Sunyi Belenggu
Perempuankah sebagaimana lahir
Dia menjadi pilar atas manusia di bumi
Perempuankah sebagaimana hidup
Dia menjadi objek akan prilaku
Perempuankah sebagaimana mati
Dia menjadi kenangan tanpa peristiwa
Padahal dia hidup dengan penuh gairah
Namun hening menyertai hidupnya
Padahal dia hidup dengan penuh mimpi
Namun berhenti karena konstruksi sosial
Padahal dia hanya ingin bahagia
Namun belenggu menyertainya
Ia tak memohon dimuliakan,
hanya ingin diakui sebagai dirinya.
Ia tak meminta dipuja,
hanya ingin hidup tanpa prasangka.
Karena perempuan,…
bukan sekadar kata benda,
melainkan makna yang terus dicari.
Lekat
Kukecup…erat mataku tak berani menatap
Erat…dalam…lembut…
Tetap kau balas, dan tidak melepaskan pelukan
Basah… aku berhenti
Kau hanya tersenyum, namun pilu sekali
Tak apa… kau tepuk punggungku
Kepalaku seberat batu, hanya menunduk ke jengjang lehermu
Kuhirup aroma khasmu
Oi, waktunya makan siang! Teriak
Aku berdiri dan tersenyum dalam hati
Aaah, kerinduan itu… masih lekat
Hasrat
Menatap dalam mata itu
Suara hening… hanya hawa tubuhmu di dekapanku
Kubilang, puji aku karena bisa menahan diri
Kau puji.. kerja bagus menyebut namaku
Ting… notif pesan masuk
Kau duduk, melihat, menghela nafas
Aku lelah dengan ini, matamu sayu
Kutadahkan kedua tanganku, meminta rengkulan
Pelukan itu, kesedihan itu, menundukkan kepalaku ke lehermu
Haaah… kupecah hening dengan kata-kata
“aku bukan orang baik”
Kurengkul wajahmu hadapanku, kau hempas
Terjadi….
Bias
Aku dan kekuranganku
Aku dan hinaku
Aku dan dinginku
Aku dan biadabku
Hei… tak apa kau bilang
Di sini diam saja, tak usah bilang apapun..
Kau kujawab ketus… aku ingin sendiri
Menjauh, memohon, berakhir.
Hafifah Harahap, biasa dipanggil Pipa, manusia dengan pelik pikiran yang masih mencari makna di setiap kesempatan.








