MENEROKA DUNIA KURA-KURA BERJANGGUT



Judul                : Kura-kura Berjanggut
Penulis             : Azhari Aiyub
Penyunting     : Yusi Avianto Pareanom
Penerbit          : Banana
Cetakan          : Pertama, April 2018
Tebal               : 14 x 20,5 cm, 960 halaman
ISBN               : 978-979-1079-64-8

Setelah satu dasawarsa mengasingkan diri di hutan belantara, Zarathustra mengukuhkan eksistensinya sebagai Übermensch seraya mendengungkan rentetan sabda agung, yang mana salah satu yang paling masyhur dan paling dikenang adalah petuahnya ihwal kematian Tuhan. Peristiwa itu tertulis dengan rapi sebagai karya fiksi dalam buku Also Sprach Zarathustra karya Nietszche yang digarap sekitar tahun 1883 hingga 1885. Namun untuk tahun ini, di tengah realita dunia kita yang dipenuhi dengan karut-marut politik dan kebanalan intelektual, ada satu simile nyata yang nyaris menyamai kebijaksanaan Zarathustra tersebut, yakni bangkitnya Azhari Aiyub dari hibernasi panjang dengan membawa sebuah magnum opus yang diberi judul Kura-kura Berjanggut.

Dalam ranah kesusastraan Indonesia, Azhari Aiyub bukanlah nama yang asing. Melalui kumpulan cerita pendek Perempuan Pala (AKY, 2004; Mojok, 2015), kita bisa menyaksikan keajaiban diksi serta tipikal gaya kepenulisannya yang bikin iri dan sakit hati. Seperti belaian sihir yang membuai benak kewarasan, cerpen-cerpen Azhari mampu menuntun pembaca menuju dunia niskala yang dia ciptakan sendiri melalui sentuhan bahasa yang subtil. Salah satu contohnya adalah cerpen yang bertajuk Perihal Abdoel Gaffar dan Si Ujud yang ternyata menjadi salah satu judul bab dari buku Kura-kura Berjanggut tersebut.

Seperti yang diakui sendiri oleh Azhari, proses penulisan Kura-kura Berjanggut sudah dimulai sejak pertengahan tahun 2006. Dalam rentang waktu 12 tahun penggarapannya, selain Perihal Abdoel Gaffar dan Si Ujud, beberapa nukilannya yang lain juga sempat dipublikasikan di media massa dengan judul-judul seperti Hamzah dari Fansur, Hikayat Kura-kura Berjanggut, dan Pengantar Singkat untuk Rencana Pembunuhan Sultan Nurruddin. Bahkan dua yang disebutkan terakhir terpilih untuk dimasukkan ke dalam antologi cerpen terbaik Anugerah Sastra Pena Kencana untuk tahun 2008 dan 2009. Bertolak dari tilas kegemilangan tersebut, kiranya untuk sementara waktu sudah cukuplah bukti yang saya sodorkan bahwa novel tersebut adalah salah satu karya yang sangat rugi jika tidak dibaca di kehidupan kita yang cuma sekali ini.

Barangkali, setelah novel Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer, belum lagi ada seorang sastrawan Indonesia pun yang nekat menulis novel lebih dari 700 halaman. Namun dengan segala kejutan yang telah dipersiapkan secara matang, Azhari datang membawa harta karun berharga yang dikais dari sisa tidur panjangnya selama bertahun-tahun, yakni sebuah novel dengan panjang 960 halaman. Meskipun keseluruhan latar dalam novel ini terjadi di Aceh, yang berkitar antara penghujung abad ke-16 hingga permulaan abad ke-21, akan tetapi untuk menikmati keluwesan kisah yang disajikan, kita tidak perlu bersikap berlebihan dengan memposisikan diri sebagai seorang antropolog atau sejarawan yang mesti tahu segalanya. Cukup posisikan diri sebagai seorang pembaca, lalu biarkan lembaran-lembaran novel ini menuturkan kisahnya sendiri sehingga secara tak terduga pada akhirnya kita juga akan memahami segala rahasia yang perlahan kian tersibak. Selain itu, kompleksitas alur dan perwatakan yang kuat adalah segelintir daya tarik yang bena dan memaksa kita agar segera menuntaskannya seraya duduk tenang menikmati waktu luang tanpa harus merasa menjadi makhluk yang sia-sia.

Secara keseluruhan, alur novel Kura-kura Berjanggut tersusun secara unlinier dengan rentetan waktu yang acak dan terbagi ke dalam empat bagian utama, yakni 1)  Buku Si Ujud; 2) Buku Harian Tobias Fuller: Para Pembunuh Lamuri; 3) Lubang Cacing, dan; 4) Catatan Bantaqiah Woyla.

Lebih dari 2/3 isi novel ini ada di bagian pertama, yakni di bagian Buku Si Ujud, yang berkisah tentang avontur menakjubkan Si Ujub dan kehidupannya di Istana Darud Dunya yang tidak terlepas dari pengkhianatan, tipu muslihat dan berbagai macam kejutan lainnya. Bagian kedua, sebagaimana tajuknya, disampaikan melalui buku harian milik seorang dokter jiwa terkemuka Hindia Belanda yang bernama Tobias Fuller. Kedatangan Tobias ke Lamuri bertujuan untuk menyelidiki pembunuhan orang kulit putih yang dilakukan oleh orang pribumi dalam kurun waktu 1913-1917. Dia memulai buku hariannya dari tanggal 3 Mei 1914 dan berakhir secara misterius pada tanggal 1 Oktober 1915. Bagian ketiga, Lubang Cacing—istilah yang berasal dari Jean Claude, salah satu tokoh dalam buku ini—terdiri dari beberapa subjudul berupa teks bebas yang seolah-olah berdiri sendiri, namun bagian ini bisa dikatakan sebagai alur pelengkap dari apa yang tidak diceritakan pada dua bagian sebelumnya. Dan yang paling bontot adalah Catatan Bantaqiah Woyla yang menjadi konklusi dari keseluruhan kisah kompleks dan adiluhung yang terjalin apik dengan akhir yang menarik. Selain keempat bagian tersebut, ada satu bagian lagi yang tidak bisa dilupakan, yaitu glosari yang menjadi penuntun kita untuk memahami hal-hal yang tidak dimengerti selama proses pembacaan. Tidak seperti glosari pada umumnya, cara Azhari menjelaskan kata-kata yang rumit tersebut sungguh sangat rinci sehingga beberapa bagian bahkan menciptakan alur cerita tersendiri—yang mau tak mau mengingatkan kita pada gaya menulis maksimalis ala mendiang David Foster Wallace dalam novel Infinite Jest.

Setelah mendarasnya selama satu pekan lebih empat hari, saya berkesimpulan memang bukanlah pernyataan yang lebay jika ada yang mengatakan bahwa buku ini menyamai apa yang telah dicapai oleh Pram—sebagaimana yang ditulis oleh Linda Christanty dalam status Facebooknya; dan Bernard Batubara dalam cuitan Twitternya—bahkan lebih malah. Tentu hal itu adalah penilaian subjektif yang saya dapat dari pengalaman pribadi sebagai seorang pembaca.

Dari segi keterkaitannya dengan pendekatan sejarah: jika ada satu karya yang menjadi antitesis yang patut disandingkan dengan Kura-kura Berjanggut, maka itu adalah novel Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi karya Yusi Avianto Pareanom. Jika di dalam Raden Mandasia kita bisa menemukan dekonstruksi sejarah yang cukup kental dengan disertai berbagai macam anakronisme tingkat tinggi sehingga menjadikan berbagai peristiwa nyata tampak seperti dongeng (misal: alusi yang mengacu kepada munculnya Einstein dan Nabi Yunus dalam satu masa yang sama; atau rentang waktu yang tidak masuk akal antara wabah kematian hitam di Eropa dan penulisan Babad Tanah Jawi), maka dalam Kura-kura Berjanggut dengan mudahnya kita akan menangkap adanya upaya rekonstruksi sejarah sehingga peristiwa fiksi tampak seolah-olah nyata, yang pada akhirnya membuat kita skeptis apakah itu benar terjadi atau hanya sekadar imajinasi (misal: pencantuman tahun dan deskripsi tempat yang sangat akurat; serta adanya foto hasil potretan H.M Neeb yang mengabadikan genosida tahun 1904 yang dilakukan pasukan KNIL atas komando Letkol Van Daelen terhadap etnis Gayo-Alas di Kuta Reh).

Terlepas dari segala nilai lebih yang menjadikan novel Kura-kura Berjanggut tersebut pantas dilakabkan sebagai salah satu karya puncak dalam sejarah kesusastraan Indonesia, tentu saja ada beberapa kekurangan kecil dan nyaris luput dari perhatian kita, namun bisa menimbulkan kerancuan, seperti banyaknya tipo yang bercamuran di setiap lembarnya. Sebagai contoh yang paling fatal ada di bagian daftar isi, yang mana bab akhir dalam Buku Si Ujud ditulis ada di halaman 675, akan tetapi bab awal dari Buku Harian Tobias Fuller yang seharusnya ada di halaman 677, malah ada di halaman 671 (mari kita berdoa: semoga dalam cetakan selanjutnya, Paman Yusi (maksudnya Yusi Avianto Pareanom, redaksi.) bisa lebih teliti lagi dalam menyunting ulang naskahnya). Namun hal itu tentu dapat kita maklumi mengingat ketebalan buku ini yang nyaris menyamai sejilid ensiklopedia sehingga noda-noda sekecil itu tidak akan mungkin merisak keseluruhan isinya yang menjanjikan kepuasan.

Satu hal lagi, yang menjadikan buku ini sangat pantas untuk dikoleksi adalah keunikan dan keindahan desain sampulnya yang bisa membuat kita menjura takzim kepada si perancang: Teguh Sabit. Selebihnya saya akan mengutarakan sebuah saran yang tidak main-main: jika Anda ingin menulis novel tentang Aceh dan jatuh-bangun peradabannya, maka tulislah apa yang belum ditulis oleh Azhari Aiyub dalam novel Kura-kura Berjanggut!

Facebook Comments

About the author

mm
NANDA WINAR SAGITA

NANDA WINAR SAGITA, Pengajar sejarah yang mengagumi Radiohead dan segala hal yang berkaitan dengan posmodernisme. Tulisannya tersebar di berbagai media, dan salah satu cerpennya, Lelaki Tanpa Dosa, masuk ke dalam antologi Cerpen Eksperimental Penerbit Basabasi 2018.

mm By NANDA WINAR SAGITA