Ketika Kau Mendengar


Kau mungkin tetap bisa berpikir ketika membaca, sementara ruangan di mana kau duduk berisi suara-suara yang melebihi kapasitas telingamu mampu mendengar dengan jelas. Tetapi hal yang sama sangat sulit untuk bisa kau lakukan ketika menulis, meskipun seandainya sepasang telingamu telah tersumpal dengan alat peredam suara dari luar, sehingga kau hanya mendengarkan satu suara yang berasal dari lagu-lagu atau percakapan lain dari radio di ponselmu.

Pagi itu kau memutuskan untuk mengunjungi perpustakaan daerah di Kota K dengan sepenuh keyakinan mengerjakan banyak hal yang telah kau rencanakan di luar kepala. Sebelum matahari membuka matanya, kau telah lebih dulu melangkahkan kaki untuk berlari menyusuri jalan di antara kebun, lalu persawahan, hingga kau menemui pasar yang mulai bergerak dengan aktivitas orang-orang di sekitarnya; penjual gandos, risoles, getuk, buah-buahan, sayur-mayur, ayam, lauk-pauk, es cendol, klepon, bubur kacang hijau, bubur ayam, kue leker, dll. Kau memutuskan untuk membeli semangkuk bubur ayam, beberapa bungkus klepon, risoles, dan kue leker.

Di perpustakaan, kau memilih tempat duduk dekat jendela hingga sesekali bisa kau saksikan atap-atap bangunan lain dan langit yang menampilkan sapuan tipis awan-awan. Benar-benar di luar dugaan bahwa pagi itu perpustakaan daerah kota K kedatangan tamu. Anak-anak TK yang jumlahnya barangkali lebih tiga puluh, dengan dua orang guru pendamping. Kau cukup tahu, anak-anak seringkali ingin banyak bertanya. Antusias yang tentu saja membuat petugas perpustakaan dan guru-guru mereka bahagia. Setidaknya untuk saat itu. Kau juga. Diam-diam tersenyum menyaksikan keramah-tamahan keramaian itu.

Kemudian kau memutuskan untuk membuka laptop, buku catatan yang sejauh ini selalu kau bawa ke mana pun kau pergi, sementara tanganmu mencoret-coret sesuatu di buku itu, seperti sedang menyusun konsep. Suara-suara berebut masuk ke telingamu, semakin lama, kau tak bisa mengendalikan manakah suara yang lebih penting untuk didengar dan manakah suara yang harus kau biarkan sebagai angin lewat. Pada akhirnya yang tersisa hanyalah suara-suara tidak jelas yang seluruhnya harus kau buang. Kau tidak tahan ingin memaki, tapi di perpustakaan tidak boleh membuat keributan. Tapi mereka?

***

Kau menggeleng seraya memastikan bahwa anak-anak itu layak bertanya dan berisik karena sedang semangat-semangatnya belajar mengenal. Sementara kau sudah cukup dewasa dan telah tahu melebihi mereka.

Dulu ketika kau masih seusia mereka, kau juga begitu. Satu hal yang paling kau ingat, kau pernah bertanya pada ibumu, apakah langit itu lunak atau kah padat, sementara ibumu pada mulanya hanya tersenyum dan cukup gemas mengacak-acak rambutmu, kemudian menjawab, “Langit itu jauh, Nak. Jauh sekali. Kau tak cukup bisa menjangkaunya meski telah mengendarai pesawat terbang. Meski kau lihat burung-burung terbang di hamparan birunya langit, juga putih awan-awan, kau tetap tidak akan mampu menyentuh langit.”

Ibumu, tentu saja senang kau bertanya. Ia kemudian memelukmu, erat. Dan kau merasa senang mendapat pelukan seperti itu.

“Jadi, apakah langit itu hanya berisi udara? Udara ada, tapi kita tidak bisa menyentuhnya.”

“Kau ingin es krim? Atau balon?”

“Tidak, Bu.”

“Gulali, permen, cokelat, atau rambut nenek?”

Kau menyukai rambut nenek tidak seperti ketika kau mendengar ibumu menyebutnya pertama kali. Pada saat itu, di kepalamu membayangkan bahwa rambut nenek adalah sekumpulan rambut nenekmu yang telah berwarna putih, yang telah tercerabut dari kulit kepala setelah berkali-kali disisir setelah mandi, atau setelah bangun tidur ketika nenekmu membetulkan ikatan gelungan rambutnya. Kau merasa ngeri, pada mulanya. Tapi selanjutnya kau tahu bahwa rambut nenek adalah juga sejenis gulali yang terbuat dari gula dengan bentuk menyerupai helai-helai rambut.

“Pada mulanya helai-helai yang menyerupai rambut itu adalah gula yang dipanaskan dengan air hingga membentuk karamel. Karamel itu selanjutnya dicampur dengan tepung, diuleni seperti saat sedang membuat adonan mi. Begitu terus sampai adonan menjadi tipis hingga menyeruapi helai-helai rambut. Dan untuk menarik perhatian, biasanya adonan diberi pewarna.”

Kemudian ibumu mengajakmu ke sebuah rumah yang pemiliknya lihai membuat jajanan rambut nenek. Pertama kali mencobanya, kau sudah melupakan bayangan buruk tentang rambut nenek yang menakutkan. Di hari lain dan lainnya lagi, kau berkali-kali mengajak ibumu untuk membelikanmu rambut nenek. Tetapi kini makanan itu telah langka, meskipun tidak hilang sama sekali. Kau bisa menemukannya di waktu-waktu tertentu saja, semisal ketika mendekati lebaran, orang-orang mengemasnya dalam toples untuk dijadikan makanan suguhan di meja tamu.

Tetapi saat itu kau tidak sedang ingin jajan apa pun yang ditawarkan ibumu. Kau hanya ingin tahu tentang langit. Dan kau tahu bahwa ibumu hanya sedang mengalihkan perhatian agar kau tak lagi banyak bertanya—kini kau tahu bahwa pertanyaan yang pernah kau lontarkan pada ibumu tak benar-benar kau tahu jawabannya. Apakah langit itu padat, atau hanya udara. Atau sebenarnya langit itu tidak ada karena memang tak memiliki tepi, atau langit adalah penyusun seluruh alam semesta—sehingga kau memilih pura-pura tidak peduli dengan ibumu dan memilih pergi ke dalam rumah untuk menonton televisi.

Ibumu yang tahu telah menduga kau marah menyusulmu ke dalam, mencoba merayu.

“Apa kau marah dengan ibu?”

Kau hanya menggeleng dengan mulutmu tetap tidak mengatakan apa pun. Lalu ibumu memelukmu karena tahu kau suka dipeluk.

“Tidak semua pertanyaan memiliki jawaban, atau setidaknya tidak memerlukannya. Kadang kita hanya perlu tahu sesuatu untuk sekadar tahu. Semisal Tuhan itu ada, meski kau tak melihat wujudnya. Kita hanya perlu meyakininya.”

“Tapi seharusnya Ibu bisa mengarang jawaban seperti dalam sebuah dongeng. Seperti dongeng yang menceritakan tentang hujan.”

“Oh ya? Dongeng seperti apa? Ibu ingin sekali mendengarnya.”

Di antara surga dan dunia, terdapat tempat bernama Negeri Awan. Sebelum naik ke surga, mereka akan tinggal sampai terlupakan oleh keluarganya. Ibu penguin mengintip ke bawah dunia melalui lubang awan dan dia menangis setiap hari. Saat musim hujan dimulai satu tahun kemudian, ibu penguin diam-diam melompat menaiki kereta hujan. Kereta itu berhenti di stasiun kecil. Mendadak, dia mendengar tangisan bayi penguin. Dia berlari mencari, lalu menemukan bayi penguin dalam balutan jas kuning tengah menangis. Kemudian ibu penguin memeluk bayi penguin itu dengan erat. Mendadak, terjadilah keajaiban.

            Ibu dan bayi penguin selalu bersama dan tidak terpisahkan. Mereka bermain bersama. Sang ibu penguin mengajari bayinya memancing, dan mereka bersenang-senang bersama. Tidak lama musim hujan hampir selesai. Peri hujan dari Negeri Awan datang berbisik pada ibu penguin, “JIka kau melewatkan kereta hujan terakhir, kau tak akan bisa lagi kembali ke Negeri Awan dan tak bisa melihat bayimu lagi dari celah-celah awan.”

            Ibu penguin sangat sedih mendengarnya, namun ia tak ingin menangis. Sang bayi penguin juga tersenyum pada ibunya, kemudian mereka saling berpelukan dan  mengucapkan salam perpisahan disertai dengan senyuman. Ibu penguin kembali ke Negeri Awan dan melihat bayinya setiap hari, namun ia tak lagi menangis.[1]

“Itu sungguh dongeng tentang hujan yang mengharukan.”

“Kupikir juga begitu, Bu. Barangkali Ibu juga bisa mendongeng sebagus itu tentang langit, aku akan menunggunya.”

“Kau beri waktu Ibu berapa hari?”

“Satu hari? Tiga hari? Atau satu minggu?”

“Biar Ibu pikirkan nanti.”

“Mengapa langit tidak selalu berwarna biru?”

“Karena langit memiliki peri-peri yang bertugas mengganti cat warna langit. Juga membuat bentuk-bentuk lucu seperti bintang dengan warna emas. Mereka mengguntingi bintang tanpa merasa lelah. Kadang-kadang melukis pelangi dengan warna-warna.”

“Agar apa?”

“Agar manusia tak mudah bosan.”

“Apakah manusia selalu mudah bosan, Bu?”

“Sepertinya begitu.”

Kesadaranmu kembali ketika kau mendengar keributan bahkan ketika sepasang telingamu telah dijejali dengan lagu-lagu dari ponselmu, kau memilih untuk menyerah dan melepaskan penyumbat telinga itu. Kau telah mencatat sepotong masa kecilmu.

Pada akhirnya kau memutuskan untuk mengambil sebuah buku secara acak dari rak di dekatmu. Tentu saja kau menyukai buku-buku fiksi. Kau suka dongeng. Kau menyukai hal-hal yang berbau keajaiban. Dongeng begitu dekat dengan masa kecilmu. Mulai dari cerita-cerita nenek, lalu ibumu.

Ketika kau mendengar, mungkin memang kau hanya harus mendengar tanpa memikirkan apa-apa, seperti halnya ibumu yang pernah bilang bahwa tak semua pertanyaan memerlukan jawaban. Tidak lama, kau memutuskan untuk menyudahi aktivitasmu hari ini. Kau menata buku-buku, laptop, ponsel, dan benda-benda lain yang menyertaimu. Kali ini kau menangkap masa kecilmu tersebab kau mendengar kepingan pertanyaan anak TK yang berkunjung ke perpustakaan daerah Kota K. Kau tersenyum, lalu berjalan menuruni tangga menuju lantai dasar. Anak-anak itu sebagian ada di sana, sementara sebagian yang lain masih ada di lantai dua.

Tiba-tiba kau ingat sesuatu. Pagi tadi di hari yang masih hening, kau berteriak di hadapan kura-kura yang begitu lamban bergerak—di tanganmu. Ia hanyalah binatang yang gemar berjalan tanpa punya ambisi. Aku ingin memakanmu! Tentu saja kura-kura itu hanya diam, kecuali kaki-kakinya yang bergerak, juga kepalanya. Ia tentu tidak bersuara layaknya manusia.

“Apa kau tak dengar wahai kura-kura? Aku ingin memakanmu!”

Suara itu berulang-ulang dan penuh pengharapan. Kura-kura itu tentu mendengar, dan barangkali memang harus mendengar tanpa melakukan apa-apa selain hanya mendengar kau mendengar suaramu sendiri.

[1] Dikutip dari pembuka film Korea Be With You yang diadaptasi dari novel  Takuji Icikawa: Ima, Ai ni Yukimasu (2003).

Facebook Comments

About the author

mm
FINA LANAHDIANA

Fina Lanahdiana, lahir 19 Februari 1992. Menulis puisi dan cerpen. Saat ini tinggal di Kendal, Jawa Tengah.

mm By FINA LANAHDIANA