No, guys, I swear he’s not emotionally unavailable
He’s just traumatized
No, guys, I swear he’s not a lost cause
It’s just he hasn’t met the girl that’ll fix his life
Beat berdegup, mengalun penuh ironi, irama lagu yang seolah tengah menyindir sesuatu. Dag. Dug. Dag. Dug. Kiat terbuai mendikte diri sendiri. Sok denial—sok menerima—kemudian marah-marah. Benar-benar dilematis cinta yang kita hapal di luar kepala.
Begitulah Niki Zefanya membungkus denial stage tokoh ‘aku’ dalam salah satu single di album Nicole berjudul Focus.
Sebagai pendengar, penulis berasumsi single yang rilis tahun lalu ini tengah mengisahkan tentang tokoh “aku”, seorang perempuan yang menjalin sebuah hubungan situationship bersama laki-laki yang tidak bisa mendeliver perasaannya, atau marak disebut emotionally unavailable person.
Namun, ketimbang menerima fakta bahwa hubungannya tidak sehat, tokoh “aku” malah mencari penyangkalan yang membenarkan tindak pasangannya. Ia mengatasnamakan dalih trauma dan kegagalan jajaran mantan si laki-laki yang tidak berhasil menyembuhkan mental si laki-laki, hingga berimbas padanya hari ini.
Dalam lirik “no guys, he just hasn’t met a girl who can fix his life”, tokoh “aku” menganggap bahwa sembuh tidaknya kondisi mental seseorang—terkhusus konteks laki-laki di sini—ditentukan oleh pasangan yang membersamai mereka. Sehingga, tanpa sadar, tokoh “aku” tengah memindahtangankan tanggung jawab pribadi atas kesembuhan mental orang lain kepada dirinya.

Sumber Foto: Kompas.com
Penggalan lirik tadi terdengar familiar. Seperti bergesekan erat dengan ungkapan singkat yang berkembang di masyarakat kita, berbunyi: “Sebrengsek-brengseknya laki-laki, pasti akan mencari perempuan yang saleha.” Kondisi ini linear dengan potongan lirik lagu Focus yang sama-sama menitikberatkan gender perempuan sebagai ‘penanggung jawab’ kerusakan gender lainnya.
Pola tadi tak bisa dipisahkan dari patriarki, sebuah sistem yang membuat satu gender—yaitu laki-laki—mendominasi gender lainnya, perempuan. Sistem ini menguntungkan laki-laki hanya karena ‘kelaki-lakiannya’ yang diberikan secara alamiah sejak lahir, lalu merugikan perempuan hanya karena ia perempuan.
Hari ini, patriarki menempatkan perempuan sebagai gender kelas dua di mata masyarakat. Kondisi liyan pada perempuan itu kemudian dijadikan alat yang merugikan perempuan sendiri berkali-kali lipat.
Seperti konteks di atas, perempuan mendapatkan tuntutan untuk menjadi sempurna dan tak boleh salah. Kontras dengan kesalahan laki-laki yang dinormalisasi—bahkan diberikan peluang untuk memilih pasangan terbaik—sedangkan dirinya sendiri tidak diharuskan baik.
Tak hanya itu, Niki Zefanya berhasil menggambarkan efek destruktif patriarki yang tidak hanya berputar pada konflik antar-gender. Niki melantunkan: “I hope she stubs her toe next time she texts.” Patriarki bahkan berhasil mendorong ketegangan antarsesama perempuan. Bahkan pada posisi keduanya korban dari laki-laki yang sama.
Dalam hubungan romansa, patriarki cerdik dalam berkilah. Ia kerap bersembunyi di balik kepentingan gender lain dan memanfaatkan dalih cinta. Tindak manipulasi yang genius, namun sering lengah disadari sudah menggerayangi hidup kita sebagai perempuan.
Tapi, mengapa patriarki bisa sebegitu kuat mendominasi pola pikir masyarakat, bahkan merasuk dalam interaksi romansa yang personal?
Friedrich Engels, dalam bukunya yang berjudul Asal Usul Keluarga, Kepemilikan Pribadi, dan Negara, menceritakan fenomena unik yang terjadi pada masyarakat primitif dalam periode komunal awal. Saat itu, manusia sudah membentuk kelompok-kelompok sosial dan mengenal bentuk pernikahan kelompok (group marriage), di mana dalam suatu kelompok, seorang perempuan bisa menjadi pasangan bagi semua laki-laki dalam kelompoknya, dan sebaliknya.
Kemudian, kondisi ini berubah ketika manusia mulai mengenal sistem pencatatan garis keturunan. Demi memudahkan pelacakan keturunan dan memastikan siapa anak biologis sang ayah, hak-hak perempuan mulai ditekan.
Monogami menjadi norma yang diberlakukan secara ketat pada perempuan dalam praktek teologi maupun budaya. Sementara, laki-laki tetap dapat menikmati relasi seksual di luar pernikahan, baik melalui perbudakan seksual, pelacuran, maupun memiliki selir—terutama di kalangan kelas atas. Hal ini digambarkan Engels sebagai awal dari “kekalahan historis perempuan”.
Lahirnya sistem monogami menjadi titik balik ketertindasan gender. Pada masa itu, praktek pernikahan dilakukan untuk menjamin alur warisan dan pemindahan aset pribadi (terutama kepada anak laki-laki). Maka, laki-laki diberikan kuasa untuk memilih pasangan dengan kriteria setinggi mungkin. Kontras dengan kondisi perempuan yang semakin liyan dan tidak diperkenankan memandang cinta secara subjektif.
Engels memang menggambarkan masyarakat komunal awal nun jauh di masa lampau. Namun, eksisnya kalimat seperti “Sebrengsek-brengseknya laki-laki, pasti akan memilih perempuan yang saleha” telah menggambarkan kekuatan patriarki yang tetap mampu mendominasi kehidupan kita hingga hari ini.
Perlu kita insafi bahwa patriarki menginisiasi keliayanan perempuan dalam banyak hal. Tingkahnya sering kali luput dari pandangan kita, sehingga sebagai perempuan, kita kerap terlambat untuk menyadari dan memotong penindasan yang terjadi.
Bagi penulis, kejeniusan Niki Zefanya dalam menulis lirik telah berhasil menyinggung kondisi masyarakat kita yang patriarkal. lewat album pop-nya yang elegan dan booming, niki menginsafi kondisi telak perempuan hari ini—yang meski dalam posisinya sebagai korban—tak sadar ikut melestarikan budaya yang merugikannya sendiri.
Tanpa hiperbola, tanpa lirik sok dewasa, kondisi dilematis yang dilantunkan Niki menyentuh hati penulis—suka tak suka, patriarki masih dilahirkan berulang hingga hari ini. (*)
Nayla Chania Wulandari, tinggal di Jakarta. Instagram: @chaniawlndr












