Menu

Mode Gelap
Api Prometheus I Cerpen – Aldi Rijansah Puisi Ngadi Nugroho Asmara yang Tidak Diakali Waktu Puisi Maulidan Rahman Siregar Puisi Ilham Wahyudi

Cernak · 4 Jan 2026 18:45 WIB ·

Lazarus dan Seisi Kepalanya


 Ilustrasi: Rahmat Hidayat Perbesar

Ilustrasi: Rahmat Hidayat

“Surga dan neraka itu apa sih?” tanya Lazarus ketika tengah hari yang mulai panas. Sementara bapak dan ibunya sedang duduk di ruang tamu. Kedua orang tuanya saling bertukar senyum lantaran ucapan anaknya itu. Sudah genap satu minggu anaknya sekolah TK. Namun Lazarus sudah menanyakan tentang surga dan neraka.
“Surga itu tempatnya orang baik, Nak! Tempatnya indah sekali. Kalau neraka itu tempat yang sangat panas sekali, penuh dengan api dan binatang buas!” ucap bapaknya sambil menggendong tubuh mungil anaknya. Lalu diciumi pipinya yang kembung. Terlihat wajah Lazarus yang masih dihinggapi kebingungan.
“Yaudah Pak, hari minggu nanti kita jalan-jalan ke surga ya… Ibu jangan lupa bawa makanan yang banyak yaa… Lazarus takut lapar” kembali kedua orang tuanya melempar senyum kepada Lazarus.
“Surga itu berada jauhhhhhh… di atas sana, nantinya dihuni oleh orang-orang baik, makhluk yang masih hidup tidak bisa kesana,” ketus ibu Lazarus sambil mengacungkan tangan kanannya ke atas, “Yang terpenting sekarang Lazarus jangan jadi anak yang durhaka kepada orang tua ya, Nak! Biar nanti Lazarus bisa masuk surga yang indah itu. mau enggak masuk surga?” lanjutnya
“Mau sekali, Bu!” senyum merekah terpancar di bibir Lazarus.
Di meja makan sudah tersedia makanan-makanan kesukaan Lazarus. Siang itu matahari sangat terang sekali. Tak sedikitpun hujan turun meskipun sudah mau menapaki bulan Desember. Kemudian kedua orang tuanya menjelaskan kepada Lazarus tentang pertanyaan yang diajukannya tadi. Surga itu merupakan hadiah Tuhan bagi setiap mahluknya yang melakukan kebaikan. Tuhan juga sangat menyukai orang yang suka membantu saudaranya yang lagi kesusahan. Dan salah satu cara untuk menebar kebaikan yaitu dengan cara mencari ilmu sebanyak-banyaknya: sekolah yang rajin, belajar yang tekun, kemudian jangan malas ketika ada PR. Lazarus hanya mengangguk-anggukkan kepalanya ketika bapaknya menjelaskan. Terlihat di bola matanya, mata penuh keyakinan. Selain belajar juga harus melaksanakan kewajiban apa yang diperintahkan Tuhan. Intinya Lazarus harus menjadi orang baik. Jangan sombong apalagi jumawa.
Bermimpilah setinggi langit, dan tekunlah. Ketika Lazarus mempunyai mimpi, jalan satu-satunya untuk mencapai mimpi itu yaitu dengan jalan tekun. Apabila tidak mau tekun maka lupakan saja mimpi-mimpi itu. Dikehidupan apapun kita sebagai manusia jangan pernah menyerah meskipun puluhan hingga ratusan kali kegagalan menghinggapi. Bersabarlah karena semua telah diatur. Perbincangan saat makan siang itu menorehkan lukisan semangat dalam dada Lazarus.
“Aku harus jadi orang baik, biar masuk surga”. Bisik Hati Lazarus, bayangan akan keindahan surga menari-nari di kepalanya.
Setelah makan siang selesai kemudian Lazarus buru-buru mandi. Semenjak masuk sekolah ia tidak mau lagi dimandikan ibunya, alasannya karena sudah besar.
“Jangan lupa sikat gigi ya!” ucap Ibunya, sementara Lazarus berjalan menuju kamar mandi dengan handuk di pinggangnya. Selain area taman depan rumah, tempat yang paling disenangi Lazarus yaitu kamar mandi. Ia sering berlama-lama ketika mandi, bermain dengan gelembung-gelembung yang membuat hatinya senang. Jam dinding sudah menunjukkan jam satu siang, Lazarus belum juga keluar dari kamar mandi.
“Lazarus… cepat, Nak! Nanti terlambat loh” nada ibunya sedikit berteriak. Lazarus yang berada di kamar mandi buru-buru membasuh badannya yang penuh dengan busa.
Selain sekolah TK pada pagi hari, Lazarus juga didaftarkan sekolah Madrasah di siang hari, pulangnya sore hari. Setelah sepulang sekolah jam empat sore Lazarus punya waktu satu jam waktu senggang. Waktu satu jam itu digunakan Lazarus untuk membaca buku. Sehingga ia tergolong anak yang cerdas di sekolahnya, dan sering aktif ketika pelajaran di mulai.
Di rumahnya Lazarus mempunyai koleksi buku yang banyak sekali. Bapaknya sering memberikan hadiah buku pada Lazarus. Setiap hari ia sering melihat Bapaknya duduk di perpustakaan pribadinya, awalnya ia tidak berminat ke perpustakaan bapaknya itu. tapi lama-kelamaan Lazarus tertarik akan jajaran buku yang rapi. Berwarna-warni pula. Dari hal itulah minat bacanya muncul. Setiap hari ia selalu menyempatkan diri membaca. Lazarus sadar dengan membaca ia akan tau banyak hal.
Dan ketika jam menunjukkan pukul lima sore, waktu membacanya berakhir. Kemudian lanjut bersiap-siap pergi mengaji di langgar tak jauh dari tempat ia tinggalnya. Setiap hari Lazarus selalu meyempatkan membaca dan mengasah dirinya untuk menjadi anak yang baik. Dan juga agar cita-citanya jalan-jalan ke surga bisa tercapai nantinya.(*)

Fahrus Refendi, berasal dari Pamekasaan dan merupakan Mahasiswa Bahasa & Sastra Indonesia Universitas Madura.

Artikel ini telah dibaca 39 kali

Baca Lainnya

Misi Edo untuk Merayakan Hari Ibu

7 July 2025 - 14:27 WIB

WikiArt.org

Enaknya Menikmati Kembuay

31 December 2024 - 17:54 WIB

Zine Ramah Anak

23 December 2024 - 02:58 WIB

Cerita dari Candi Borobudur

15 December 2024 - 20:34 WIB

Ilustrasi: Rahmat Hidayat

Mukena Pemberian Ibu

24 November 2024 - 01:34 WIB

Ilustrasi: Rahmat Hidayat

Andai Probolinggo Jadi Ibukota

17 November 2024 - 21:19 WIB

Trending di Cernak