIRING KEMATIAN – SAJAK-SAJAK DION RAHMAT PRASETIAWAN

3 December 2023 - 13:13 WIB

Hujan 1 – SAJAK-SAJAK SOLEHUDDIN ZAIN

19 November 2023 - 17:40 WIB

BERBAHAGIALAH – SAJAK-SAJAK MARISA PRIMA PUTRI

14 November 2023 - 05:18 WIB

Trending di Puisi