Menu

Mode Gelap
Api Prometheus I Cerpen – Aldi Rijansah Puisi Ngadi Nugroho Asmara yang Tidak Diakali Waktu Puisi Maulidan Rahman Siregar Puisi Ilham Wahyudi

Cerpen · 8 Jun 2025 18:40 WIB ·

Eksekusi


 Ilustrasi: Ahmad Redho Nugraha Perbesar

Ilustrasi: Ahmad Redho Nugraha

‘Saudara dijatuhi hukuman mati karena telah menginspirasi kelompok pemberontak untuk melakukan makar.’ Hakim telah menjatuhkan vonisnya kepada seorang penyair. Tidak ada uang dua milyar untuk menukar kepalanya saat eksekusi. Seseorang telah menghubungi ibunya, dengan uang dua milyar mayat orang lain akan menggantikan tubuhnya dan ia akan keluar penjara dengan identitas baru. Hakim tentu saja tidak membayangkan bagaimana seorang ibu harus melihat anaknya dihukum mati untuk sesuatu yang tidak dilakukannya. Anak itu bahkan tidak mati karena ideologinya, ia hidup dan mati, karena puisinya.

Ia seorang  penyair jalanan, bola matanya yang coklat muda  menunjukkan ribuan kilometer jalan kaki yang ditempuhnya dan ratusan halaman puisi yang telah ditulisnya. Meski terkadang mata itu kosong karena jiwanya sedang berkelana ke dalam sahara miliknya.

Lima tahun yang lalu, seperti biasa, ia berangkat menjelang senja, membawa kursi, meja lipat,  mesin ketiknya dan setumpuk kertas berwarna kecoklatan. Ia menggelarnya di pinggir alun-alun, di depan sebuah bioskop tua, yang lebih sering memutar film kuntilanak dengan poster tak senonoh, yang  tidak sesuai dengan isi filmnya. Ia duduk membelakangi sebuah gudang dimana kereta kencana berusia enam ratus tahun  kabarnya disimpan. Kadangkala ia membayangkan kereta kencana itu seperti kesenian jaman ini, yang disimpan di gudang berdebu.  Di sebelahnya, pemusik jalanan memainkan gendangnya, seakan menjadi pengantar meditasi untuknya menulis puisi, dan suara mesin ketiknya tenggelam dalam hiruk pikuk jalan raya. Di trotoar ini, pemusik dan pelukis jalanan biasa berkumpul, namun ia adalah satu-satunya penyair. Sebatang rokok tak lepas dari bibirnya, meski kadang habis tanpa dihisapnya. Ia tidak peduli bahwa ia akan mati kena kanker paru-paru atau impotensi seperti diperingatkan pada bungkus rokok, ia hanya tak pernah menduga ia akan mati terbunuh kekuasaan. Kawan-kawan sejalanannya akan menawarkan arak saat malam telah tiba, lalu ia membawa kemabukannya dalam puisi. Ia akan mengetik tanpa henti seperti sedang kesurupan hantu panitera pengadilan, lalu keesokan paginya ia akan membuangnya. Puisinya seperti ada ketika ia menulisnya, dan setelahnya tak berarti.

Ia hidup dari orang-orang yang membayarnya untuk menuliskan puisi, bukan karena ia tidak punya ijazah untuk menjadi pegawai negeri, tapi karena ia lebih ingin menyentuh orang-orang yang datang kepadanya dengan puisi, dan bukan dengan dokumen negara.  Ia memasang tarif minimal sepuluh ribu rupiah untuk membuatkan puisi atau surat cinta, tapi orang-orang biasa memberinya lebih,  cukup untuk makan dan minum kopi di angkringan. Mereka yang datang memang mencintai kata-kata dan meyakini bahwa puisinya sesungguhnya tak ternilai, dan harga yang dibayarkan adalah harga waktu dan tenaga yang dipakainya untuk mengetik saja, bukan nilai puisi itu sendiri.

Orang-orang datang memberikan tema, kata atau cerita kepadanya dan ia akan menuliskan puisi untuk mereka. Puisi itu kadang tentang mereka sendiri atau akan diberikan pada orang lain sebagai hadiah, ulang tahun, kelahiran atau perkawinan. Tidak semua orang memiliki berkat dengan kata-kata. Jaman dahulu, hanya empu yang bisa bersyair. Hampir semua jenis manusia pernah datang kepadanya, dari juragan minyak tanah yang ingin membuat surat lamaran untuk janda tetangganya, sampai seorang anak laki-laki yang masih SMP yang menabung tiga hari untuk meminta puisi  tentang keresahannya karena menyukai anak laki-laki lainnya.  Seorang ibu yang kehilangan anak perempuannya, membawa kesedihan dan kematian kepadanya, dan kembali setahun kemudian sambil membawa rantang berisi makanan. Ibu itu bercerita bagaimana ia menghafalkan puisi kehilangan itu untuk melepaskan dukanya. Ada ibu-ibu yang ingin puisi tentang kerinduan pada suaminya yang telah meninggal dan ada intelektual yang ingin puisi tentang absurdnya hidup. Namun ia menolak puisi yang diminta oleh tim sukses salah satu calon pilkada.   Dan meskipun ia suka memandang gadis manis yang lewat di hadapannya, ia tidak pernah memberikan puisi gratis untuk mereka.

Ia sebenarnya ingat hari itu, hari yang membawanya pada hukuman mati.  Hari itu sebenarnya hari yang cukup bahagia untuknya. Gadis penjual bunga tabur  yang sudah lama disapanya tanpa harapan, menjawab sapaannya lebih dari satu kata. Seandainya ia tidak begitu pemalu untuk urusan yang satu itu, mungkin ia sudah menulis puisi dan memberikannya di pemakaman tempat gadis itu biasa berjualan. Ia sedang mengetik puisi pesanan dari tukang becak tentang kesederhanaan ketika laki-laki itu datang, Wisnu memakai baju batik. Ia mengenal Wisnu sebelum ia memutuskan untuk menjadi penyair jalanan. Mereka berdua berkenalan pada pertemuan kelompok anarkis yang pernah diikutinya. Wisnu adalah laki-laki terbaik yang pernah ia kenal. Orang memang selalu salah paham dengan gerakan anarkis, yang diidentikkan dengan kekerasan, padahal mereka hanya menganggap negara tidak perlu ada. Namun Wisnu tidak suka puisi, ia hanya lewat saja dan ingin menyapanya. Mereka bicara tentang gerakan anarki yang akhirnya dipimpin oleh Wisnu, yang saat itu menjadi gerakan bawah tanah yang cukup penting, Orang yang tak kenal tidak akan pernah tahu siapa saja anggota mereka. Ketika Wisnu pamit sebentar untuk makan di angkringan, ia mengetik sebuah puisi untuk anarki dengan cuma-cuma. (Atas nama keamanan dan stabilitas nasional, puisi itu tidak bisa ditulis disini). Ia memberikan puisi itu kepada Wisnu, yang sambil bercanda, berkomentar ‘ah puisimu ini, aku ga pernah ngerti.’ Namun tetap meletakkannya di tas kulit tua milik kakeknya, dan mengajaknya ke pertemuan berikutnya. Ia menjawab ‘aku revolusi pakai puisi saja.’ Wisnu menyelipkan uang lima puluh ribu diantara kertas di sebelah mesin ketiknya, ketika ia menoleh untuk memberikan api pada rokok si tukang gendang.

Gerakan anarki semakin membesar, dan menduduki kantor-kantor pemerintah yang kemewahannya menghina kemiskinan rakyat. Seorang wakil Wisnu memakai puisinya untuk poster dan dibagikan pada anggota-anggota mereka yang semakin banyak sampai ke kampung-kampung. Meskipun tak ada nama penulis puisi itu, intel yang bekerja keras akhirnya mengetahuinya. Suatu malam, ketika ia sedang mengetik puisi untuk musisi yang patah hati dan ingin memakainya untuk lagunya, beberapa laki-laki berbadan tegap menangkap dan menaikkannya ke dalam truk. Ia tak sempat bertanya, dan kawan-kawan minumnya pun tak sempat sadar apa yang terjadi.

Peradilan berlangsung panjang, orang-orang terbagi antara mendukung para penguasa yang ketakutan dengan bahaya laten puisi dan para humanis yang membela kebebasan berekspresinya. Penyair itu bersikeras bahwa ia tidak bersalah.   Ia tidak lagi menghitung berapa kali ada kabar burung bahwa ia akan dieksekusi, ia tak lagi menghitung hari. Apakah ada artinya menunggu mati selama tiga tahun? Bukankah kita semua sudah menunggu mati seumur hidup. Ia hanya membayangkan ibunya yang tidak lagi kebagian beras miskin karena dianggap membesarkan pemberontak. Untungnya kelompok pendamping yang baik hati, memberikannya sebuah mesin tik bekas dan selalu bertanya saat datang; ‘apakah masih punya kertas kosong?’ Mereka juga membawakannya buku-buku. Ia suka buku tentang perbintangan dan pertanian, seperti cara beternak itik atau menanam bunga tulip. Hal-hal yang memenuhi imajinasinya.  Namun naiknya harga beras, skandal uang haji yang dipakai di pelacuran dan maraknya demonstrasi, menyebabkan para algojo gerah dan ingin menegaskan kekuasaannya dengan memenggal seorang penyair untuk menyemai ketakutan.

Pada malam terakhirnya, ia meminta bertemu dengan gadis penjual bunga tabur untuk menyerahkan tujuh ratus lembar puisi yang ditulisnya dengan pensil selama dipenjara. Lalu penyair bermata coklat muda itu menolak ditutup matanya, ketika brigade penembak melakukan eksekusinya.

Catatan: Terinspirasi dari Antoine Berard, penyair publik di daerah Beaubourg, Paris, Prancis.

Gracia Asriningsih, penulis lepas dan interpreter.

Artikel ini telah dibaca 159 kali

Baca Lainnya

Dipenggal Malam

11 January 2026 - 03:46 WIB

Requiem

4 January 2026 - 20:14 WIB

wikiart.org

Satu Sesi Percakapan

30 November 2025 - 07:53 WIB

Emile Bernard, Breton Woman at Haystacks via WikiArt.org

Rani

25 November 2025 - 00:10 WIB

Jacob Lawrence, The Library, 1960, via WikiArt.org

Manusia Pohon Beringin

9 November 2025 - 04:05 WIB

WikiArt.org

Serambi Masjid Kami yang Kotor

20 October 2025 - 01:05 WIB

Endre Bartos, People from The Space, 2005 via WikiArt.org
Trending di Cerpen