Menu

Mode Gelap
Api Prometheus I Cerpen – Aldi Rijansah Puisi Ngadi Nugroho Asmara yang Tidak Diakali Waktu Puisi Maulidan Rahman Siregar Puisi Ilham Wahyudi

Cerpen · 25 Nov 2025 00:10 WIB ·

Rani


 Jacob Lawrence, The Library, 1960, via WikiArt.org Perbesar

Jacob Lawrence, The Library, 1960, via WikiArt.org

            Sekitar ratusan orang berkunjung ke taman sejak Abang Botak membentangkan karpet dan buku-buku layak baca yang ia bawa entah dari mana dengan motor butut pinknya itu. Di antara ratusan orang itu, kulihat Rani yang datang bersama bapak dan ibunya. Aku cemburu dan kemudian iri degan Rani, sebab, setiap hari Minggu pukul 16.00 wib hingga 18.00 wib, gadis yang selalu rangking satu di sekolah itu selalu ditemani bapak dan ibunya untuk membaca buku bersama di lapak baca buku gratis ini. Mereka saling berebut buku dengan pengunjung lain, dan selalu punya cara menghabiskan sebuah buku.

            Lapak baca gratis ini diinisiasi Abang Botak bersama rekan-rekannya yang entah dari mana. Sejak kehadirannya, taman ini jadi sedikit berbeda. Biasanya, hanya ada kumpulan pedagang makanan dan mainan yang berjejer rapi di sepanjang taman. Sejak beberapa bulan lalu, ada kegiatan membaca buku ini, dan ajaibnya, kegiatan ini berlangsung gratis. Aku tidak tahu apa yang membuat Abang Botak sampai rela bersusah-susah membuat kegiatan ini. Apa pula untungnya bagi mereka. Entahlah.

            Aku pernah menguping dari jauh, menyimak bagaimana Rani bertanya pada ibunya tentang hal yang ia tak mengerti dala buku yang sedang ia baca. Ibunya menjelaskan dengan lembut, diselingi gelak tawa, manis sekali. Bapak Rani yang meskipun dari jauh (karena sejak beberapa edisi mulai ada larangan merokok di dekat lapak baca) memperhatikan mereka dengan penuh perhatian. Aku melihat mata yang berkaca-kaca ketika ibu Rani makin memeluk Rani yang begitu giat membaca dan bertanya.

            “Ibu, kalau saja Cinderella tidak punya gaun secantik ini, apa mungkin pangeran mau dengannya?” tanya Rani.

            “Entahlah, tapi yang pasti, tidak semua orang melihat dengan mata. Ada juga yang melihat dengan hati. Makanya, kecantikan visual tidak begitu penting.” kata ibu.

            “Visual? Apa itu, Bu?” Rani terus bertanya.

            “Apapun yang bisa kau lihat, Anakku.” jawab ibu

Aku iri pada Rani. Iri pada keluarga kecil ini. Hal ini yang sedikit susah aku temukan di mana pun. Bahkan di rumah. Ibuku seakan tak pernah ada waktu untuk menemaniku sekadar mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah. Sekalinya libur, ia habiskan dengan arisan. Memang, setiap pagi dan sore ketika makan bersama, kami selalu berbincang-bincang. Tapi, ibuku tak pernah bertanya soal buku apa yang sedang kami baca. Rumahku, tidak pernah dibangun dari suasana membaca buku. Bapak ibuku di rumah hanya sibuk dengan obrolan di ponsel mereka dan sesekali membahas isu di televisi yang memang lebih sering mati.

Aku iri pada Rani. Aku iri pada keluarga kecil ini. Di lapak, meski tak selalu, aku hanya bisa datang bersama Erik, Hafiz, Rian, dan kawan-kawan lain yang sama sekali tak punya keinginan membaca. Abang Botak punya kawan yang senantiasa merekam segala kegiatan di lapak baca ini dan sebagian kawan-kawanku senang masuk ke dalam konten yang akan mereka unggah ke dalam sosial media mereka. Bagi sebagian kawanku, hal ini nantinya akan mereka bicarakan lagi di sekolah. Rian datang ke lapak baca hanya untuk mendapatkan permen dan kudapan ringan dari Abang Botak, sementara Hafiz berkunjung ke taman hanya karena ia tak tahu harus berbuat apa di rumah. Bapak ibu Hafiz belum bisa membelikan Hafiz sebuah handphone, makanya ketimbang tidak melakukan apapun di rumah, Hafiz sesekali datang ke lapak baca gratis ini. mungkin kalau tidak gratis, Hafiz juga tidak akan ke sini.

Kawan-kawanku yang lain, datang ke sini hanya untuk melihat buku-buku bergambar yang dibawa Abang Botak. Benar, Abang Botak punya banyak buku dan buku-bukunya lebih bagus dari buku-buku yang ada di perpustakaan sekolah, namun, Abang Botak mungkin belum tahu kalau kami datang ke sini hanya untuk melihat gambar-gambar yang ada di buku, tanpa tahu apa maksud dan buku apa yang kami sedang bentangkan itu.

Otak kami penuh, masalah hidup ini banyak sekali. Kami tak yakin, buku-buku bisa menjawab semua keinginan kami. Sejak ada MBG, jajan kami juga dikurangi. Sialan.

“Silakan, buku-bukunya boleh dibawa dan dibaca di sekitaran taman, nanti kalau sudah hampir pukul 18.00 wib, buku-bukunya harap ditaruh kembali” begitu kata Abang Botak setiap kali aku berkunjung ke sini.

“Kamu sudah bisa baca? Tenang, ini ada buku bagus untukmu, kamu suka apa? Beruang, kupu-kupu, atau gajah? begitu kata Abang Botak pada bocah umur empat tahun. Ajaib. Bagi Abang Botak, buku bisa menyelesaikan masalah apa pun, termasuk buta huruf.

Abang Botak punya banyak cara agar para pengunjung, terutama anak-anak bisa tertarik dengan buku. Ketika sedikit kesulitan berbicara dengan seorang anak, tak jarang, Abang Botak mengajak diskusi bapak dan ibu mereka, agar ketemu buku-buku yang sekiranya cocok dibaca bagi anak tersebut.

***

“Arif, kau sudah lama di sini?” Rani tiba-tiba menghampiriku. Bapak ibunya sedang membeli jajanan di sekitar taman. Roknya yang lucu bikin Rani kelihatan lebih menggemaskan.

“Ya, sudah agak lama. Aku baru menyelesaikan sedikit bagian dari sebuah buku. Aku tertarik dengan ceritanya.” jawabku sambil menatap Rani yang melemparkan sedikit pandangan pada bapak ibunya.

“Buku apa?” Rani penasaran.

“Nama penulisnya susah disebut, sepertinya penulis luar. Aku suka ceritanya. Bukunya menceritakan seorang gadis kecil seusia kita yang bosan dengan rutinitas keluarga kecilnya dan sering bermain dengan ibu guru muda. Mereka tak jarang bekerja sama untuk menghasilkan sesuatu. Ibu guru muda memperlakukan si gadis kecil bukan seperti memperlakukan seorang anak, tapi memperlakukannya sebagai teman.”

            “Wah, sepertinya menarik. Minggu depan kalau ke sini lagi, aku mau baca buku itu juga.” balas Rani

“Kau sendiri sedang baca buku apa?” tanyaku.

“Ini, cerita 25 Nabi for kids. Aku ingin tahu apa saja yang terjadi di masa nabi, agar nanti bisa menjawab pertanyaan kalau ada yang bertanya. Para nabi kan jaraknya jauh sekali dari kita, aku ingin bisa tahu sejarahnya dengan jelas dan lengkap, agar tidak salah dalam menyimpulkan.”

“Kau memang berbeda, Rani. Wajar bisa juara satu.”

“Dan kau selalu juara dua, hihihi”

“Menurutmu, Abang Botak punya pacar” godaku.

“Entahlah, mungkin punya. Tapi pacarnya di dalam buku.”

            Lelucon Rani boleh juga, kami tertawa lepas bersama. Saat kami sedang asyik berbincang, Pak Rori, ayah Rani menyapa kami. Alhamdulillah, sebungkus telur gulung ini ternyata untukku. Aku mengucapkan banyak terima kasih pada Pak Rori, dan di genggaman erat Pak Rori, Rani kembali ke tengah, ke tempat buku-buku dibentangkan. Mungkin masih ingin menambah bacaan lagi.

***

            Abang Botak punya banyak cara (dan tentu saja punya banyak buku) untuk mendekatkan siapa saja (termasuk aku) pada buku. Tak hanya buku-buku puisi, buku-buku anak, dan buku-buku agama yang ia bawa setiap membuka lapak, beberapa kali ia juga membawa Majalah Bobo, majalah anak kesukaaanku, yang setiap dibawa selalu jadi rebutan orang-orang di lapak. Aku suka Majalah Bobo karena banyak berisi cerita-cerita anak dari seluruh penjuru Nusantara. Meski jarang ada, koleksi Majalah Bobo di sekolah membuat aku sedkit gandrung membaca.

            Majalah Bobo koleksi Abang Botak lumayan juga, ia tidak satuan, ia berupa bundel beberapa majalah, jadi makin enak dipegang dan terasa lebih berat dari biasanya. Aku jadi puas sekali membaca majalah ini dan betah berlama-lama dengan satu bundel majalah hingga Abang Botak siap-siap untuk pulang. Namun, buku yang sedang kubaca dan sedang berusaha aku tamatkan ini tak kalah seru juga. Aku harus segera menamatkan buku ini agar minggu depan Rani bisa ikut membaca. Dan setelahnya, kami punya bahan untuk diomongkan. Kapan lagi bisa dekat dengan Rani dan membicarakan buku yang sama, siapa tahu pembacaanku ada yang luput dan mendapat perspektif lain dari Rani.

***

“Bro, aku duluan” kata Hafiz

“Nantilah, masih setengah jam lagi. Aku harus segera menamatkan buku ini,” pintaku pada Hafiz dan rekan-rekan.

“Oalah, memangnya buku ini tentang apa? Mana gambarnya? Ayo coba kau ceritakan sedikit. Aku sudah mulai bosan di sini?” kata Erik

“Sabar, Erik. Ini bukunya nanggung, tinggal beberapa halaman lagi, sejauh yang aku baca, ceritanya menarik. Tentang eksperimen antara si gadis kecil dan ibu guru muda. Lucu dan menggemaskan.” jawabku

 “Omonganmu kayak orang dewasa, mirip dengan apa yang sering kudengar di televisi” jawab Hafiz

“Hehe. Tidak juga. Pokonya bukunya menarik.”

Lagian kau makan telur gulung sendiri-sendiri. Kau tak mau kongsi, dasar rakus!” Erik dengan muka ketusnya menatapku

“Aku tak melihat kalian tadi. Kupikir kalian memang sudah pulang.”

“Jujur saja. Sebenarnya kau tiap Minggu ke sini hanya untuk melihat Rani, kan? Kami tadi melihat kalian berdua sedang asyik ngobrol. Kau apakan Rani hingga Pak Rori mau membelikanmu telur gulung?” tanya Hafiz.

 “Yaudah, ayo kita pulang”

***

“Abang Botak, apa boleh buku ini dibawa pulang? Aku masih belum selesai dengan buku ini. Tinggal beberapa halaman lagi. Minggu depan aku janji akan mengembalikan bukunya.” pintaku pada Abang Botak.

“Maaf adik, buku tidak dapat dibawa pulang. Datang saja minggu depan.”

Aku jadi terpikir dengan apa yang disampaikan Hafiz. Rani memang beda, tapi rasanya bukan karena Rani pula aku datang ke sini. Rani baik, dan sepertinya juga ingin bersahabat dekat denganku, namun, dari perkataannya dan dari bagaimana ia menatapku, aku pikir ia sangat tulus untuk bersahabat denganku, tidak lebih. Lagipula, anak seusia kami memangnya tahu apa soal perasaan? Memangnya setiap orang yang dekat dan bisa bersama harus dicampuri urusan perasaaan? Rasanya, akan lebih menarik kalau sekiranya Rani bisa jadi teman bacaku. Buku-buku yang kami baca bersama kami bicarakan di lain waktu, dan rasanya itu lebih manis ketimbang memendam perasaan. Yap, minggu depan aku harus ke sini lagi. Menyelesaikan utang bacaanku.

Semoga Abang Botak dan rekan-rekannya berumur panjang. Dan semoga, lapak baca gratis ini bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Satu di antara banyak doaku, semoga suatu saat pula, aku bisa menjadi seperti Abang Botak, berpacaran dengan buku. (*)

Maulidan Rahman Siregar, lahir di Padang, 03 Februari 1991. Menulis puisi, cerpen, dan artikel musik. Bukunya yang telah terbit, Tuhan Tidak Tidur Atas Doa Hamba-Nya yang Begadang (2018), Menyembah Lampu Jalan (2019), Cara Kerja Tuhan (2025) dan Cerdik Pandai (2025)

Artikel ini telah dibaca 65 kali

Baca Lainnya

Satu Sesi Percakapan

30 November 2025 - 07:53 WIB

Emile Bernard, Breton Woman at Haystacks via WikiArt.org

Manusia Pohon Beringin

9 November 2025 - 04:05 WIB

WikiArt.org

Serambi Masjid Kami yang Kotor

20 October 2025 - 01:05 WIB

Endre Bartos, People from The Space, 2005 via WikiArt.org

Tukang Seblak

24 August 2025 - 05:43 WIB

WikiArt.org

Tukang Becak

10 August 2025 - 12:39 WIB

Frida Kahlo, Henry Ford Hospital (The Flying Bed)

Soal Matematika

20 July 2025 - 21:14 WIB

Balthus, Children, via WikiArt.org
Trending di Cerpen