Di Tepi Eden Mereka Menangis
Di tepi Eden mereka menangis.
Memandang dari kejauhan
karena tak mungkin lagi memasukinya
tanpa darah tercurah
seperti domba harus dibantai.
Kala senja bertunas malam
keduanya tahu
perlu ada semacam kompromi
hadapi hari
yang tak lagi melulu ramah.
Tanah berbunga duri
margasatwa pun jadi liar.
Tetapi mereka tetap mengingat
perintah ‘berkembangbiaklah’.
Betun, Juni 2016
Hawa 1
Seperti lalat, kuingin mengenalmu
lebih dalam, dengan jemari
dan mata terpejam.
Karena semenjak tersangkut
sisa buah di tenggorokanmu
kita pun saling menyalahkan
membuatmu kian asing
kendati bersama selalu kita.
Kita tetaplah dua roh berbeda,
selalu, meski kerap ingin kausatukan
dengan memasuki tubuhku.
“Dapatkah rohmu memasuki rohku?”
tanyaku ragu.
Kau hanya mengeratkan dekap
dan bersabda, “Kunamai kau
Khawwa. Karena kupercayai janjiNya
bahwa melalui rahimmu
kehidupan berlanjut,
menanti tebusan yang kelak.
Biarlah setiap kusebut namamu,
teguhlah hatiku akan janjiNya.”
Aku tak menjawab
kendati seperti kudengar desis
berbisik: khiwya, khiwya –
menabur ingatan
kepada ular terkutuk.
Dili, 12 Desember 2018
Hawa 2
Tetap kurawat pakaian kulit ini
seperti merawat kenangan,
indah tetapi terluka. Atas khianat
dan takut kita, dibalutkanNya kulit domba.
MataNya, lelakiku, mataNya
berbicara terlalu banyak:
“Untuk ketelanjangan kalian
telah Kubantai dua domba.
Karena kelak kalian Kuselamatkan,
pun dengan tumpahan darah.”
Tetap kurawat pakaian ini
karena berjejak setia janjiNya
yang lebih bernilai
daripada hidupku sendiri.
Kutahu tak kelak
akan tiba keturunanku
meremukkan kepala ular
yang telah melekatkan kita
kepada rasa bersalah.
Di barat, rumah asal kita
Firdaus selalu menanti,
seperti cakrawala
menanti matahari
yang pasti lingsir.
Sementara usia terus menakikkan
kerut-merut di tubuh.
Tetapi selalu kurawat lembaran kulit ini.
Karena setiap kukenakan,
ingin pula diriku kaukelupas,
sebagai ranum pisang
(meski bukan untuk mengenang
duka pemberontakan).
Dili, 12 Desember 2018
Cyprianus Bitin Berek, Alumnus Fakultas Ekonomi – Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Sekarang tinggal di Kupang. Kumpulan Puisi yang sudah terbit: Pertarungan di Pniel. Anggota Komunitas Dusun Flobamora. Puisi-puisinya dimuat baik di media lokal dan nasional.








