Di kota kecil penuh nepotisme ini, orang lebih takut kelihatan miskin daripada benar-benar miskin. Wajah boleh kusam, asal feed Instagram tetap glossy. Dan di sinilah kisah Doni Arkana berjalan—suami, ayah, dan alumni tetap grup “Rahasia Maxwin Sekali Spin”.
Doni, 30 tahun, bekerja sebagai karyawan kecil-kecilan dengan gaji yang datangnya seperti tamu: datang dengan “samlikum”, ditutup dengan “wa’alaikumsalam” tapi tidak lebih dari 24 jam.
Istrinya, Ranti Sulastri, 26 tahun, kata-katanya setajam tagihan paylater. Baginya, validasi sosial adalah kebutuhan dasar manusia keempat, setelah sandang, pangan, dan skincare.
“Mas, hidup itu bukan soal nyaman. Tapi soal tampak nyaman,” katanya sambil selfie pakai smartphone berlogo apel coak kesayangannya yang masih punya cicilan 11 bulan lagi.
Pada titik tertentu, Doni merasa jadi suami itu mirip karakter utama di sinetron: dituntut sabar, kuat, dan harus selalu siap berkorban. Maka ia pun nekat. Gaji satu bulan full ia bawa ke Olympus, berharap keberuntungan datang dalam sambaran petir Zeus.
Tentu saja, yang datang justru kenyataan: saldo ludes, dan istrinya ngamuk.
“MAS, KAU KIRA AKU NIKAH SAMA SIAPA? ATLET SLOT?!”
Suara Ranti menggema sampai ke grup arisan RT.
Pagi-pagi Doni sudah harus angkat kaki karena tangis Ranti. Tidak ada opsi klarifikasi. Ini bukan talkshow.
**
Dani mampir di rumah Fahri Cahyadi, teman lamanya. Seorang bujangan setia, cengengesan, dan dompetnya lebih sering kosong karena terlalu dermawan.
“Kalo lu jadi ayah, lu harus kuat,” kata Doni.
Fahri nyeruput kopi hitam tanpa gulanya. “Mungkin karena lu pikir jadi suami tuh harus jadi pahlawan. Padahal kenyataannya, kita cuma manusia biasa yang sok kuat, tapi nggak tau batas.”
“Gue ngerti lu pengin jadi suami keren, Don. Tapi jadi gak keren kalo duit gaji malah abis buat judi. Lu denger, makan seadanya udah cukup daripada gak makan sama sekali.” sambung Fahri sambil ngudud di terasnya.
Doni hanya mengangguk. Matanya kosong, seperti dompetnya. “Bego banget ya, gue.”
**
Minggu pagi. Setahun lebih setelah Doni pergi. Meninggalkan anak, rumah, dan semua kegagalannya. Entah apa tujuannya—mungkin untuk mencari ampunan, mungkin untuk lari dari diri sendiri.
Fahri bangun, dengan sebuah pesan dari Doni yang sudah lama nyantol di kepalanya.
“Gue nggak pantes. Jaga anak gue ya, kalo sempet.”
Sebuah pesan yang selalu diabaikannya, karena bahkan sebelum Doni ditemukan tergantung di atap kontrakannya pun dia sudah sangat sering menjaga bahkan memberi makan untuk anak-anak dari teman masa kecilnya itu.
Fahri diam sendiri, sembari membayangkan Doni melempar pertanyaan yang ia sudah tahu pasti.
“Bro, gue takut pulang. Anak gue udah gede belum ya? Ranti masih marah nggak?”
Fahri bergumam sendiri, “Anak lu masih kecil, Don. Tapi luka di rumah udah cukup gede.”
Doni kabur. Bukan karena cinta, tapi karena kalah. Kalah sama rasa ingin jadi suami ideal, kalah sama situs berakhiran angka kembar dan toto itu.
Doni pernah ingin jadi suami sempurna. Tapi seperti banyak pria lain, ia terjebak ilusi: bahwa uang bisa menyelesaikan segalanya. Bahwa jadi kepala keluarga harus selalu terlihat kuat, walau sebenarnya lemah.
Dan semua itu, dimulai dari satu hal kecil: keinginan untuk terlihat sukses, bukan menjadi sukses.












