Menu

Mode Gelap
Api Prometheus I Cerpen – Aldi Rijansah Puisi Ngadi Nugroho Asmara yang Tidak Diakali Waktu Puisi Maulidan Rahman Siregar Puisi Ilham Wahyudi

Puisi · 15 Feb 2026 22:09 WIB ·

Puisi Tjahjono Widarmanto


 Theodole Ribot, The Good Samaritan (1870) via WikiArt.org Perbesar

Theodole Ribot, The Good Samaritan (1870) via WikiArt.org

KITA TAK BISA PILIH PESTA

kita tak bisa pilih pesta!

waktu adalah kalkulator yang selalu berakhir
dengan hasil: 0
bilangan-bilangan lain melayang
aksara-aksara jadi bayang-bayang
kehilangan nabi dan penyair

nasib tak selalu berjalan dengan tertib
yang kekal hanya bilangan 0
dan lupa jadi karib
menemani berjaga tunggui uban
seperti enceng gondok dalam kolam lumpur

kita tak bisa pilih pesta
semuanya harus bergegas pergi
menuju hutan pohon yang seperti hantu
tersesat menuju ceruk hitam kelam

kita tak bisa pilih pesta!

MEMORIA

Berjalan balik dengan langkah tergesa
menjemput apa yang kutinggalkan
atau menuju yang meninggalkanku dengan isak air mata

kenangan adalah keranda tempat disimpan segala mantra
ruang hampa terseok-seok berjalan miring seperti kepiting
masa depan diketam oleh kebohongan dan harapan

aku terkepung
hilang napas punah tubuh
menjadi sekedar selimut dan bantal
alas segala mimpi muslihat

SULUK PENYAIR (1)

aksara demi aksara berderap antri datang dan pergi
seperti serdadu menggedor pintu medan perang
dalam sekejap nama-nama yang hidup
berluruhan larut dalam simbol-simbol
kadang seperti gulita yang buta atau
seterang cahaya petir menekan mimpi, hasrat dan pikiran

di luar sana, harapan-harapan disobek oleh kehampaan
: Jangan biarkan aksara-aksara itu khianat!

hari dan kalender menimbun ketakutan
merimbunkan ngeri dihantui putus asa
diancam uap malam yang durjana

kata-kata sekedar mengambang dalam botol
muram dikelilingi kematiannya sendiri
mati yang memanggil-manggil
sebab hidup terlampau lama bertopeng
bopeng berselimut gincu dan parfum

Oktober, 2019

WAKTU YANG SURUT BISAKAH KEMBALI PASANG?

Frase-frase itu melipat kipasnya seperti waktu mengerut
sampai pada denyar debar terakhirnya
uap-uap peluh beraroma kemenyan

waktu yang surut bisakah kembali pasang?

masa silam apakah sudah bergegas pergi
atau sekedar bertandang untuk kembali
dengan membawa kitab ramalan?

ataukah waktu adalah sajak-sajak yang belum jadi?
atau ia gelembung lembut yang pelan-pelan pecah
lantas sirna menuju lorong petang.

BERMULA DARI CIUM BIBIRMU

tanpa mantera bara itu membakar
bermula dari cium bibirmu

siapapun aku tersipu dan tersedu
saat mendengar muasal tuhan ciptakan cinta

semula langit itu memintanya
mencucup bianglala dan senja

rindu akan mekar selalu, pun di batu
kuncup batu akan merebak bara

jadi api atau telur ababil

bara tak selamanya memerah
didekap detak arloji bisa jadi putih pasi

bara memang bermula dari cium bibir
tapi tak selamanya pandai mendesahkan rayu

maka siapa yang mati?
siapa pula yang mimpi cahaya?

yang mati tak mampu bermimpi
yang mimpi tak sanggup mati

bara itu bisa terbawa mimpi
bibir itu bisa hanyut ke palung mati.

2019

TANAH

tersimpan genap yang gelap
Nuh yang tua itu pun rindu
pada mengur aroma pesisir

setiap pagi di buritan kapal
melambai-lambai pada bayang-bayangnya

Oktober, 2019

JALAN LAIN

langkahku berhenti di kelokkan ini

jalan lain: mungkin jalan sesat atau jalan suci

ada gema langkah-langkah penyair
terlalu renta untuk setia menapak jalan itu.

jalan lain: mungkin jalan sesat atau jalan suci
tak ada yang nyata selain kabut samar.

2019

SAYAP

merindukan sepasang sayap
untuk meninjau kuil-kuil berkilau

membuka pintunya satu-satu
berharap ada telaga di pelatarannya

: biarkan aku menyelam di dasarnya
membasuh sayap dan menghitung
batu-batu gaib di dasarnya

dasar yang dalam, sedalam restu doa ibu
kinanti yang dulu kudengar saat tembangkan nubuat

sayap basah bibir ranum
lantunkan kidung-kidung hayat

2019

KEBUN KATA

“kata adalah kebun, di pangkuannya bersemi benih
harapan sekaligus khianat, juga cinta yang dusta!”

kata-kata menjalarkan akarnya mencari pusar
yang konon disingitkan semesta
saling gamit dan menunjuk segala teka-teki dan ramalan

ah, bisakah kata berbenih dalam tubuhku
sakral seperti sabda para nabi atau suluk mantra para resi?

oh, kata-kata yang disabda!
ah, kata-kata yang dinujum!

warna-warna cahaya sekaligus senja menuju buta
memburuku menekan pikiran-pikiran bergelayut
di punggung dan tulang belakang ngalir dalam sum sum
membuat tubuh gemetar dan gigi-gigi goyah
mengejar takjub dan ngeri yang seperti hantu
berderap di frase dan larik-larik

2019

PENYAIR TINTAMU HABIS

Penyair, tintamu habis untuk menulis tapi puisi-puisi tak terbaca
tak ada api di puisimu, tak ada yang sanggup membakar tanpa akhir
tak ada air di puisimu, tak ada sumur yang lunaskan dahaga
tak ada batu di puisimu, tak mungkin jadi candi atau menara untuk mengintai langit

penyair, matamu cemas tak sanggup menafsir dan menaksir bahasa
yang mengeras jadi fosil seperti lelaki tua bongkok yang disesatkan
ke dalam rimbun etalase-etalase yang rumit, resah dan berjejal-jejal

penyair, puisimu telah jadi tali gantungan menjerat lehermu
bagai narapidana putus`asa dieksekusi mati

Tjahjono Widarmanto, lahir di Ngawi, Jawa Timur. Sastrawan dan akademikus. Namanya dikenal melalui karya-karyanya berupa puisi, esai, dan cerpen yang dipublikasikan di berbagai surat kabar dan majalah di antaranya Horison, Basis, Koran Tempo, Media Indonesia, Jawa Pos, Koran Sindo, Kedaulatan Rakyat, Litera, Pikiran Rakyat, dsb. Puisi-puisinya pun terhimpun di berbagai antologi.

Artikel ini telah dibaca 36 kali

Baca Lainnya

Puisi Galih Santoso

8 February 2026 - 23:22 WIB

WikiArt.org

Puisi Fahrullah

11 January 2026 - 03:01 WIB

Puisi Hafifah Harahap

4 January 2026 - 20:53 WIB

wikiart.org

Puisi Yusuf Idin Adhar

30 November 2025 - 08:07 WIB

Rene Portocerrero, Dancers via wikiArt.org

Puisi M.K. Gotansyah

25 November 2025 - 00:27 WIB

Helena Almeida, Voar, via WikiArt.org

Puisi Cyprianus Bitin Berek

9 November 2025 - 04:01 WIB

Dymntro Kasvan, Am I Susanna, via WikiArt.org
Trending di Puisi