Akhir-akhir ini kipas kamarku yang terpasang tergantung di langit-langit sering berdecit saat dinyalakan. Awalnya kukira itu suara tikus karena pertama kali berdecit saat malam hari. Kebetulan banyak tikus yang sering berkeliaran di halaman rumah tetanggaku, yang tepat bersebelahan dengan kamarku.
Halamannya agak kumuh, di sana terjejal barang-barang bekas yang tak pernah berkurang, semakin bertambah malah. Maka, hal yang wajar saat kukira tikus-tikus itu sudah muak hanya berkeliaran di halaman yang tanahnya banyak pecahan genting. Barangkali mereka sudah menemukan jalan tembus ke tempat lain.
Sampai akhirnya, aku baru tahu bahwa decitan itu bukan berasal dari tikus, tetapi dari kipas kamarku. Mungkin karena sudah tua. Kipas itu sudah ada di atas sana sejak aku empat tahun, tujuh belas tahun lalu. Bisa jadi penyangga yang membuatnya tetap tergantung di sana sudah berkarat atau lapuk atau dimakan rayap dan sebentar lagi akan jatuh.
Berkali-kali aku meminta Mama untuk mengganti kipas itu, dengan yang bekas pun tak apa. Atau setidaknya mengencangkan baut atau entah apalah agar kipas itu tidak menerorku tiap kali dinyalakan.
“Sabar ya, Kak. Pemasukan pas-pasan buat kebutuhan sehari-hari. Tidurnya buka jendela aja.” Itu salah satu perkataan Mama saat ia duduk di meja makan kecil kami sambil membuka lipstik baru—padahal Mama sudah punya banyak lipstik, aku tidak mengerti.
Lalu saat Mama terburu untuk tugas kerja di luar kota, yang kutahu sebenarnya Mama pergi bersama temannya, “Duh, nanti deh pas Mama pulang.”
Tapi kipas itu masih menempel di atas sana sampai berbulan-bulan. Aku selalu lelah dengan semua alasan Mama. Jika saja Mama memang peduli, setidaknya ia bisa menyempatkan sepuluh atau lima belas menit untuk memanggil tukang atau tetangga yang bisa membantu, lalu menyisihkan beberapa puluh ribu saja dari gajinya tiap bulan.
Di beberapa bulan pertama, aku kesulitan tidur karena rasa takut dan gerah. Tapi seiring waktu, aku lelah dengan rasa takut dan aku terbiasa mengipasi diri sendiri sampai ketiduran.
Bisa jadi kipas itu akan benar-benar jatuh suatu hari nanti, saat aku nyalakan dalam kecepatan paling tinggi, pada malam paling sunyi, ketika hatiku tidak takut akan apa pun.
Saat masih kecil, aku pernah menyaksikan kepala yang terpenggal karena kipas angin dalam film horor. Dulu aku selalu dibayang-bayangi ketakutan kepalaku akan terpenggal seperti itu. Kipas tuakulah yang kemudian mengingatkanku lagi pada ketakutan masa lalu itu. Ajaibnya, aku justru terbiasa dengan ketakutan itu.
Selalu terkungkung dalam rasa takut ternyata tidak membuatku mati, aku justru terbiasa dengannya, lalu hidup berdampingan dengan hal itu. Seiring berjalannya waktu, ketakutan itu menghilangkan rasa takut dalam diriku, tapi ketakutan itu tetap ada, tapi rasa takutku sudah tidak ada untuk membuatku tunduk di bawah ketakutan.
Aneh.
Pernah satu kali seorang temanku menyadari kalau kipas gantung itu berdecit terlalu parah. Di tiap putarannya bahkan membuat keseluruhan kipas bergoyang seperti gigi yang akan tanggal.
Begini katanya sambil melirik agak ngeri ke atas, “Kipas kamu ngga dibetulin? Kayanya rusak.”
Aku mengibaskan tangan. “Ngga, kok. Aman aja. Emang dari lama udah kaya begitu.”
“Aku nggak yakin, deh. Bahaya tau.”
Aku teringat lagi Mama yang selalu menunda-nunda masalah kipasku sampai setengah tahun. Jadi kujawab dengan menyiratkan rasa sedikit kesal, “Nanti coba aku bilang mamaku.”
Dalam hati, aku mengharapkan dua hal yang bertentangan. Aku ingin kipas itu selamanya aman di atas sana karena aku tak ingin mengalami kesakitan apa pun. Tapi aku juga ingin mengalami sesuatu yang membuat Mama bergerak.
Sampai suatu hari ketika fajar sudah di depan mata, aku berdiam diri menatap keluar jendela. Aku sudah lupa akan rasa takut. Dan di beberapa detik lalu pun aku seperti tidak pernah mengenal rasa takut, padahal sudah kutahu bahwa kipas itu sebentar lagi akan jatuh dan berputar ganas menebas apa pun yang berada di jalannya.
Oh, mungkin, tepatnya, yang kulihat adalah tubuhku yang terduduk menghadap jendela.
“Lihatlah, Ma.” Kesadaranku lenyap setelah menyatakan frasa itu.
Ninggit Khat, perempuan yang tak ingin disebut namanya. Tinggal di Jakarta.












