Menu

Mode Gelap
Api Prometheus I Cerpen – Aldi Rijansah Puisi Ngadi Nugroho Asmara yang Tidak Diakali Waktu Puisi Maulidan Rahman Siregar Puisi Ilham Wahyudi

Puisi · 30 Nov 2025 08:07 WIB ·

Puisi Yusuf Idin Adhar


 Rene Portocerrero, Dancers via wikiArt.org Perbesar

Rene Portocerrero, Dancers via wikiArt.org

Dalam Peluk Luluh Ibu

Di balik longsor yang menelan rumah
ada rindu ibu yang tak kita balas
kita membelah bukit tanpa izin
lalu kaget saat ia runtuh dalam diam

Kabut turun bukan sekadar cuaca
ia adalah selimut duka
untuk pohon-pohon yang kita rebahkan
tanpa doa, tanpa pamit

Ibu pertiwi tak butuh dendam,
cukup satu gemetar kecil
untuk membuat kita ingat:
bumi pun bisa menangis saat dicintai sepihak

Nontotera, 2025

Ketika Tanah Menolak Langkah

Di tubuh ibu yang dipaku beton
akar-akar menangis dalam diam panjang
kita menanam mimpi dari logam
lalu heran ketika tanah tak lagi ramah

Gunung hanya diam,
tapi kita paksa ia memendam nyala
hingga suatu pagi, ia bersuara
dan awan panas pun menyapu harap yang rapuh

Ibu pertiwi tak butuh pelukan palsu
ia hanya ingin kita belajar diam
mendengar ulang gemetar bumi
sebagai puisi peringatan yang lama kita abaikan

Nontotera, 2025

Bait-Bait Murka Ibu Pertiwi

Bumi tak pernah benar-benar marah
ia hanya bersuara setelah terlalu lama diam
retakan itu bukan awal
melainkan isyarat bahwa kita tak lagi paham peluknya

Air datang bukan untuk membunuh
tapi mencuci jejak langkah yang congkak
ibu pertiwi tak menampar
ia hanya mengingatkan dengan cara yang tak bisa dibantah

Dan angin yang mencabut atap itu
bukan amarah semata,
melainkan pesan
bahwa langit pun bisa kecewa jika kita terus melupa

Nontotera, 2025

Ibu Pertiwi dalam Napas Senyap

Di nadi sunyi malam yang retak
kulipat bendera dari embun dan luka
lalu kubisikkan pada tanah yang gelap
ibu, apakah engkau masih percaya cinta?

Ladangmu menua dalam puisi-puisi patah
anak-anakmu sibuk mengejar terang semu.
Namun dari jari-jari retakmu yang pasrah
tumbuh doa yang tak tahu letih atau ragu

Langitmu tetap biru meski digadai kata
lautmu menyimpan amarah yang tak terucap.
Kami minum dari keringatmu yang bersahaja
lalu lupa bahwa air mata pun bisa tandus

Ibu, malam makin pekat di pelupuk benua
tapi kami masih menulis namamu di dada.
Meski tak semua tahu caranya mencinta
doa kami tetap pulang: diam-diam dan setia

Nontotera, 2025

Tanah di Telapak Tanganmu

Di telapak tanganmu
kami tumbuh seperti benih rindu
yang ingin menjadi pohon
namun sering layu sebelum hujan

Ibu,
kau biarkan kami jatuh
agar tahu arah angin
dan mengapa akar harus diam

Nontotera, 2025

Langit yang Tak Lagi Biru

Kau sulam langit dari nyanyian petani
tapi kami menukarnya dengan gedung dan jelaga
apakah ini kemajuan
atau sekadar lupa cara menengadah?

Di rambutmu yang ubanan oleh waktu
bersemayam musim yang tak sempat kau tuai
ibu,
maaf kami terlalu sibuk membangun tanpa kembali

Nontotera, 2025

Doa yang Tak Pernah Usai

Kami pernah pulang
dalam mimpi,
dan mendengar suara tanah
mengaji puisi dari luka

Ibu, meski kami tak selalu setia
doa-doamu tak pernah bertanya arah
ia cuma berjalan
dalam sunyi, menuju langit yang engkau doakan

Nontotera, 2025

Yusuf Idin Adhar lahir di Dompu. Mulai menulis tahun 2016. Beberapa puisi dimuat media online Magrib.id. Buku pertama, Pelabuhan Terakhir (Jejak Pustaka 2021).

Artikel ini telah dibaca 31 kali

Baca Lainnya

Puisi M.K. Gotansyah

25 November 2025 - 00:27 WIB

Helena Almeida, Voar, via WikiArt.org

Puisi Cyprianus Bitin Berek

9 November 2025 - 04:01 WIB

Dymntro Kasvan, Am I Susanna, via WikiArt.org

Puisi Salman Alade

20 October 2025 - 00:31 WIB

Billy Apple, Portrait of The Artist in Drip Dry Suit, 1962 via WikiArt.org

Puisi Rio Fitra SY

27 September 2025 - 19:10 WIB

Edvard Munch, The Lonely Ones, 1935

Puisi Riska Widiana

24 August 2025 - 05:53 WIB

WikiArt.org

Puisi Bulan Maharani

10 August 2025 - 14:30 WIB

WikiArt.org
Trending di Puisi