Kurator Festival
seseorang baru benar-benar mati
di depan kamar kurator festival
ia jadi sungkan sana sini pergi
dan memilih pindah rumah
ia mungkin lupa
kalau ia pernah membunuh
beberapa orang yang ingin ke festival
hanya karena selera
Balige, 2025
Mabuk
setelah menyerahkan buku puisi jeleknya padaku
kawanku yang baru kulihat batang hidungnya itu
kupaksa untuk jangan tidur di bis
kita nanti bisa bahas abang fadlizon
pamannya, dan kebudayaan secara umum
jika banyak waktu nanti di festival
kita bikin puisi yang lebih serius
tentang tanah leluhur, agama,
atau tuhan yang lucu
sialnya, kawanku malah mabuk
mulutnya bau bawang putih
bau martabak mesir yang sudah pindah ke qatar
setelahnya, kuhubungi kawanku yang lain
dan berdoa agar kawanku ini lekas tidur
biar aku saja yang urus kebudayaan!
Balige, 2025
Plang Masjid
kota ini tumbuh sesuka hatinya
ia membangun masjid besar & tinggi
tanpa ada niatan sekali pun
bikin plangnya
untung saja saya kenal tuhan
saat diajak minum teeste oleh dua orang kawan
kutinggalkan mereka demi menunaikan ibadah kencing
jalanlah aku kiri kanan
jalan beberapa langkah
tau-tau ketemu rumah-Nya
santai saja, kugas aja kencing,
alhamdulillah
karena kenal dekat dengan tuhan
tak kuucapkan terima kasih
lagipula memang tak ada orang
di kota asalku
memang banyak pula yang ke masjid
hanya untuk kencing
Balige, 2025
Palestina
dalam sesi diskusi dan pembacaan karya
aku mendengar nama Palestina disebut
oleh delapan orang
di antara yang delapan
ada aku di situ
sedang diam
Balige, 2025
Sering Terjadi
“Bapak muslim?”
“Bukan, saya maulidan.”
“Maaf, bapak muslim?”
“Tak perlu minta maaf”
“Mau dipanggil abang, ya?”
“Nah, gitu dong.”
“Abang muslim?”
“Bukan, saya maulidan”
Balige, 2025
Maulidan Rahman Siregar, Emerging Writers Balige Writers Festival 2025. Buku terbarunya, Cara Kerja Tuhan (2025)







