Siapa yang lebih radikal dari seorang Chairil Anwar dalam dunia sastra Indonesia? Maka jawabannya akan saya tegaskan, “tidak ada”! Ya, setidaknya sampai saat ini saya belum menemukan ke-punk-an dalam diri sastrawan besar atau sastrawan naik daun atau mereka yang membaptis dirinya “sastrawan” walaupun karyanya selalu ditolak media. Sastrawan sekarang hanya menjadi pengekor sastrawan-sastrawan sebelumnya. Kalau pun ada kebaruan, itu bukan yang radikal. Tidak sekentara Chairil yang menunjukkan individualismenya dalam “Aku” pada zaman yang amat menjunjung tinggi semangat kebersamaan.
Padahal, saya berani bertaruh, individualisme sebenarnya hal yang biasa saja pada zaman itu. Setidaknya harus diakui bahwa individualisme sudah ada sejak zaman dahulu dan akan selalu ada entah sampai kapan. Lihat saja John Stuart Mill yang pada 1869, saat menerbitkan On Liberty, menganggap kebebasan individu sebagai prasyarat kemajuan masyarakat. Itu hanya satu contoh kecil. Maka, harus disimpulkan bahwa kebaruan Chairil dengan individualismenya itu hanya terletak dalam teks puisinya. Selebihnya, individualisme orang-orang yang benar-benar hidup pada zaman itu adalah hal yang memang sudah ada. Hanya saja, Chairil dengan melahirkan puisi “Aku”-nya bisa selangkah lebih maju untuk mengubah hal yang seolah-olah biasa menjadi luar biasa.
Maka dari itu, jika Victor Shklovsky hidup di Indonesia pada zaman itu, boleh jadi dalam esainya yang terkenal, “Art as Technique”, ia akan mencatut nama Chairil alih-alih Leo Tolstoy. Sayangnya, Shklovsky hidup di Rusia dan di zaman yang “agak” lebih tua. Tapi sebentar, sebelum lebih jauh, alangkah baiknya saya kenalkan dulu Shklovsky dan alasan Chairil bisa dikaitkan dengannya.
Jadi begini: Wellek dan Warren, dalam bukunya yang tidak pernah tidak dikenal oleh mahasiswa sastra semester awal, Theory of Literature, menyebut bahwa kritik sastra pernah jatuh ke dalam jurang yang berbahaya. Saat itu masa-masa suburnya Romantisme, sebuah gerakan yang selalu memfokuskan analisis karya sastra terhadap latar karya itu dibuat, alih-alih melihat “ke dalam” karya itu sendiri. Akibatnya, kedudukan kritik sastra menjadi tidak jelas dan kritikus kehilangan kemampuannya untuk menilai karya sastra. Untungnya setelah itu muncul segelintir orang yang punya kesadaran untuk kembali kepada karya itu sendiri. Di Rusia, gerakan mereka dikenal dengan nama formalisme. Sesuai namanya, form, formalisme berfokus untuk melihat karya sastra dari bentuknya, tidak tolah-toleh ke sana kemari untuk menelisik aspek-aspek yang jauh.
Shklovsky adalah salah satu aktivis formalisme itu. Teorinya yang terkenal adalah defamiliariasi. Dibentuk dari kata de dan familiar. Jika familiar berarti merujuk kepada sesuatu yang sudah umum atau biasa, maka defamiliarisasi adalah cara untuk membuat yang biasa itu menjadi hal yang seolah-olah baru. Ibaratnya begini: makan tiga kali sehari adalah hal yang biasa, bahkan mungkin tidak Anda sadari karena tubuh Anda sudah secara otomatis melakukannya. Akan tetapi, berpuasa akan mengubah cara pandang Anda terhadap pekerjaan makan. Seolah-olah berbuka puasa adalah suatu laku kenikmatan penghuni surga yang diturunkan sejenak ke meja makan. Padahal, itu hanyalah makan, dan makan itu sebenarnya biasa. Dalam hal ini, berpuasa masuk ke dalam proses defamiliarisasi itu.
Begitu pun karya sastra. Menurut Shklovsky, karya seni, dalam hal ini mencakup sastra, tidak menjelaskan tentang sebuah objek, tetapi menghadirkan pengalaman estetik dari objek itu. Dia banyak mengutip karya Tolstoy dalam esainya. Misalnya ketika dia menjelaskan cara Tolstoy menggambarkan hukuman cambuk. Begini Tolstoy menarasikan hukuman cambuk dalam salah satu karyanya, “Shame”:
Untuk menelanjangi orang yang telah melanggar hukum, membanting mereka ke lantai, lalu memukul pantat mereka dengan cambuk, dan melakukan semua itu di hadapan orang lain – kemudian menyebutnya hukum. Ini sungguh aneh.
Di situ, Tolstoy berhasil menggambarkan hukuman cambuk yang biasanya dipandang sebagai “hukum yang sudah umum berlaku” menjadi sesuatu yang seolah-olah baru pertama kali dilihatnya. Seperti saat Anda mendengar bahwa ada penjahat yang diinterogasi polisi dengan cara disiksa untuk mengakui kejahatannya. Mungkin Anda memaklumi karena memang seharusnya orang yang sudah berbuat jahat diperlakukan demikian. Akan tetapi, Tolstoy berbeda. Seolah-olah ia mempertanyakan bahwa hukuman tidak kalah kejamnya, atau bahkan lebih kejam, daripada kejahatan yang menyebabkan hukuman itu berlaku.
Mungkin sekian tentang Shklovsky dan Tolstoy, tetapi saya pertahankan dulu defamiliarisasinya karena ternyata ada sastrawan Indonesia yang menggunakan konsep itu dengan unik. Ya, setidaknya menurut kacamata sempit saya. Dia adalah Gunawan Tri Atmodjo (selanjutnya disingkat GTA). Walaupun namanya tidak sebesar Tolstoy atau Chairil, tetapi ada kekhasan tersendiri yang memancar dalam tulisannya. Mungkin tidak semua karyanya akan saya bicarakan di sini. Cukup satu, dan itu jatuh kepada Pelisaurus.
Bagi, maaf sedikit suku-sentris, Anda yang orang Jawa, mungkin antara asing-tidak asing dengan istilah yang dicatut dalam judul itu. Tidak asing karena memang ada dalam keseharian, lantas menjadi asing karena tabu dibicarakan. Bagaimana tidak, peli adalah kemaluan laki-laki. Walaupun tabu, menurut saya itu lucu karena GTA secara unik menyandingkannya dengan “saurus”, sebuah morfem yang umumya dinisbatkan untuk menamai spesies purba: dinosaurus dan saudara-saudaranya. Sampai di sini, saya rasa defamiliarisasi itu sudah bekerja. Dengan menyandingkan antara peli dan saurus, GTA berhasil menciptakan satu istilah yang tidak biasa dalam perbendaharaan kata, paling tidak, di dalam kepala saya sendiri.
Kumpulan cerita di dalamnya tidak jauh dari judulnya, yaitu berkutat antara peli dan segala hal yang berbau ngeloco (Indonesia: onani). Dalam “Pelisaurus” misalnya, tokoh Aku sebagai narator membangkitkan romantisme masa kuliahnya yang pernah menjadi kenalan Sri Suwartini, Menteri Kebatinan yang baru saja dilantik. Tak tanggung-tanggung, Aku pernah menjadi pacar Sri Suwar-Suwir, julukan Sri Suwartini saat kuliah, selama beberapa bulan. Nahasnya, pada suatu kencing, Sri Suwar-Suwir tak sengaja masuk ke toilet yang ada gambar dinosaurus berkepala peli-nya. Itu adalah gambar yang diciptakan Aku setelah dia ngeloco dengan tenang pasca menembak Sri. Sri pun trauma dan hubungan mereka renggang setelahnya.
Walaupun terdengar agak aneh, “Pelisaurus” agaknya punya alur yang tidak terlalu membuat kaget daripada “Banci Gento”. Bayangkan, seorang Ali Gempil, tukang pukul yang amat maskulin, berakhir menjadi waria. Ceritanya lagi-lagi dinaratori oleh Aku, seorang teman seperkelahiannya yang menjadi doyan waria gara-gara saat menonton bioskop pernah dilocoin oleh waria. Ritual ngeloco yang biasanya dilakukan secara privat dan merupakan rahasia pribadi (paling jauh keduanya tahu rahasia perlocoan masing-masing), akhirnya bergerak ke arah jamaah dengan waria karena bersama para waria itu, kami telah mencicipi surga dunia yang asing (hal 66). Di akhir cerita, Aku bertemu dengan waria paling direkomendasikan di sekitaran Stadion Sriwedari bernama Elisa dan memintanya untuk “menyedot” walaupun ada pilihan “tusuk”. Ternyata oh ternyata, Elisa itu adalah Ali Gempil.
Cerita yang lain lagi, “Poni Kirik”, malah lebih membuat saya geleng-geleng kepala sekaligus tak habis pikir. Aku, lagi-lagi GTA memilihnya sebagai narator, secara tidak sengaja menemukan potret lawas yang berisi empat orang berjajar dengan gaya potong rambut unik yang bernama poni kirik (Indonesia: poni anjing). Keterangan model rambut itu tertulis di balik kertas potret. Aku yang seharusnya sedang dalam masa pengerjaan skripsi menjadi terpecah konsentrasinya dan lebih tertarik menelusuri sejarah poni kirik itu. Ternyata nihil, poni kirik tidak ditemukan dalam dokumen apa pun atau dalam tuturan orang setua siapa pun.
Aku hampir menyerah hingga pada suatu hari temannya yang seorang penyair, Sarudin, menginap di rumahnya sebelum menghadiri sebuah konferensi. Pada hari kedua Sarudin menginap, Aku dikejutkan oleh fenomena yang aneh tapi sangat pas momennya. Sarudin muncul dengan model rambut poni kirik dan wajah yang sangat pucat. Beberapa hari setelahnya, Sarudin meninggal dunia. Aku sangat berduka, tetapi juga penasaran. Dari mana Sarudin bisa bercukur dengan model poni kirik? Sedangkan tidak ada satu pun orang, bahkan tukang pangkas, yang mengetahui poni kirik itu. Hingga suatu malam, Aku bermimpi sangat aneh. Saat sudah terjaga, Aku memutuskan untuk ngeloco dan mengusapkan spermanya ke kepalanya. Seketika, berubahlah model rambutnya menjadi poni kirik.
Jika dilihat secara jeli, defamiliarisasinya GTA terletak pada familiarisasi itu sendiri. Ngeloco yang jamak ditabukan diubah menjadi hal yang seolah “keseharian” atau “wajar” dalam cerita-ceritanya. Mulai dari Aku yang ngeloco selepas menembak Sri Suwar-Suwir, ngeloco di bioskop, hingga ngeloco kemudian spermanya dijadikan shampo seolah-olah adalah hal yang angin lalu. Dan itulah yang mengagetkan pembaca saat para tokoh sama sekali tidak kaget. Seolah-olah ngeloco sudah menjadi hal yang amat biasa dalam alam pikiran para tokoh. Sama biasanya ketika Anda bilang “aduh” saat kaki kepentok kursi atau makan tiga kali sehari.
Tentunya ngeloco tidak hanya dihadirkan dalam ketiga cerita pendek itu. Dalam menulis Pelisaurus ini, GTA menggunakan metode “tarik nafas-berhenti” untuk meletakkan komposisi cerpennya. Maksudnya, setelah cerpen yang agak, atau bahkan luar biasa, panjang, akan ada selingan cerpen super pendek dengan kisaran dua atau satu halaman saja. Setelah itu, hadir kembali cerpen yang panjang. Mungkin tujuan GTA mulia, yaitu agar pembaca bisa mengistirahatkan keheranannya setelah membaca cerpen-cerpen yang panjang itu. Bayangkan, betapa pembaca tidak terheran-heran jika hampir seluruh cerpen yang panjang itu ada kaitannya dengan peli dan ngeloco yang “difamiliarkan”.
Dalam “Franky Idu” misalnya, GTA menggambarkan internalisasi nilai-nilai perlocoan dari seorang kakak kepada adiknya. Si narator, dalam hal ini adik, berkata begini:
Ia menyarankanku agar belajar meludah dengan baik dan benar karena itu akan berpengaruh pada kualitas sepermaku. Ia juga menambahkan agar aku tak segan meludah kapan pun dan di mana pun apabila mendapati hal yang tak menyenangkan. Senada dengan sarannya agar aku tak ragu-ragu untuk ngeloco apabila melihat sesuatu yang membuatku terangsang (hal 105).
Dalam kutipan itu, bisa dilihat bahwa tidak ada kekagetan sedikitpun yang dirasakan para tokoh saat bertemu dengan “ngeloco” dan “sperma”. Aku, dalam hal ini sebagai adik, tampak biasa saja, bahkan nantinya akan percaya, dengan korelasi antara meludah dengan ngeloco itu. Kakak apalagi. GTA melanjutkan begini: Ketika mengatakan hal itu, raut muka kakakku sangat serius. Kadarnya mungkin setara dengan mimik tokoh penting yang berwasiat sebelum wafat di film-film peraih Oscar (hal 105).
Sebelum menghabisi bukunya dengan “Balada Trijoko dan Sundari”, sebuah cerita pendek terfragmen-fragmen yang amat membosankan karena tidak ada peli dan ngeloconya, GTA menghadirkan “Rudolf Lakang”. Bahkan untuk membaca judulnya pun saya harus terheran-heran. Bayangkan, lakang adalah bahasa Jawa untuk selangkangan, dan ayah mana yang tega menamai anaknya seperti itu? Perjalanan hidup Rudolf Lakang pun tidak pernah jauh-jauh dari pusaka yang ada di antara dua selangkangannya. Ia sangat mencintai ngeloco hingga saat ia sadar akan kedekatan ajalnya, ia membeli sebuah kayu penanda pusara. Ditulisnya epitaf seperti ini dalam kayu itu: telah ngeloco dengan tenang di alam baka// Rudolf Lakang.
Itulah alasan saya menyebut GTA punya kekhasan tersendiri. Bandingkan dengan Chairil yang defamiliarisasinya memang terletak pada defamiliarisasi itu sendiri. Tak bisa dielak bahwa individualismenya memang ditujukan untuk mengekspresikan sesuatu yang tidak biasa pada zamannya. Atau kembali lagi kepada Tostoy yang juga menggunakan defamiliarisasi dalam novelnya yang terkenal, War and Peace. Di situ, menurut Shklovsky, lagi-lagi Tolstoy bercerita seolah-olah peperangan adalah suatu hal yang baru. Padahal, seperti imperium-imperium besar di Barat sana, Rusia tempat Tolstoy berada telah menjadi kandang perang sejak berabad-abad lamanya. Namun, tetap saja harus diakui, defamiliarisasi Tolstoy masih terletak pada defamiliarisasi itu. Maka, dapat dikatakan bahwa GTA berbeda! Dalam satu kutub defamiliarisasi yang sama, penulis lain mengangkat sesuatu yang seolah-olah dianggap tidak biasa, sedangkan GTA malah membuatnya biasa saja.
Mungkin saya beberkan juga alasan yang mendasari pentingnya defamiliarisasi dalam karya sastra. Setidaknya mengutip Shklovsky, jika semua hal yang ada di dalam kehidupan dilakukan tanpa kesadaran, maka sama saja kita tidak hidup. Artinya, ketika hal-hal yang familiar; biasa; dilakukan tanpa kesadaran yang berarti, sudah menguasai kehidupan, maka sama saja kita tidak bisa menikmati kehidupan itu. Karya sastra hadir untuk membuat hidup lebih “terasa”. Setidaknya GTA telah menyadarkan saya bahwa ngeloco itu sebenarnya hal yang amat dekat dengan hidup. Membuat ngeloco tabu sama saja dengan mengkhianati makna kehidupan yang berkemaluan ini.
Tapi sebentar, dalam teori naratologi, narator memiliki posisi paling dekat dengan penulis ketimbang tokoh-tokoh yang lain. Narator dalam setiap cerita di Pelisaurus adalah Aku dan Aku selalu menjadi penggemar ngeloco. Jadi, apakah cerita-cerita yang berkutat dengan peli dan ngeloco itu ada kaitannya dengan GTA? Entahlah, hanya Tuhan dan GTA yang tahu.(*)
Muhamad Muflihun, senang berkebun dan sedang merintis sebuah toko buku. Terkadang juga ngobrolin sastra bersama kawan setongkrongan.












