Menu

Mode Gelap
Api Prometheus I Cerpen – Aldi Rijansah Puisi Ngadi Nugroho Asmara yang Tidak Diakali Waktu Puisi Maulidan Rahman Siregar Puisi Ilham Wahyudi

Puisi · 9 Nov 2025 04:01 WIB ·

Puisi Cyprianus Bitin Berek


 Dymntro Kasvan, Am I Susanna, via WikiArt.org Perbesar

Dymntro Kasvan, Am I Susanna, via WikiArt.org

Di Tepi Eden Mereka Menangis

Di tepi Eden mereka menangis.
Memandang dari kejauhan
karena tak mungkin lagi memasukinya
tanpa darah tercurah
seperti domba harus dibantai.

Kala senja bertunas malam
keduanya tahu
perlu ada semacam kompromi
hadapi hari
yang tak lagi melulu ramah.

Tanah berbunga duri
margasatwa pun jadi liar.
Tetapi mereka tetap mengingat
perintah ‘berkembangbiaklah’.

Betun, Juni 2016

Hawa 1

Seperti lalat, kuingin mengenalmu
lebih dalam, dengan jemari
dan mata terpejam.
Karena semenjak tersangkut
sisa buah di tenggorokanmu
kita pun saling menyalahkan
membuatmu kian asing
kendati bersama selalu kita.

Kita tetaplah dua roh berbeda,
selalu, meski kerap ingin kausatukan
dengan memasuki tubuhku.

“Dapatkah rohmu memasuki rohku?”
tanyaku ragu.

Kau hanya mengeratkan dekap
dan bersabda, “Kunamai kau
Khawwa. Karena kupercayai janjiNya
bahwa melalui rahimmu
kehidupan berlanjut,
menanti tebusan yang kelak.
Biarlah setiap kusebut namamu,
teguhlah hatiku akan janjiNya.”

Aku tak menjawab
kendati seperti kudengar desis
berbisik: khiwya, khiwya –
menabur ingatan
kepada ular terkutuk.

Dili, 12 Desember 2018

Hawa 2

Tetap kurawat pakaian kulit ini
seperti merawat kenangan,
indah tetapi terluka. Atas khianat
dan takut kita, dibalutkanNya kulit domba.
MataNya, lelakiku, mataNya
berbicara terlalu banyak:

“Untuk ketelanjangan kalian
telah Kubantai dua domba.
Karena kelak kalian Kuselamatkan,
pun dengan tumpahan darah.”

Tetap kurawat pakaian ini
karena berjejak setia janjiNya
yang lebih bernilai
daripada hidupku sendiri.
Kutahu tak kelak
akan tiba keturunanku
meremukkan kepala ular
yang telah melekatkan kita
kepada rasa bersalah.

Di barat, rumah asal kita
Firdaus selalu menanti,
seperti cakrawala
menanti matahari
yang pasti lingsir.
Sementara usia terus menakikkan
kerut-merut di tubuh.

Tetapi selalu kurawat lembaran kulit ini.
Karena setiap kukenakan,
ingin pula diriku kaukelupas,
sebagai ranum pisang
(meski bukan untuk mengenang
duka pemberontakan).

Dili, 12 Desember 2018

Cyprianus Bitin Berek, Alumnus Fakultas Ekonomi – Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Sekarang tinggal di Kupang. Kumpulan Puisi yang sudah terbit: Pertarungan di Pniel. Anggota Komunitas Dusun Flobamora. Puisi-puisinya dimuat  baik di media lokal dan nasional.

Artikel ini telah dibaca 122 kali

Baca Lainnya

Puisi Yusuf Idin Adhar

30 November 2025 - 08:07 WIB

Rene Portocerrero, Dancers via wikiArt.org

Puisi M.K. Gotansyah

25 November 2025 - 00:27 WIB

Helena Almeida, Voar, via WikiArt.org

Puisi Salman Alade

20 October 2025 - 00:31 WIB

Billy Apple, Portrait of The Artist in Drip Dry Suit, 1962 via WikiArt.org

Puisi Rio Fitra SY

27 September 2025 - 19:10 WIB

Edvard Munch, The Lonely Ones, 1935

Puisi Riska Widiana

24 August 2025 - 05:53 WIB

WikiArt.org

Puisi Bulan Maharani

10 August 2025 - 14:30 WIB

WikiArt.org
Trending di Puisi