Menu

Mode Gelap
Api Prometheus I Cerpen – Aldi Rijansah Puisi Ngadi Nugroho Asmara yang Tidak Diakali Waktu Puisi Maulidan Rahman Siregar Puisi Ilham Wahyudi

Cerpen · 30 Nov 2025 07:53 WIB ·

Satu Sesi Percakapan


 Emile Bernard, Breton Woman at Haystacks via WikiArt.org Perbesar

Emile Bernard, Breton Woman at Haystacks via WikiArt.org

Saat umurku lima, pemikiran mengenai kehidupan dan kematian adalah perkara yang sulit untuk dipahami, dan aku pun yakin bahwa teman-teman sebayaku juga tak akan begitu mengerti perihal hidup dan mati ini. Ibu sering menceritakan dongeng pengantar tidur dengan tema kehidupan, namun jarang sekali menyinggung tentang kematian.

Saat umurku sepuluh, aku menjadi sedikit tahu bahwa kematian membuat orang-orang yang kita kenal menangis dan merasa sedih, aku tak sepenuhnya dapat memahami, namun air mataku masih ikut mengalir sederas hilir sungai yang dipaksa kerontang. Segalanya disebabkan oleh satu kematian. Pada satu sabtu yang kelabu Ayah mati. Sebuah kematian yang pada dasarnya telah pula diduga oleh banyak orang.

Umur Ayah tak cukup panjang untuk dapat menemaniku hingga menjadi gadis remaja atau istri orang. Dari balik dinding Rumah Sakit Daerah yang amat besar dengan lantai dan dinding putihnya yang membuat inderaku menjadi sensitif, setiap detik yang terlintas di kepalaku adalah tentang Ayah yang berbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dan Ibu yang senantiasa bersedih atas rasa sakit yang diderita Ayah.

Pukul 02:54 WIB dini hari, tercatatlah waktu kematian Ayah. Ibu meraung dengan pedih seperti ada jarum yang mendera sekujur tubuhnya, Aku tak mengerti, dengan kaki dan tanganku yang tak tumbuh begitu besar. Aku hanya bisa merangkul Ibu, memeluknya dengan dekapan yang kurang hangat, barangkali sebab dini hari waktu itu kedinginan dan rasa takut telah pula mendekap kami yang ditinggalkan oleh orang yang kami sayangi.

Hari berganti pula tanpa peduli, bahwa duniaku dan Ibu telah berhenti sejenak sejak waktu kematian Ayah dipatrikan. Namun dengan rasa egois yang tak pula bisa dipaksakan hidup harus tetap berjalan, berputar, dipermainkan, dihidupkan, dan dimatikan. Dengan demikian, tangis mengering tanpa meninggalkan bekas, tahlilan dan rapalan doa-doa tetangga berhenti terdengar setelah hari ke empat puluh. Ayah telah pula menjadi entitas yang tak lagi berwujud, sebab sebagian besar hanya dapat dilihat melalui sudut-sudut memori kami yang entah sejauh apa akan melekat dan tinggal untuk mengingatnya.

Kesedihan berlalu secepat langkah kaki yang menderu, namun Ibu tak menikah lagi. Dihidupinya aku dengan jerih payah dan upaya setengah mati, maka bersyukurlah aku sebab setelah kematian Ayah, Ibu menjadi sosok yang tak membuatku kehilangan kasih sayang orang tua. Sudah lebih dari cukup buatku yang tak pula ingin meminta lebih banyak, Ibu jarang sakit, jarang mengeluh, namun terlalu sering minum kopi dan teh dengan gula berlebih.

Saat umurku lima belas, Aku kemudian mengetahui bahwa ada alasan di balik setiap kematian, bahkan di kematian paling mendadak pun ada latar belakang yang mendasarinya. Di sebuah sore, di pelataran rumah kami yang tak cukup besar, mungkin sebab rasa penasaran atau pula sebab rasa rindu pada Ayah yang pula semakin besar. Dalam sejuk yang menimpa wajah Ibu dan keteduhan waktu senja, percakapan itu bermukim semaunya.

“Aku belajar Biologi hari ini.” Lekat mataku menatap Ibu yang tengah menyeruput teh manisnya.

“Apakah menyengkan?” Ibu bertanya.

Aku mengangguk seadanya, barangkali iya sebab dibanding fisika, kimia dan matematika, kurasa hanya mata pelajaran biologi yang bisa kukuasai tanpa harus pusing menghitung atau mencari rumus. Ibu hanya tersenyum kecil, dilanjutkannya aktivitas menyeruput teh kelebihan gula itu.

“Aku belajar tentang sel, jaringan, organ, sistem organ. Banyak sekali pembagiannya. Kadang pusing kalau diminta ulangan dadakan tapi aku belum menghapal semua materi,” sambungku.

Ibu hanya mengangguk, barangkali tak pula terlalu mengerti perihal apa yang tengah kuceritakan kini. Aku sekali lagi menatap teh yang mangkir di tangan Ibu.

“Kata guru biologiku, tak baik minum kopi atau teh dengan gula berlebih, buruk untuk kesehatan.” Aku mulai mengomel, sebenanrnya ini bukan yang pertama kali. Sudah berapa kali pun entah aku pun tak ingat, namun kekhawatiranku pada kesehatan Ibu menjadi semakin tak terelakkan.

Khawatir tanpa sebab adalah kepalsuan dan paranoid, namun kekhawatiran milikku adalah suatu hal yang nyata, jika bukan karena keluarga kami yang punya garis keturunan dengan jejak penyakit diabetes, aku barangkali tak akan suka mengomeli Ibu sesering ini. Hampir di setiap sesi selepas makan malam, Aku duduk memandangi Ibu yang sebagian besar wajahnya telah tergambar banyak kerutan sebab penuaan.

Pipi dan matanya yang cekung serta postur yang tak lagi tegap membuatku gamang setiap kali menatapnya dengan dalam. Namun, bagi Ibuku, tubuhnya masih sama, semangatnya masih sama, merasa pula ia bahwa keriput dan kerontang di kerengkongannya bukanlah tanda penuaan atau semacamnya.

“Berhentilah minum dan makan yang terlalu manis, nenek meninggal karena sakit diabetes, kakinya harus dikubur lebih dulu karena infeksi. Apakah Ibu juga ingin menderita demikian?” aku berucap dengan ketus, kupandangi Ibu yang balik menatapku dengan mata malasnya, mengisyaratkan ketidakpedulian.

“Cerewet deh, kaya Ibu-Ibu majelis taklim,” balasnya santai.

“Bayangkan jika Aku tidak cerewet, kurasa kaki dan tangan Ibu sudah berada di alam lain saat ini.”

Loh, bagus dong kalau pindah alam, biar mereka bisa masuk surga duluan.”

“Iya kalau masuk surga, kalau ujug-ujug disiksa dulu sama malaikat, bukannya bakal lebih sakit?” Ibu terkekeh pelan mendengar perkataanku yang amat pedas. Bukannya tersinggung Ia malah cengengesan dengan riang.

“Di dunia sudah sakit, di akhirat pun juga sakit. Benar-benar malang hidup ini.” Ibuku bergumam lembut, namun terdengar dengan jelas bagiku yang menebalkan telinga. Entah sebab keluhannya yang terdengar menyedihkan, atau sebab nada bicaranya yang menyentuh hatiku. Aku terdiam sejenak, menatap lekat wajah Ibuku yang penuh dengan kerutan.

Angin malam menjadi penyejuk yang menusuk, jika saja kematian bisa dikoordinasikan dengan Tuhan, atau barangkali jika bisa diketahui tanggal-tanggal pastinya, tentu pula hatiku tak mungkin segundah ini. Ibu telah sejak lama menjadi satu-satunya keluargaku yang tersisa, hanya ada kami berdua di dunia kecil yang bisa kusebut milikku. Tapi, apakah dalam setiap keluh dan kesah serta merta dengan kekhawatiran yang diutarakan melalui omelan seorang anak perempuan hanya bisa dianggap sebagai celotehan yang tak perlu dimasukkan ke dalam hati? Aku pun tak paham betul bagaimana jalan pikiran Ibuku, Ia hanya akan tersenyum kecil, menatapku lekat, dan melanjutkan menyeruput teh kelebihan gulanya. Aku ditiggalkan dengan kalut milikku sendiri, menghawatirkan Ibu menjadi rutinitas tak terelakkan.

Sesi percakapan malam itu ditutup dengan cara yang sama seperti malam-malam sebelumnya. Ibu melengos memasuki biliknya, sedang aku ditinggalkan dengan pikiran yang mengawang menatapi langit malam yang mendung tak berawan.

Saat usiaku dua puluh, ketika kemudian kutinggalkan Ibu di rumah milik kami untuk pergi kuliah di luar kota, Ibu tak begitu menampakkan kesedihan atau haru terhadap gagasan tentang perpisahan dirinya dan diriku. Mungkin telah amat lelah tubuh dan hatinya hingga energi untuk bermesra dan menampakkan kesedihan tak lagi sanggup Ia tanggung. Atau barangkali Aku saja yang terlalu sensitif. Aku pun tak lagi mampu berbagi resah, dalam satu sore itu kala bus yang akan kutumpangi segera beranjak, kupeluk Ibu erat lengkap dengan tetesan air mata.

“Jaga kesehatan Ibu, tolonglah jaga kesehatan,” ucapku lirih.

Ibu hanya mengangguk, “Kamu pun, jagalah juga kesehatanmu, jangan terlalu menghawatirkan Ibu yang terlampau renta ini, jaga salatmu, jangan tinggalkan kewajiban.” Sesi nasihat disampaikan dengan singkat, lantas setelahnya aku berlalu menaiki bus yang perlahan menjauh dari pandangan Ibu. Aku menangis entah mengapa, rasanya ada beban berat di hatiku yang tak kunjung mereda, mencekik sampai membuatku sulit bernapas.

Kebenaran tentang kesehatan Ibu akhirnya terungkap saat aku melanjutkan kuliah magisterku, telah cukup dewasa aku kala itu. Ibu tak punya lagi rasa khawatir yang mendalam terhadap masa depan milikku, dalam kelegaan itu berbagai macam penyakit menghampiri dan hinggap lekat di tubuhnya. Mungkin sebab kebiasaan buruk yang dipupuk sejak lama, atau stress dan tekanan batin yang dianggap enteng saja olehnya, hanya dalam waktu dua tahun, penyakit Ibu bertambah parah. Komplikasi menyerangnya dengan kesusahan yang teramat meyakitkan, puncak utamanya adalah diabetes melitus.

Melihat Ibu menjadi teramat lemah dan menderita karena penyakitnya membuat tangisku larut menjadi harapan kosong, merawat Ibu menjadi rutinitas yang kujalani dengan rela, sebab tanpa dirinya pun tak mungkin pula aku menjadi diriku yang sekarang. Rasa syukur dan terima kasih kupeluk erat bersama tubuh ringkih Ibu. Namun, dalam satu sesi percakapan terakhir milik kami. Aku masih pula terisak seperti anak kecil. Dalam waktu-waktu untuk merelakan dan mengikhlaskan kepergian, duka meliputi seluruh dunia kecil milkku, Ibu berpulang, tinggalah Aku sendirian.

Ibu pergi dengan tenang, di bangsal rumah sakit kota kecilku, diiringi tangisku dan bela sungkawa sanak saudara yang sebagian besar darinya tak pula begitu kukenal. Aku merasakan kembali perasaan familiar itu, persis seperti saat Ayah berpulang dan kali ini Ibu ikut menyambangi bagian yang telah ditempuh Ayah sejak usiaku lima.

Aku masih terisak selepas tubuh Ibu dikebumikan, kala menyatu lekat dengan sepetak tanah di samping peristirahan terakhir Ayah. Aku menjalani proses berduka dengan tangisan dan pilu membiru, tiada lagi malam-malam dengan satu sesi percakapan, tak ada lagi yang mendengarkan omelanku, tubuhku telah pula bertambah kokoh, namun di balik ketegasan dan kerelaan yang mendalam, di sudut hatiku. Aku masih pula berharap. Semoga di kehidupan selanjutnya, atau di hidup-hidup lainnya Ibu akan tetap menjadi Ibuku.

Terima kasih Ibu, doaku senantiasa mengiringi kepergianmu, dukaku tak akan pernah surut, namun seperti pintamu akan kucoba menjadi kokoh dalam kehidupan yang menjadi milikku.(*)

Amelia Azira, lahir di Pasaman, 18 Desember. Mahasiswa S1 Fakultas Hukum Universitas Andalas.

Artikel ini telah dibaca 33 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Rani

25 November 2025 - 00:10 WIB

Jacob Lawrence, The Library, 1960, via WikiArt.org

Manusia Pohon Beringin

9 November 2025 - 04:05 WIB

WikiArt.org

Serambi Masjid Kami yang Kotor

20 October 2025 - 01:05 WIB

Endre Bartos, People from The Space, 2005 via WikiArt.org

Tukang Seblak

24 August 2025 - 05:43 WIB

WikiArt.org

Tukang Becak

10 August 2025 - 12:39 WIB

Frida Kahlo, Henry Ford Hospital (The Flying Bed)

Soal Matematika

20 July 2025 - 21:14 WIB

Balthus, Children, via WikiArt.org
Trending di Cerpen