Menyambut akhir pemerintahan Megawati, kampanye bermunculan di sudut kota. Sementara aku justru sibuk mencari Pak Sukardi—tukang becak yang sudah kuanggap bapakku sendiri. Empat puluh tahun lalu, ia datang seorang diri ke kota ini. Pingsan di terminal Wonokromo, ia mengaku digendam orang. Dompet seisinya hilang. Ia yang tak punya siapa-siapa itu memulai hidup baru di sini. Pangkalan ini adalah rumahnya. Becak tua adalah tempat tidurnya. Cak Di pemilik warung kopi, Pak Mian tukang koran, Bu Tik penjual nasi pecel, adalah saudara-saudaranya. Kemudian aku adalah anaknya. Kudengar kabar bahwa tadi pagi Cak Di menemukan Pak Sukardi dalam kondisi tidak sadar. Ia dilarikan ke Rumah Sakit Karang Menjangan. Sepanjang perjalanan menyusul mereka, aku ingat utangku pada Pak Sukardi.
**
Utangku kepada Pak Sukardi bukanlah tentang uang. Pak Sukardi sudah membekaliku ilmu dan kepercayaan diri, hingga aku pulang dengan ijazah seorang sarjana akuntansi. Karenanya, aku aku punya utang yang ingin kulunasi suatu saat nanti.
Sejak TK hingga SD, aku langganan becak Pak Sukardi. Bapakku sibuk menggulung kabel dinamo sementara ibu menjadi buruh binatu—datang dari rumah ke rumah untuk mencuci dan setrika. Mereka sering meninggalkanku di rumah kontrakan sendirian. Aku tidak suka kesunyian, sebab bayangan hantu pada film yang pernah kutonton sering muncul bila aku sendiri. Seperti hantu Suzzanna dengan pakaian putih panjang dan tawanya yang khas itu. Kuhabiskan masa kecilku di pangkalan bersama para tukang becak hingga ibu selesai bekerja. Kubawa buku pelajaranku. Pak Sukardi menjelma guru, mengajariku baca-hitung dengan lebih mudah dibanding cara dari sekolahku. Aku juga gemar mencoba mengisi teka-teki silang. Pak Sukardi yang kemudian melengkapi kotak-kotak kosong itu.
Pak Sukardi sering memberiku uang saku sampai-sampai aku bingung siapa yang sebetulnya lebih kaya di antara kami. Ibu membayarnya tiap bulan, namun ia memberikan uang padaku tiap hari. Ia juga sering memberikan uang receh untuk anak-anak di sekitarnya yang menangis hanya karena ingin beli es lilin atau sebungkus kacang bawang. Ia bilang, uang hasil menarik becaknya selalu sisa untuk dimakan sendiri. Aku bilang ditabung saja. Lalu ia tertawa.
“Pak Sukardi kenapa pintar?” tanyaku suatu hari.
“Aku dulu sekolah juga sepertimu,”
“Kenapa tidak jadi guru saja?”
“Sekolahku tidak lulus. Makanya kau harus pintar sekolah agar nanti bisa dapat kerja baik,”
Ucapan itu yang menancap di pikiranku. Bila aku tidak mengenal Pak Sukardi mungkin aku tidak mengenal mimpi. Cita-citaku tetap menyala karenanya, sekalipun ibuku sering meredupkannya. Perempuan menikah saja, nanti cari suami kaya, agar tidak susah hidupnya seperti ibu. Tidak usah sekolah tinggi-tinggi. Begitu ibu bicara.
Aku tidak menuruti ibu untuk mencari suami kaya, karena tidak semua perempuan bersuami kaya hidup bahagia. Di masa kecil, aku sering mendengar cerita orang dewasa. Bos ayahku sering melakukan kekerasan pada istrinya hingga memar-memar badannya, namun istrinya tetap bertahan di rumah itu. Mana bisa pergi, ia makan dari suami. Bila ia pergi, ia hanya akan menjadi buruh seperti ibu sebab tidak punya keahlian. Ia tidak punya pilihan selain bertahan dan menerima. Betapa menderitanya kehidupan seperti itu. Aku tidak ingin jadi burung dalam sangkar.
Ayah dan ibu yang sebelumnya keberatan mulai menyanggupi keinginanku untuk kuliah. Mereka mengusahakan yang terbaik. Aku lulus dan mendapatkan pekerjaan layak sebagai karyawan bank swasta di luar kota. Aku sudah punya gaji yang cukup. Sebagian gaji pertamaku kusimpan untuk membeli radio yang cukup bagus untuk Pak Sukardi. Ia suka mendengar berita. Dan musik dangdut selalu membuatnya semangat bekerja. Sebagian lagi untuk mengajak orang-tuaku ke sebuah depot legendaris makanan laut. Sejak dulu ibu bilang ingin makan kepiting yang sesungguhnya, bukan rajungan yang sesekali kami beli di pasar. Kami memang lahir dan besar di kota ini, depot itu dapat kami datangi dengan jalan kaki. Tapi uang lah yang membuat kami tidak pernah menjangkau tempat-tempat macam itu.
**
Setelah tiba di rumah sakit, aku bagai ayam kehilangan induk. Pikiranku makin bercampur aduk. Ada perasaan yang begitu tidak nyaman bersemayam di dadaku. Kutanya tiap orang berseragam di sana. Saat tiba di IGD, aku mendapatkan informasi tentang Pak Sukardi. Ia sudah dipindahkan ke ruang Seruni. Kujelajahi rumah sakit itu sambil berdoa Pak Sukardi masih bertahan. Cerita tentangnya berulang di kepala tanpa kuminta.
Baru setahun belakangan, saat Pak Sukardi sudah mulai lemah dan sering masuk angin, ia menceritakan kepada kami tentang siapa dirinya sebenarnya.
“Gendam itu tidak pernah terjadi,” ia mulai bercerita.
“Aku sengaja datang, lari dari kampung dan menaiki bis tanpa tujuan. Aku pasrah ke mana bis akan membawaku pergi. Aku bahkan tidak memiliki uang satu lembar pun. Dompet dan kartu identitasku sudah aku buang di sungai.”
Kami mematung.
“Kutinggalkan istriku yang sedang mengandung,” imbuhnya
Ia bilang September tahun itu, negara memang sedang porak-poranda. Dari ibukota hingga ke tempat-tempat terpencil dilakukan pembersihan untuk orang-orang seperti Pak Sukardi. Bagi negara, Pak Sukardi adalah hama yang harus dihancurkan. Militer adalah penyemprot peptisida yang andal. Orang-orang yang terlibat partai terlarang dibunuh tanpa diadili. Pak Sukardi melihat sendiri, tubuh teman-temannya dipotong sekenanya seperti memotong pohon pisang. Alat kelamin digantung seperti lidah sapi yang dijual di pasar. Rupanya tidak hanya orang-orang yang namanya tercatat, keluarga pun banyak yang mereka buru.
Dalam kekalutan situasi itu, istri Pak Sukardi meminta Pak Sukardi pergi menghilangkan jejak. Keluarganya orang terpandang di kampung tak ingin mendapat masalah. Ia katakan kepada orang-orang bahwa Pak Asnawi, seorang kepala sekolah SD negeri di kota itu sudah mati. Tak ada lagi yang mencarinya. Pak Sukardi lah yang kemudian lahir di terminal Wonokromo hari itu.
“Sudah beberapa bulan ini, aku rutin menulis sudah surat kepada keluargaku di kampung, tapi sampai hari ini tidak ada yang mencariku.”
Surat yang dilayangkan Pak Sukardi hingga saat ini tidak pernah berbalas. Tak ada seorang pun yang datang mencari Pak Sukardi. Mungkin karena keluarganya tidak ada yang mau berurusan lagi, atau keluarganya sudah tidak tinggal di kotanya, atau barangkali mereka juga telah dilenyapkan? Ia sendiri takut pulang. Kampungnya meninggalkan luka yang dalam.
Saat ia menceritakan masa lalunya kepada kami di warung itu, kurasakan kopi buatan Cak Di bertambah pahit.
“Betul ini ruang Seruni, Bu?” tanyaku kepada seorang perawat setelah kuikuti arahan satpam dan memutari rumah sakit yang begitu luas ini.
Ia mengangguk. Setelah mengecek nama Pak Sukardi di buku tebal, ia lalu mengarahkanku masuk ke bangsal. Di satu tempat tidur, kudapati Pak Sukardi terbaring dengan selang oksigen di hidungnya. Ada rasa sejuk di dadaku setelah melihat seorang perempuan paruh baya duduk menemaninya. Tepat saat ia tersenyum menyapaku, kutemukan tatapan Pak Sukardi pada matanya. (*)
Intan Andaru, Penulis Emerging Ubud Writers and Readers Festival (2021). Sempat menjuarai lomba cerpen Festival Sastra UGM (2021). Menulis novel Perempuan Bersampur Merah (GPU, 2019). Masih tetap menulis di tengah kesibukan melanjutkan studi spesialis bedah urologi. Buku terbarunya, Bia dan kapak Batu (2025)












