Menu

Mode Gelap
Api Prometheus I Cerpen – Aldi Rijansah Puisi Ngadi Nugroho Asmara yang Tidak Diakali Waktu Puisi Maulidan Rahman Siregar Puisi Ilham Wahyudi

Opini · 9 Nov 2025 04:29 WIB ·

Semesta Sangat Menghargai Proses


 yellow shoreline 2009 via wikiart.org Perbesar

yellow shoreline 2009 via wikiart.org

Seluruh alam semesta hidup dalam harmoni dan keselarasan. Sebagaimana manusia dan obsesi akan cita-cita luhurnya, mestinya manusia berbuat dan berproses dengan baik, sedangkan hasil akhirnya bertawakkal dan diserahkan pada ketentuan Allah.  Jadi, tak perlu tergesa-gesa atau memaksakan diri untuk segera mencapai garis finish. Layaknya lomba marathon, di mana sang atelit harus mahir menjaga ritme, mengatur tenaga, tempo, bahkan menyimpan sisa tenaga hingga mencapai garis finish.

Di pagi hari, kita melihat matahari terbit secara teratur dan pelan. Demikian halnya dengan tanaman di pekarangan yang tumbuh secara perlahan-lahan. Bahkan, air laut mengalami pasang dan surut secara teratur, tak usah terburu-buru. Seluruh sistem kesemestaan seakan serempak menikmati prosesnya dengan baik. Mereka tak merasa perlu untuk membanding-bandingkan, karena segalanya berjalan sesuai fungsi dan kodratnya yang alami.

Tetapi, sifat dan hawa nafsu manusia di era hiper modern ini, tampaknya tergopoh-gopoh bahkan panik tak karuan, seakan merasa dirinya serba tertinggal. Mereka sibuk bersaing untuk hal-hal yang gak perlu, bahkan dalam soal ilmu pengetahuan yang masing-masing memiliki porsi sesuai kadarnya. Mereka seakan memaksakan diri agar tahu segalanya, bahkan harus lebih unggul ketimbang yang lainnya.

Bagaimana dapat menikmati proses jika semuanya sibuk memusatkan pikiran pada hasil akhir? Bagaimana dapat menikmati dan mensyukuri hari ini, jika merasa terganggu dengan kecemasan akan masa depan, serta kecewa dengan masa lalu? Mungkinkah kenikmatan itu akan ditambah oleh Allah, jika manusia kurang pandai untuk mensyukuri karunia dan anugerah-Nya, sekecil apapun?

Semua sistem di alam raya ini berjalan serba santai, tidak terburu-buru, tapi toh semuanya mencapai hasil akhir. Semesta juga tidak bekerja serba panik dan tergopoh-gopoh, tak merasa perlu untuk menyalip yang lainnya agar segera sampai. Mereka serempak berproses, juga tak merasa perlu menuntaskan segalanya dengan memaksakan kehendak, atau mendahului zamannya. Tanaman tidak memaksakan diri berbuah lebih cepat.

Sinar mentari tampak tenang membagikan cahayanya, meskipun awan-awan kadang menutupinya. Bahkan, air jernih mengalir dari pegunungan, serta rela menunggu celah bebatuan agar terus mengalir menuju sungai hingga lautan. Semuanya berjalan sesuai hukum kosmos, dalam ritme-ritme yang teratur, tenang, namun serba pasti.

Segala sistem keteraturan alam ini menunjukkan, bahwa hakikat gerak dan kehidupan di jagat raya ini, bukan tentang seberapa cepat kita sampai ke tujuan, tetapi tentang bagaimana kita mampu berselaras dengan irama alam semesta.

Rasulullah pernah menyatakan, jika manusia bisa menikmati hidup di hari ini dengan tenang, bersama keluarga yang sehat walafiat, sesungguhnya ia telah memiliki alam raya ini. Inilah yang disebut sifat “qana’ah” bahwa dengan menikmati hidup apa adanya, sambil mensyukuri rizki yang dianugerahkan kepada kita, sejatinya kita adalah manusia yang sanggup menggenggam alam raya ini.

Jadi, nikmat hidup yang sejati bagi Rasulullah, bukanlah perkara kita memiliki banyak kekayaan serta mampu membeli obat semahal mungkin. Tetapi, justru ketika kita memiliki waktu dan kesempatan untuk mensyukuri rizki apa adanya yang dianugerahkan Tuhan. Sejarawan dan filosof Skotlandia, Thomas Carlyle pernah menggugat pola hidup manusia modern, sambil berujar: “Untuk apa manusia modern mencari solusi dengan membeli obat-obat yang tak pernah menyembuhkan dirinya? Mengapa kebanyakan bangsa-bangsa mencurahkan energi dan intelektual yang berhamburan, bukan untuk saling menyelamatkan tetapi justru untuk saling menghancurkan dan membinasakan?”

Saat ini, ketika ambisi dan notifikasi memengaruhi gaya hidup yang menimbulkan degradasi, maka kebijaksanaan sejati akan bergantung pada pribadi-pribadi yang sanggup membangun kehidupan dengan tenang dan damai. Mereka itulah yang akan sanggup mempercayai proses, tidak terburu-buru, karena pada akhirnya, sehebat apapun rencana manusia toh harus dikembalikan pada agenda Tuhan Yang Maha Menguasai agenda dan rencana yang pasti.

Bercerminlah pada cara kerja semesta yang santai, rileks, tidak tergesa-gesa, namun toh akan mencapai hasil akhir juga. Kita harus terampil menapaki perjalanan dengan sadar dan dengan penuh kesabaran. Tak usah memaksakan diri agar segera mencapai hasil akhir, karena hal tersebut akan menimbulkan luka dan kerugian bagi yang lainnya. Bahkan, seringkali saling sikut kiri dan kanan agar dapat menyingkirkan lawan-lawannya.

Kebanyakan manusia modern ingin segera mencapai garis akhir, dengan menjalani proses yang menghalalkan segala cara. Mereka yang diuji dengan sakit, juga ingin mencapai kesembuhan tanpa mau bersikap sabar. Bahkan, sebagian agamawan yang ingin mencapai kebijaksanaan, juga tak mau merenung dan berzikir dengan khusyuk, sampai akhirnya kehilangan kedalaman. Mereka serempak berlari sambil memuja percepatan, hanya karena takut tertinggal meskipun tak tahu ke mana arah tujuan yang sebenarnya.

Padahal, segala pencapaian terbaik harus diperjuangkan dengan pemikiran yang mendalam. Karena, meskipun kita bukan pencipta dan pemilik alam raya ini, kita sendiri pun adalah bagian dari semesta yang penuh misteri dan sarat keajaiban. Ia bagaikan kitab kehidupan, yang selalu menunggu untuk dibaca dan ditelusuri secara mendalam. Bahkan, dalam diam dan keheningan, alam semesta seringkali memberikan jawaban yang lebih dari sekadar kata-kata. Ia berbicara dalam bahasa yang tidak bisa dipahami, tetapi hanya dapat dirasakan dengan jiwa-jiwa yang lapang.

Bagaimana pun, setiap ciptaan di alam raya ini, mengandung pesan tersendiri, dan setiap saat ada kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita dengannya. Karena, ia bukan hanya tempat tinggal kita, tetapi juga tempat kita belajar di dalamnya. Namun pada prinsipnya, keindahan semesta ini terletak pada kesederhanaannya yang memukau dan sulit terungkapkan. Manusia hanya mampu memahami, sejauh ia sanggup membuka mata hatinya.

Namun sejatinya, di tengah luasnya semesta ini, kita adalah bagian kecil yang turut menyumbang bagi proses perubahan besar. Apa yang kita lakukan saat ini, sekecil apa pun, kelak akan berdampak baik ataupun buruk bagi kehidupan kita di kemudian hari. Jadi, terserah pada kita, apakah kita sanggup melakukan sesuatu yang akan berdampak baik bagi kehidupan kita dan semesta, ataukah justru sebaliknya? (*)

Ahmad Rafiuddin, pengasuh Ponpes Tebuireng 09 (Nurul Falah), Rangkasbitung, Lebak, Banten

Artikel ini telah dibaca 47 kali

Baca Lainnya

Memantek Minangkabau (*)

5 October 2025 - 17:56 WIB

Basuki Abdullah, Coastel Scene in Sumatra via WikiArt.org

Datang dan Pulang Sendirian

31 August 2025 - 03:55 WIB

Datang di Hari Pertama Pekan Nan Tumpah 2025

25 August 2025 - 00:33 WIB

Foto: Istimewa

Menyingkap Musuh-musuh Para Penulis

20 June 2025 - 03:21 WIB

WikiArt.org

Ketika Sastra Menyingkap Politik Brutal

20 June 2025 - 02:53 WIB

WikiArt.org

Menulis Sebagai Panggilan Sejarah

20 June 2025 - 02:42 WIB

WikiArt.org
Trending di Esai