Menu

Mode Gelap
Api Prometheus I Cerpen – Aldi Rijansah Puisi Ngadi Nugroho Asmara yang Tidak Diakali Waktu Puisi Maulidan Rahman Siregar Puisi Ilham Wahyudi

Cerpen · 15 Feb 2026 22:13 WIB ·

Ikut Tetangga


 Victor Borisov Musatov, The Pool (1902) via WikiArt.org Perbesar

Victor Borisov Musatov, The Pool (1902) via WikiArt.org

Panggil saja keluarga Saptono, keluarga yang baru menikah satu bulan. Istri Saptono, Sri adalah perempuan yang sangat terobsesi dengan kehidupan kekinian. Di satu bulan pertama pernihan, Saptono begitu kualahan atas sikap istrinya. Meskipun demikian, Saptono ingin menunjukkan bahwa ia adalah suami yang baik bagi si Sri. Alhasil Saptono selalu mampu menyenangkan hati Sri. Bukan perempuan namanya apabila hanya berhenti sampai di situ saja. Obsesinya tentang kehidupan kekinian kini membayangi Saptono. Bagaimana tidak Saptono tak pernah membayangkan kehidupan yang mentereng di keluarganya. Karena keluarga Saptono berasal dari desa, Saptono hanya membayangkan keluarganya memiliki kehidupan yang cukup, tentram, dan selamat. Saptono adalah seorang yang masih memegang erat falsafah Jawa tersebut kini harus beradapan dengan si Sri yang memiliki pandangan modern.

Seperti pada umumnya, seorang suami harus dapat memimpin rumah tangga dengan baik. Namun berbeda dengan Saptono. Saptono sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk menjadi seorang suami. Semua keputusan yang diambil oleh Saptono selalu tak digubris oleh Sri. Sri mencoba merancang masa depan tanpa diskusi dengan Saptono. Permintaan pertama Sri kepada Saptono adalah ingin pindah rumah dari desa ke perumahan. Keinginan Sri lantas ditanggapi oleh Saptono dengan mengernyitkan mata.

“Mengapa harus pindah ke perumahan? Di sini kan sudah ada rumah dari almarhum bapak dan ibu, mengapa harus ribet pindah ke perumahan?

“Lhoo lhoo lhoo, kamu mau hidup terbelakang seperti warga di sini? Lihatlah tetangga kita hidupnya gitu-gitu saja. Tak ada kemajuan sekali dalam kehidupan mereka.”

“Sri istriku, belum tentu lho kita pindah rumah bisa setiap hari makan. Di desa itu enak meskipun tidak punya uang kita tak perlu khawatir tidak bisa makan. Semua tinggal ambil di alam”

“Makanya wajah Mas Saptono kayak alam” Sri sewot.

Dengan terpaksa Saptono harus menuruti keinginan istrinya. Mereka dengan segera mencari perumahan subsidi di tengah kota. Meskipun perumahan subsidi, sudah cukup membuat hati Sri sangat girang bukan kepayang. Setelah tinggal di perumahan beberapa bulan, wajah Sri kembali merengut seperti biasa. Entah apa yang ada di benak Sri.

“Sri, wajahmu akhir-akhir ini kok selalu ditekuk seperti itu? Bukannya kamu senang kita bisa pindah ke sini?

“Pindah ya pindah, tapi hati kamu kok pindah sekalian?”

“Pindah bagaimana maksudmu?”

“Lha itu mengapa kamu setiap malam ngopi di kafe sebelah setiap hari? Apa lagi di sana banyak cewek-cewek yang lebih muda dari pada aku?

“Bukannya kita juga masih muda?”

“Pokoknya aku mau pindah, aku yang memilih perumahannya”

Mendengar omelan dan keinginan Sri, Saptono hanya bisa mengelus dada. Perumahan subsidi yang ia kontrak selama satu tahun harus diikhlaskan lebih cepat. Ini adalah kekalahan kesekian kali dari Sri. Saptono berkomitmen kepada dirinya sendiri bahwa setelah berpindah rumah, Saptono akan lebih keras lagi kepada Sri.

Selang seminggu, Saptono telah pindah rumah atas pilihan sang istri. Meskipun tetap mengontrak di perumahan subsidi, lingkungan perumahan menurut Sri sudah sangat cocok untuknya, terlebih menghindari lingkungan yang disukai Saptono. Tetangga perumahan juga sangat menyukai kedatangan keluarga Saptono. Namun Saptono merasa aneh dengan tetangga sekitar. Sambutan mereka terkesan meremehkan dibanding dengan rasa suka. Akan tetapi kepolosoan Sri yang belum terbiasa suasana kota menganggapnya berbeda. Saptono dan Sri mulai membiasakan diri dengan lingkungan baru tersebut, terlebih Saptono. Saptono lingkungan baru ini adalah lingkungan yang paling diinginkan oleh istrinya. Kecintaan kepada istrinya membuat Saptono rela melakukan apapun yang diinginkan oleh sang istri meskipun tuduhan aneh-aneh kerap datang kepadanya.

Arung kehidupan pun dimulai. Orang-orang perumahan yang ditempati oleh Saptono dan istri memiliki kebiasaan yang sangat mengasyikkan bagi kebanyakan orang. Ajang kumpul tetangga di perumahan Bahagia Regency dijadikan sebagai aktivitas pamer satu sama lain. Mereka memamerkan pencapaian kehidupan prestisius satu sama lain mulai dari pembangunan rumah, kendaraan, bahkan persoalan dapur. Bagi Sri ini merupakan hal yang sangat memalukan untuknya. Pasalnya ia baru saja pindah dan belum memiliki apapun untuk dipamerkan. Dalam hal ini Saptono yang kerepotan mendapat banyak keinginan seperti tetangganya. Untungnya Saptono adalah lelaki yang mapan. Meskipun ia tinggal di desa, Saptono merupakan pegawai muda pemerintahan yang berprestasi.

Kegatalan Sri mulai meningkat karena omongan tetangga. Sri mulai merengek ke Saptono setiap saat dan membuat Saptono pusing tujuh keliling. Sri memulai dengan cerita tetangga yang pamer membangun rumah.

“Mas Sapto, kapan kita bangun rumah kita? Aku kan juga ingin memiliki rumah seperti yang lainnya. Masak kita hanya ngontrak saja.”

“Kita seperti ini saja sudah bersyukur. Jangan kau ikuti tetanggamu itu.”

“Lho kita kan sudah menikah, sudah bersatu, kita harus berfikir maju. Masak kita harus ngontrak seumur hidup.”

“Iya..iya..iya besok biar aku ubah perjanjiannya kontraknya menjadi kredit rumah!”

Mendengar jawaban Saptono, Sri merasa girang. Sementara Saptono kembali befikir karena harus terus menuruti keinginan istri. Padahal Saptono juga sudah memikirkan masa depan keluarganya, hanya saja Saptono belum mengungkapkannya saja kepada sang istri. Akhirnya Saptono dengan besar hati menuruti keinginan istrinya.

Beberapa tahun kemudian akhirnya perumahan yang Saptono tinggali dengan istri telah terbeli ditambah renovasinya. Sri begitu berseri-seri. Sri sangat percaya diri ketika para tetangga kumpul dan kembali saling memerkan pencapaian. Namun kali ini perkumpulan tersebut tak lagi membahas rumah. Mereka membahas kendaraan. Mereka saling memamerkan kendaraan baru hingga membuat wajah Sri Memerah.

“Mas Sapto, aku ingin Vespa Matic!”

“Kamu ini kenapa to? Kita itu baru merampungkan urusan rumah, sekarang minta motor, biarkan aku mengambil nafas sebentar”

“Mas Sapto, masih untung lho aku minta motor, dari pada aku minta mobil Ayla.”

“Aduh..!! apa bedanya Vespa Matic dan mobil Ayla? Harganya sama Sri Mulyanti…harganya  sama-sama 60 Juta!”

“Mas, kendaraan itu penting lho. Masak yang punya kendaraan hanya Mas Sapto saja, aku kan juga ingin punyak kendaraan. Masak aku juga harus naik C70 Mas Sapto, Sudah Jadul Mas. Masak kendaraan jalannya seperti delman.

Saptono pun sadar. Dia harus tidak boleh kalah lagi dengan sang istri. Dia harus mengambil keputusan tegas sebagai suami.

“Tidak!! Kali ini aku tidak ingin menuruti kemauanmu!”

“Ouh begitu, katanya sayang istri. Katanya ingin membahagiakanku.”

Saptono kembali tertunduk lesu. Ia telah kalah lagi. Kecintaan telah membuat ia tidak berdaya. Dunia Saptono terlalu tercurahkan untuk Sri Mulyanti. Saptono merasa luluh jika melihat istri tersenyum rekah.

Tak lama dari rayuan manis Si Sri, dua minggu kemudian Vespa Matic telah hadir di depan rumah. Walaupun dengan kredit, Saptono telah berhasil membuat senyuman Sri kembali rekah. Berat baginya tinggal di lingkungan yang percepatan kehidupannya begitu tinggi. Baru saja menikah sudah dituntut ini dan itu. Setelah Sri mendapatkan Vespa Matic yang diingini, hormon Sri meningkat tajam. Selang satu bulan Sri hamil. Sri seoalah memiliki nikmat yang bertumpuk. Setelah keinginannya memiliki Vespa Matic terpenuhi, Sri kini dianugerahi seorang anak. Saptono juga sangat merasa bersyukur dan berharap semoga keinginan yang selalu ada dibenak Sri akan hilang berganti dengan kepentingan anak.

Ternyata tidak. Sri kembali terpengaruh oleh tetangganya. Dengan dalih kepentingan anak, Sri meminta Saptono menyekolahkan Bagus di sekolah yang bonafit. Selama ini Bu Angel telah berhasil mengompori Sri untuk meminta yang aneh-aneh kepada suami dan Saptono kali ini tidak mau kecolongan lagi. Ia benar-benar telah lelah menuruti kemauan istrinya. Sri tidak paham dengan kondisi pekerjaan suami yang hanya seorang PNS golongan II.

“Mas Sapto, aku ingin Bagus disekolahkan di sekolah yang bonafit, yang paling bagus di kota ini”

“Mintamu kok ya aneh-aneh to Sri! Sudah sekolah di manapun itu sama saja, yang terpenting kita mampu mengarahkan Bagus dengan baik.”

“Lho justru kita memilihkankan sekolah yang bagus itu memperbesar peluang masa depan anak kita lebih cerah.”

“Semua itu tergantung anak kita Sri, jangan mendahului kehendak Tuhan, tidak baik!.”

“Tidak kok, aku cuman ikhtiar saja. Aku ingin bagus sekolah yang kurikulumnya Cambridge!”

“Halahh… halah…kurikulum apa itu. Kita itu memiliki bapak pendidikan yang sangat luar bisasa, Bapak Ki Hajar Dewantara. Kurang apa beliau dengan falsafah pendidikannya? Kita itu berbeda dengan Inggris, Amerika, dan negara lainnya, masak kita harus ikut-ikutan seperti negara lain, itu namanya kita tak punya jati diri.”

“terserah.” Singat padat dan jelas kata yang keluar dari mulut Sri.

Dengan penuh kesadaran, kelemahan, dan kekalahan, Sapto mengangkat bendera putih. Ia kini mendeklarasikan bahwa ia tak sanggup lagi melawan istrinya. Ia tak lagi mau berdebat dengan Sri. Saptono memilih menjaga rumah tangganya dengan menuruti segala keinginan Sri. Namun suatu ketika Sri kini menjadi sangat pendiam. Padahal segala sesuatu yang Sri inginkan selalu terpenuhi oleh Saptono. Saptono pun heran dengan Sri, mengapa istrinya menjadi pendiam. Saptono mencoba menganalisa apa yang sedang Sri pikirkan. Setelah lama Saptono menganalisa, Saptono tak kunjung menadapatkan jawabannya. Akhirnya dengan terpaksa Saptono bertanya kepada Sri.

“Sri Mulyanti istriku, akhir-akhir ini mengapa wajahmu menjadi pucat seperti itu?

“Ehh anu…anu Mas..”

“Anu apa? Jangan sungkan-sungkan. Kamu jadi tak seperti biasanya.”

“Eee itu Mas, Bu Angel akhir-akhir ini sakit, dan siang tadi meninggal dunia!”

“Ouh Bu Angel yang gaya hidupnya yang selalu kamu ikuti itu?” (*)

Abi Utomo  lahir di Jombang. 22 Mei 1997, tepatnya di sebuah desa sederhana Dusun Kemodo Utara Rt 003 Rw 002 , Desa Dukuhmojo. Aktif  berkesenian di Kelompok Alief Mojoagung  sebuah kelompok teater di Jombang. Abi juga aktif menulis puisi, cerpen, dan ulasan teater. Cerpen-cerpennya dimuat di Radar Jombang, Radar Kediri, dan Republika.

Artikel ini telah dibaca 49 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Tahun Baru Itu

8 February 2026 - 23:29 WIB

WikiArt.org

Dipenggal Malam

11 January 2026 - 03:46 WIB

Requiem

4 January 2026 - 20:14 WIB

wikiart.org

Satu Sesi Percakapan

30 November 2025 - 07:53 WIB

Emile Bernard, Breton Woman at Haystacks via WikiArt.org

Rani

25 November 2025 - 00:10 WIB

Jacob Lawrence, The Library, 1960, via WikiArt.org

Manusia Pohon Beringin

9 November 2025 - 04:05 WIB

WikiArt.org
Trending di Cerpen