Menu

Mode Gelap
Api Prometheus I Cerpen – Aldi Rijansah Puisi Ngadi Nugroho Asmara yang Tidak Diakali Waktu Puisi Maulidan Rahman Siregar Puisi Ilham Wahyudi

Cerpen · 9 Nov 2025 04:05 WIB ·

Manusia Pohon Beringin


 WikiArt.org Perbesar

WikiArt.org

Juki begitu siaga mengawasi pohon beringin tempatmu kesurupan dulu. Mas Mus pun juga ikut memandangi pohon itu sambil mengaduk kopi dari balik etalase. Kejadian seminggu yang lalu masihlah diingatnya. Ia sendiri yang menampari pipimu karena kau memekik sumpah serapah dan menunjuk-nunjuk semua orang dengan mata nyalang. Entah apa yang merasukimu saat itu. Tak ada yang mampu menyadarkanmu, kecuali Man Gani yang hemat bicara, meludahi wajahmu.  Dan kau tersadar.

            “Duar!” Suara petir mengagetkan Mas Mus hingga tak sengaja menjatuhkan kopinya. Ia menengadah dan jingkat-jingkat kepanasan. Rupanya dahan randu yang cukup besar, tumbang. Sejurus kemudian hujan angin menyapu daun-daun yang berserakan. Sementara kau senyum-senyum sendiri memandangi suasana sekitar yang kibang-kibut sambil menghisap rokok lintingan sendiri. Mas Mus dan Juki berpandangan heran.

“Kakakmu itu kenapa? Apakah dia melihat hantu?” Tanya Mas Mus penasaran.

“Jangan ngomong aneh-aneh Mas.”

Sementara Man Gani tetap menjaga ketenangannya di atas lincak.

            Juki pun menghampiri lalu duduk di sampingmu. Ia mencuil tembakau sejumput dan menakar sedikit cengkeh. Hujan mulai berirama pelan, lalu sedikit demi sedikit mereda.

            Setelah peristiwa kesurupan itu, kau tak mau lagi pakai sabun, odol, dan sampo untuk mandi. Tak mengonsumsi segala apapun yang sachetan. Bahkan, hape, kau sudah tak mau menyentuhnya lagi. Kau sering bicara sendiri. Sang bunda pun heran melihatmu yang bertingkah aneh seperti itu. Ia curiga kalau setan pohon beringin sepertinya masih menempel di badanmu.

***

Setiap malam pohon beringin itu muncul dan mengeluarkan manusia-manusia gundul dari pintu pohon. Kau sendiri bingung entah ini mimpi atau nyata, karena kau mampu merasakan kesejukan dan aroma tanah di dekat pohon itu. Kau bergabung di barisan mereka, memutari pohon, lalu memanjatnya secara bergiliran. Saat subuh tiba, manusia-manusia itu beranjak turun dan masuk ke dalam pohon. Kau selalu tertinggal di luar sendirian.

“Nak, ini kubuatkan madu hangat untukmu. Minumlah!“

“Tenanglah ini madu asli, bukan sachetan, “

Kau lalu beranjak ke ruang tamu memandangi taman dari balik jendela. Bibirmu tersenyum. Kau raba rerumputan itu melalui kaca.

 “Rumput, oh rumput. Andai aku jadi kau, tak akan sudi kalau hanya diinjak manusia tanpa permisi. Begitupun denganmu ikan. Kalau aku jadi kau, tak akan rela jika dagingku hanya dinikmati untuk kelangsungan hidup tanpa arti.”

Kau sendiri pun kaget. Mengapa kau berbicara seperti itu. Kalimat itu muncul dengan sendirinya. Seperti ada “aku” yang baru dalam dirimu.

Suatu malam Juki terbangun dan mendapatimu tak ada di kasur. Ia lalu mencarimu di setiap sudut ruangan rumah. Saat tiba di ruang tamu, ia melihatmu sedang berbaring di atas rerumputan taman berbantal batu sambil memandang malam purnama melalui kaca. Tanganmu tampak begitu asyik melukis sesuatu ke arah langit kemudian kau terpingkal-pingkal sendiri.

Juki curiga bagaimana kalau kau ternyata mengalami gangguan jiwa.

***

Kau berbaring ke kiri, lalu pindah ke kanan, lalu duduk, lalu ganti tengkurap. “Memang tak ada yang menarik di kamar ini, justru di sini malah bisa mematikan jiwa,” katamu dalam hati. Naluri diam-diam mengajakmu pergi menuju pohon beringin itu. Kau pun menurutinya.

Sesampai sana, kau melepaskan sandal lalu mengesatkan kaki di atas kerikil dan tanah. Memandangi saksama pohon itu dan mengelus-elus akarnya. Hatimu bergetar saat kau tiup kupu-kupu yang hinggap di tangan, tapi ia tak beranjak pergi. Sejurus kemudian kupu-kupu lain melintas lalu menggoda kupu-kupumu. Kau berjalan mengikuti mereka dari belakang tanpa memperdulikan arah.

“Tunggu dulu, aku sekarang di mana?“

“Kemana kupu-kupu tadi?“ Kau menoleh ke kanan ke kiri, memutar kepalamu, semuanya pohon-pohon.

“Astaga, aku tersesat!”

Seperempat langkahmu tercegat oleh tangan yang menggenggam dari belakang. Tekstur tangan itu memang kasar, tapi sepertinya ini tangan manusia.

“Kau mau kemana?“

“Hah, ada orang?“ batinmu.

Kau pun menoleh ke belakang. Rupanya tak ada orang, melainkan pohon beringin yang pintunya terbuka, seperti di mimpimu kemarin.

Kau tercenung. Kau gigit lidahmu sendiri untuk mengecek ini nyata atau mimpi. Lau kau mulai melangkah pelan sekali. Tersisa rasa ragu, takut, tapi juga penasaran. Angin dingin pun berdesir, menyulap suasana yang semula sepi menjadi mencekam. Satu langkah berhasil terlampaui. Langkah kedua semakin berani. Ketiga dan seterusnya kau melangkah lebih cepat.

“Aduh tangan siapa lagi ini?“ Kau menoleh ke belakang.

“Loh Pak, Anda kok di sini?“ Man Gani tersenyum penuh misteri.

“Kau mau ke pohon itu?”

“Iya Pak.”

“Baiklah, mari kuantar.”

Bersama Man Gani kau berjalan menuju pohon beringin, tapi kau mendadak berhenti. Teringat bunda dan Juki. Bagaimana nanti jika mereka mencarimu?

Kau pun berbalik arah lagi, lalu tampak manusia-manusia lusuh, pucat, sakit-sakitan, seperti zombi sedang memunguti biji-bijian yang entah itu biji apa, sekilas mirip seperti pil. Yang jelas mereka yang mengunyah biji itu, terlihat sedikit berdaya ketimbang yang belum mengunyah.

Kau tercengang ketakutan.

“Tenanglah. Mungkin kamu dianggap aneh, tapi manusia-manusia itu lebih aneh bukan? Manusia yang hidupnya hanya bisa menyembah suplemen-suplemen.”

Kau pun masuk ke dalam pohon beringin, karena kau yakin bahwa ini semua hanyalah mimpi.

Malang, 11 Juli 2025

Abdi Galih, lahir 22 Januari 2002 di Mojokerto, Jawa timur.  Menyelesaikan studi program sarjana jurusan sastra Indonesia di Universitas Negeri Malang. Hari-harinya sering dihabiskan membaca buku di kedai kopi dan menulis cerpen.

Artikel ini telah dibaca 136 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Satu Sesi Percakapan

30 November 2025 - 07:53 WIB

Emile Bernard, Breton Woman at Haystacks via WikiArt.org

Rani

25 November 2025 - 00:10 WIB

Jacob Lawrence, The Library, 1960, via WikiArt.org

Serambi Masjid Kami yang Kotor

20 October 2025 - 01:05 WIB

Endre Bartos, People from The Space, 2005 via WikiArt.org

Tukang Seblak

24 August 2025 - 05:43 WIB

WikiArt.org

Tukang Becak

10 August 2025 - 12:39 WIB

Frida Kahlo, Henry Ford Hospital (The Flying Bed)

Soal Matematika

20 July 2025 - 21:14 WIB

Balthus, Children, via WikiArt.org
Trending di Cerpen