Pilihan dalam Kemasan Saset
Aku memilih hidup ini
seperti memilih barang promo:
kecil,
murah,
dan tidak bisa dikembalikan.
Pahit?
Jelas.
Seperti kopi saset
yang fotonya tebal
isinya tipis
dan tetap kuminum
karena struknya sudah hilang.
Aku bertanggung jawab
atas semua pilihanku,
termasuk memilih percaya
bahwa kerja keras
bisa menebus segalanya
asal dicicil.
Setiap keputusan
datang dengan bunga,
denda,
dan pesan otomatis
yang menyapaku
lebih rajin dari doa.
Aku tidak menyalahkan negara.
Negara terlalu sibuk
mengurus grafik.
Aku juga tidak menyalahkan Tuhan,
Dia tidak menjual paket hidup
versi hemat.
Jadi aku menyalahkan diriku
secukupnya saja,
seperti menakar gula
yang tidak pernah cukup
untuk menutupi rasa pahit.
Hidup ini absurd,
iya.
Kita disuruh bersyukur
atas saset yang bocor
dan gelas yang retak,
asal masih bisa dipakai.
Kalau aku tetap berdiri,
bukan karena kuat,
tapi karena duduk
tidak pernah masuk anggaran.
Dan kalau suatu hari aku kalah,
itu juga pilihanku.
Aku akan mengakuinya
tanpa pidato,
tanpa spanduk,
sambil meremas saset kosong
yang sejak awal
sudah menjanjikan
lebih dari isinya.
Manual Hidup Versi Ekonomis
Aku hidup tanpa buku petunjuk.
Yang ada cuma
syarat dan ketentuan
berlaku selama persediaan masih ada.
Katanya sabar,
katanya ikhlas.
Tapi tidak ada kolom pengaduan
untuk perut kosong.
Aku mengikuti aturan
yang berubah tiap bulan,
sementara gajiku
tetap kecil
dan setia.
Kalau salah langkah,
itu kesalahanku.
Kalau sistemnya bengkok,
itu sudah biasa.
Diskon Besar-Besaran
Hidup sedang diskon.
Mimpi dipotong setengah,
waktu dipercepat,
tenaga dilebihkan.
Aku tergoda.
Siapa yang tidak?
Aku beli masa depan
pakai sisa keberanian,
lalu sadar
yang dikirim
hanya harapan kadaluarsa.
Etika Kerja
Aku diajari bekerja keras
sejak kecil,
tapi tidak diajari
cara berhenti lelah.
Katanya kerja itu ibadah.
Mungkin benar.
Tapi kenapa
yang selalu khusyuk
justru utang?
Aku tetap datang tepat waktu,
pulang membawa
kepala penuh
dan kantong kosong
yang sopan.
Doa Tanpa Paket Data
Aku berdoa singkat
karena kuota terbatas.
Tuhan,
kalau boleh memilih,
aku ingin hidup
yang tidak perlu dijelaskan
kepada penagih.
Aku tidak minta kaya,
cukup tidak panik
setiap ponsel bergetar.
Amin
yang sederhana,
seperti hidupku.
Prestasi
Prestasi terbesarku sejauh ini
adalah bertahan
tanpa piala,
tanpa foto bersama pejabat.
Aku lulus dari banyak hal:
lulus lapar,
lulus malu,
lulus pura-pura kuat.
Semua itu
tidak tercantum
di ijazah.
Catatan Kecil di Saku Celana
Aku menyimpan hidup
di saku celana:
kusut,
hangat,
dan sering tercecer.
Kalau jatuh,
aku ambil lagi.
Kalau robek,
aku pakai juga.
Aku tidak heroik.
Aku hanya tidak menyerah
karena menyerah
tidak pernah memberi kembalian.
Fahrullah biasa disapa Fahrul adalah penjaga lapak Perpustakaan Jalanan Baca Kami. Ia merawat buku-buku di trotoar, menyapa pembaca yang singgah, dan percaya pengetahuan harus dekat dengan kaki yang berjalan, bukan jauh di rak berdebu.








