Menu

Mode Gelap
Api Prometheus I Cerpen – Aldi Rijansah Puisi Ngadi Nugroho Asmara yang Tidak Diakali Waktu Puisi Maulidan Rahman Siregar Puisi Ilham Wahyudi

Puisi · 10 Aug 2025 14:30 WIB ·

Puisi Bulan Maharani


 WikiArt.org Perbesar

WikiArt.org

Bagaimana Aku Ingin Mati?

Lebih baik merencana mati,
Daripada mati sendiri
Tapi lebih baik lagi
Kalau sembunyi,
Malaikat tahu aku
Paling jujur soal
Bagaimana aku ingin mati

Aku Ingin Mati

Aku ingin tenggelam.
Di antara ikan-ikan
Paus, hiu, ubur-ubur
Atau ikan cupang
Mereka diam menyaksikan
Sampai tubuhku enggan lagi minta pertolongan

Aku pergi, ketinggian
Jauh dari air penuh ikan
Tubuhku terbang tanpa sayap-sayap
Mendarat di atas kawah
Kuyup darah merana
Hilang lewat seribu purnama

Tapi aku ada di rumah
Di mana mati tidaklah mudah
Mie ayam, soto bakso saksinya
Aku merencana
Tuhan berkata
“Besok lagi ya, matinya”

Tuhan, Kenapa Aku Perempuan?

Berdiri tegak, hanya di atas dua kaki
Untuk diteriaki, bahwa aku tidak bisa apa-apa
Padahal untuk menjadi apa-apa aku harus bisa segalanya
Hanya melalui aku,
Hanya dengan teriakku.

Sendok kutadah untuk sisa-sisa
Kucuci bersih.
Kutahan lapar, semoga besok dunia buatku kenyang

Tapi Tuhan meninggalkanku sendirian,hanya karena aku perempuan.
Tuhan marah karena kau perempuan.
Hidup menghidupi urusan lelaki
Aku diam, aku perempuan

Di atas mimbar, aku dibungkam
Ingin kuteriaki kalau
Sebagian, pecundang!
Tak semua lelaki pantas berdiri di sini

Aku perempuan yang ditinggalkan Tuhan,
Sebab malam itu kubiarkan
Angin menyapu ruang kosong dalam telinga
Membasuh rambut yang ikut menari bersamanya
Dengan kaki terbuka
Kubilang, “Anjing!”
Tuhan kenapa aku perempuan
Harus juga banyak dosa
.
Mengapa Doaku Tak Kunjung Dikabulkan?

Seribu hari sekali
Aku lantunkan doa-doa
Tentang, hidup yang cuma satu kali
Tapi, kepala berisik merutuki
Tapi, hati yang terbiasa meratapi

Tuhan tidak penah datang
Pada doa-doa yang aku lantunkan
Katanya, berisik minta cuma-cuma

Tuhan tanya, doa untuk siapa?
Apa susahnya tinggal kabulkan
Yang maha kuasa itu kau, Tuhan!
Lantas, untuk siapa aku percaya kehidupan.

Bulan Maharani, Tinggal di Sumedang. “Menulis untuk merasa hidup, dibalut diksi-diksi sederhana yang tercipta atas kejujuran dan kesederhanaan. Aku Bulan yang tiba-tiba ada dibumi atas kehendak tuhan, dan aku ‘Perempuan’.” Instagram: bulanmhrnii

Artikel ini telah dibaca 193 kali

Baca Lainnya

Puisi Fahrullah

11 January 2026 - 03:01 WIB

Puisi Hafifah Harahap

4 January 2026 - 20:53 WIB

wikiart.org

Puisi Yusuf Idin Adhar

30 November 2025 - 08:07 WIB

Rene Portocerrero, Dancers via wikiArt.org

Puisi M.K. Gotansyah

25 November 2025 - 00:27 WIB

Helena Almeida, Voar, via WikiArt.org

Puisi Cyprianus Bitin Berek

9 November 2025 - 04:01 WIB

Dymntro Kasvan, Am I Susanna, via WikiArt.org

Puisi Salman Alade

20 October 2025 - 00:31 WIB

Billy Apple, Portrait of The Artist in Drip Dry Suit, 1962 via WikiArt.org
Trending di Puisi