Kapal Golffanger milik Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang seharusnya digunakan bongkar-muat gula dan rempah-rempah, kali ini merapat bukan untuk kepentingan koloni. Kapal dagang itu datang untuk menyelundupkan budak-budak milik Cornelius Bart van Rochussen, seorang Kontroleur Suikerfabriek Kamrakan paling bengis yang pernah aku kenal.
Ini adalah kali ketiga aku melakukan pengawalan. Tapi Pieter Schoof berkata padaku bahwa misi hari ini aku mesti lebih berhati-hati. Karena ia kenal seorang budak yang ada dalam rombongan. Ia pernah melihat budak itu memanggul seorang perempuan dengan baju dengan banyak cipratan darah menuju utara dermaga pada malam sebelum gudang Pabrik Gula Kamrakan itu berkobar akibat kerusuhan yang disebabkan bentrok para buruh tani dan para centeng. Budak berambut gelombang itu membawa seorang perempuan seolah yang ada dipundaknya adalah sekarung gula.
Budak itu, kata Pieter, bukanlah budak biasa. Ia dikabarkan pernah diperebutkan di tanah Belanda, tanah kelahiran yang mungkin saja tidak bisa kuinjak lagi, sebelum akhirnya ia dibeli dengan harga tinggi oleh Cornelius Bart van Rochussen dan dibawa kembali ke Hindia Timur.
“Laki-laki itu bagaimana pun adalah budak kesayangan Tuan Cornelius Bart,” kata Pieter.
“Meski orang-orang menganggap budak seperti hewan peliharaan?” aku bertanya.
“Meski orang-orang menganggap budak seperti hewan peliharaan,” jawab Pieter.
“Apa yang membuatnya istimewa sehingga ia dibeli dengan harga tinggi?”
Pieter Schoof menyalakan sebatang kretek, menghisapnya perlahan kemudian menggeleng pelan di antara kepul asap. Lelaki itu, kata Pieter, sudah menjadi barang jual-beli sejak usianya sembilan tahun. Kesetiaan dan kepatuhan kepada tuannya tak perlu diragukan lagi.
“Hanya karena itu?” aku bertanya.
“Bukan, bukan hanya karena itu.” Pieter kembali menggeleng. “Budak itu memiliki mata berwarna biru terang.”
Aku terperanjat mendengarnya. “Apakah ia adalah golongan dari kita, Pieter?”
“Entahlah, tubuhnya tak jauh beda dengan pribumi yang lain,” kata Pieter, “yang aku tahu, ia fasih berbahasa Belanda.”
Namun, justru kemampuannya itu malah membawanya ke jalan petaka. Ia jatuh cinta pada Anneke, gadis Belanda yang diboyong orang tuanya ke Hindia Timur untuk belajar bagaimana mengelola pabrik gula berserta isinya yang kelak akan jatuh padanya.
Di beberapa malam, budak itu kerap kali menyelinap ke rumah dinas milik kepala Suikerfabriek Kamrakan untuk mengirimi Anneke surat berbahasa Belanda. Berharap apa yang dilakukannya bisa meluluhkan hati si pujaan, namun sayang, surat-surat itu tidak berbalas satu pun. Si budak, bukannya menghentikan usahan yang sia-sia, ia justru berpikir perempuan itu pasti mengaguminya dalam diam. Budak itu belum juga putus asa, entah dari mana kegigihan itu, ia merasa bahwa suatu hari usahanya pasti membuahkan hasil.
“Aku yakin laki-laki itu sudah gila,” kataku. “Maksudku, seorang pribumi mencintai keturunan Belanda adalah kesalahan. Apalagi yang ia kejar adalah anak dari kepala suikerfabriek. Kenapa ia berbuat sejauh itu?”
“Tidak lebih gila dari yang dilakukan Tuan Cornelius Bart,” sahut Pieter sambil sedikit tersenyum. “Meski si kontroleur itu tahu apa yang terjadi antara budaknya dengan anak si kepala pabrik gula, ia diam saja.”
Aku mendesis pendek. Kulemparkan pandanganku sesaat ke tumpukan karung gula yang siap dikirim ke Eropa.
“Budak itu kabarnya pernah membakar trem pengangkut ratusan lonjor tebu lantaran mendengar kabar perempuan pujaannya akan dikirim ke Utrecht oleh Ibunya,” kata Pieter membuyarkan lamunanku. “Dan asal kau tahu, hari berlalu begitu saja. Tanpa ada perintah hukuman, tanpa ada cambukan dari Tuan Cornelius Bart.”
“Budak yang patah hati,” aku menyahuti, “seharunya ia tahu sejak mula, salah satu cara menyakiti diri sendiri adalah dengan jatuh cinta pada orang dengan golongan yang lebih tinggi.”
Tapi beda cerita di belakang, para centeng menghajarnya hingga sekujur tubuhnya lebam. Darah segar mengucur tak habis-habis dari bibir, hidung, bahkan telinganya. Salah seorang centeng yang kesetanan mematahkan lengan kiri si budak. Karena dengan terbakarnya ratusan lonjor tebu, terbakar pula sebagian upah para centeng.
Dan semenjak kabar itu ia menjadi sosok yang lain. Tatapannya kosong. Di waktu-waktu tertentu, ketika melewati gudang pabrik –tempat kali pertama bertemu atau lebih tepatnya menyelamatkan Anneke, ia kerap menggumamkan nama perempuan itu berulang kali. Atau menuliskan nama pujaannya di tanah dengan batang tebu lalu memandanginya lama. Jika sudah seperti itu, satu-satunya yang dapat menghentikannya dari lamunan adalah sabetan cambuk para centeng.
Awalnya, laki-laki itu mendapat belas kasihan lebih dari para buruh tani. Beberapa dari mereka rela membagikan jatah makan siangnya agar ia bisa lebih kuat dalam menjalani hari-hari. Karena mereka merasa budak itu, meski diistimewakan oleh Cornelius Bart van Rochussen, juga masih bagian dari ketidakadilan industri. Dan di sisi lain mereka barharap lelaki itu bisa menjadi pintu keluar terdekat, atau setidaknya telik sandi, dari hubungan budak-tuan di tanah jajahan ini.
Dengan begitu si budak adalah harapan banyak orang. Namun alih-alih mendekat ke barisan para buruh tani dan berserikat, lelaki itu malah menghindari kerumuman.
“Apa dia sudah gila?” tanya mereka satu waktu.
“Aku tidak gila!” teriak lelaki itu. “Aku hanya sakit. Dan satu-satunya yang bisa menyembuhkanku hanyalah Anneke!” suaranya lebih keras dari sebelumnya.
“Apa yang ia katakan harusnya sudah cukup meyakinkan kita bahwa ia benar-benar gila,” kata salah satu dari mereka.
“Ah, tidak ada guna berharap pada seseorang yang memikirkan dirinya sendiri pun tidak,” tambah lainnya.
Peristiwa patah hati –sekaligus patah lengan kiri, kata Pieter, membuat budak itu menjadi perenung paling tabah. Sejak saat itu pula ia diberi keleluasaan Tuan Cornelius Bart, ketika budak-budak lain tangan dan kakinya dirantai.
Lantas, pada satu waktu saat petang menghantam, dari kejauhan ia mendengar keributan dan derap langkah para centeng mengejar seorang lelaki yang diteriaki pencuri. Budak itu berniat untuk membantu para centeng untuk menangkap si pencuri. Tapi hari naas tak ada di kalender. Si budak justru jadi santapan empuk bagi para centeng untuk meluapkan emosi, lantaran mereka kira dialah yang menyelinap dan mencuri berkas di ruang kerja milik Cornelius Bart van Rochussen.
“Kali ini ia benar-benar mendapat pelajaran,” kataku.
Pieter Schoof menggeleng. “Salah seorang dari centeng-centeng itu pernah mengusulkan untuk menghukum mati si budak. Barangkali, itu tindakan yang tepat. Tapi seperti yang sudah-sudah, dan bisa ditebak, Tuan Cornelius Bart menolak keras usulan itu,” kata Pieter.
“Tuan kontroleur kita, mungkin, tidak mau rugi atas puluhan gulden yang telah ia keluarkan untuk budak itu,” aku menebak.
“Lebih dari itu, yang sampai saat ini tidak diketahui oleh banyak orang, budak itu adalah anak dari Tuan Cornelius Bart van Rochussen sendiri,” kata Pieter.
Angin melambat. Bau manis gula seolah lebih tajam dari biasanya. Beberapa belas detik setelahnya Pieter Schoof melanjutkan, “Budak itu anak seorang Nyai Jawa dari Tanjung Tembikar.”
“Mijn God. Ia anak yang dibuang.” Sesaat aku menahan napas. “Orang-orang dengan pangkat tinggi selalu bertindak aneh.”
“Barangkali begitu, sebelum tuannya, atau lebih tepat jika aku sebut ayahnya membelinya,” kata Pieter Schoof lirih. “Memang, kita tak pernah bisa menebak apa yang akan terjadi di tanah jajahan ini selanjutnya.” []
Rizki Amir, berkesenian di Jawa Timur. Buku puisinya yang telah terbit berjudul: Sarden yang Ringan (2021) dan Biografi Kendi (2024). Selain menulis, sebagian waktunya juga digunakan untuk berdagang.












