Januari, 2016
Sejak menikah, Mala telah kehilangan dirinya. Ia merasa hidup tapi tak hidup. Menikah di usia muda ternyata tidak sebahagia feed instagram para selebgram yang penuh dengan foto-foto kemesraanya. Di tahun keempatnya setelah ia menikah, Firman suamimya telah banyak berubah, apalagi semenjak kelahiran anaknya Ayu. Setiap malam tak lagi ada kecup di kening seperti malam-malam sebelumnya, bahkan disaat Mala ingin memberikan Ayu adik baru, tak pernah ada cukup waktu untuk Firman meladeninya, padahal itu hal wajib bagi seorang suami untuk memberi nafkah batin. Firman selalu saja punya alasan untuk menolak.
Mala—sebagai ibu muda, menghabiskan waktunya di rumah sebagaimana ibu rumah tangga pada umumnya. Hidupnya baik-baik saja, tapi semenjak Firman menyambih sebagai satpam di tempat karaoke, Firman mulai pelan-pelan berubah. Firman sudah mulai tak ada waktu tinggal di rumah. Pagi-pagi sekali Firman sudah harus mulai bekerja agar memenuhi target dan mendapatkan bonus dari perusahaan yang ia tempati bekerja dan ia harus berhenti saat sore hari sebab malamnya ia sudah harus berada di tempat karaoke. Firman harus menjaga tempat karaoke itu sampai pukul tiga dini hari. Firman pulang dan langsung terkapar karena kelelahan dan pola hidup Firman itu sudah berlangsung selama berbulan-bulan. Mala tak bisa melarang Firman untuk tidak bekerja sebab sebagai kepala keluarga, ia bertugas untuk menafkahi, apalagi di tengah kebutuhan tinggal di kota yang tinggi, maka sudah seharusnya Firman bekerja keras dan tidak ada persoalan dengan itu.
Ayu lahir, setelah baru tiga bulan Mala dipersunting Firman. Tak ada jalan lain untuk menunda pernikahan. Semua orang telah mempunyai takdirnya sendiri, dan barangkali begitulah takdir Mala dan Firman yang harus menikah di usia muda. Di usia yang sama, mereka memulai pernikahan mereka dengan sama-sama bertarung dengan emosi meledak-ledak dan kadang susah dikendalikan. Untung saja, Firman lebih memilih diam dan mengalah jika emosi Mala sudah berada di puncak. Ia mengerti jika pasanganya adalah api berarti ia harus menjadi air.
***
Desember, 2012
Di penghujung pergantian tahun, Mala dan Firman ikut merayakannya bersama orang-orang kota dengan penuh khidmat. Mereka ikut bersorak sorai saat kembang api meletup-letup di langit yang memecah kesunyian para perantau. Jam menunjukkan pukul dua malam. Angin menusuk begitu tajam. Firman mulai menyusun rencana. Diberitahukannya ke Mala bahwa malam ini adalah malam jumat, sembari merayu dengan suara dan tatapan penuh hasrat. Mala tak mengerti tapi segala rayuan yang dilontarkan di malam yang penuh riang ini berhasil menghanyutkan dirinya. Tak butuh waktu berlama-lama, mereka menuju wisma yang bisa dipesan setengah hari untuk mengurangi beban Firman yang hidup di tanah rantau dengan modal kiriman orang tua di kampung yang tidak seberapa.
Mereka menuntaskan semuanya, kendati butuh waktu lebih dari satu jam untuk membuat Mala menyerahkan seluruh kehormatannya. Mala pasrah dan menikmati setiap detik berganti dengan desahan yang saling bersahut-sahutan. Tak ada lagi batasan-batasan yang menjadi sekat. Pesan-pesan orang tua di kampung, mereka simpan sementara. Malam itu milik mereka berdua, tak ada yang mampu memisahkam mereka. Bahkan sabda-sabda dan ayat-ayat Tuhan sekalipun tak mampu menahan laju hasrat dua anak muda yang menggebu. Suara Mala memecah kesunyian malam, Firman dengan begitu semangat, mengeluarkan segala kemampuannya, dan tak ingin berhenti hingga keduanya berakhir dengan puncak kenikmatan yang sama.
***
Februari, 2016
Sudah hampir sebulan Mala dilanda kegelisahan yang akut. Suaminya semakin hari semakin menjengkelkan kendati ia masih menerima uang yang lebih dari sebelum-sebelumnya, ia merasa tak cukup, bukan uangnya tapi kebersamaan yang kini mahal harganya.
Di bulan selanjutnya, Mala mulai goyah. Tanpa sengaja, Mala melihat Amiruddin di beranda facebooknya. Teman sekelas yang juga mantan kekasihnya yang sekarang sudah memiliki anak satu. Amiruddin adalah seorang Aparatur Sipil Negara dan lulusan Institut Pemerintahan Milik Negara. Mala mengirimkan pesan di messenger. Namun tak lama kemudian, ia menghapusnya. Ia memaki dirinya sendiri yang sudah kelewat batas. Tapi ternyata pesan yang terhapus itu memiliki riwayat sehingga Amiruddin tahu bahwa ia telah mendapatkan pesan. Seteleh proses saling sapa yang absurd itu, keduanya kemudian larut dalam basa-basi yang panjang. Amiruddin menanyai hal-hal yang tidak penting dan begitupun sebaliknya. Hingga keduanya mengingat kembali cinta remaja mereka—yang pelan-pelan mencari celah untuk keluar.
“Mala, masih ingatkah kejadian di ruang kelas saat orang-orang sudah pulang sekolah?”
“Iya, sebab kau adalah orang yang pertama mengenalkanku pada cinta, kau yang mengambil sari dari kuncup bunga yang baru saja ingin mekar” wajah Mala tersipu malu dan Amiruddin hanya tersenyum.
Keduanya saling merayu dengan bahasa penuh pengandaian meskipun keduanya pernah sedekat surat dan prangko.
“Bisakah kita mengulangnya lagi, mengulang kejadian-kejadian yang tak terlupakan itu?” tanya Amiruddin.
Dada Mala berdegup kencang, ia tak kuasa menolak, sudah lebih sebulan ia tak lagi merasakan kenikmatan hakiki itu. Dari panggilan vidio sepanjang dua jam itu, pembicaraan semakin mengarah ke hal-hal yang tanpa sadar mampu membuat Mala merasakan lembab di bagian paling intim tubuhnya.
Firman yang jarang pulang kini tak membuat hati Mala gusar sebab Amiruddin selalu datang di saat Firman pergi ke tempat kerjanya pada malam hari. Setelah seminggu berlangsung, Mala melarang Amiruddin datang sebab Mala tahu suaminya akan ambil cuti. Firman minta cuti selama beberapa hari. Ia sudah cukup lelah bekerja sebulan penuh tanpa istirahat yang cukup. Tiga hari ia ingin habiskan bersama istri dan anaknya. Ia juga ingin merasakan ranum kulit istrinya, dan tubuh yang jarang ia peluk. Mala menyerahkan tubuhnya malam itu tapi tidak dengan hatinya, ia tak lagi merasakan kenikmatan yang dulu Firman berikan. Kini, ia hanya melayani Firman tanpa menikmati jalannya permainan. Sehabis percintaan singkat itu, Mala membasuh diri dan kemudian tertidur. Tak ada cerita pun percakapan yang mereka tukarkan. Malam itu sungguh jauh berbeda.
Keesokan harinya, Ayu bertanya kepada ibunya pada saat makan malam. Makan malam pertama keluarga kecil mereka setelah Firman kerja banting-tulang setiap hari.
“Om Amrud kenapa jarang datang lagi?”
Wajah Mala mengeras dan menajamkan mata agar Ayu diam dan tak melanjutkan pertanyaannya. Tapi Ayu tak tahu maksud dari ibunya. Ia justru melanjutkan
“Biasanya jam begini, ia sudah ikut makan bersama kita. Apa Om Amrud sakit?”
Firman tak mengeluarkan kata-kata. Ia menikmati segala makanan yang disantapnya. Ketika Ayu mengulang kalimatnya lagi karena ibunya tak kunjung menjawab, Firman memotong perkataan anak perempuannya itu, sambil mengelus ubun-ubun kepalanya.
“Om Amrud sedang sibuk, jadi ia tak datang hari ini”.
Mala kaget. Ia mulai panik, dan segala pikiran buruk menghantuinya. Mala mencuci tangan di kebokan, ia berhenti makan dan menyisakan banyak nasi di piringnya. Ia pergi dan meninggalkan meja makan. Entah apa yang ada di pikiran Mala, ia tak ingin dekat dengan suaminya karena merasa tak enak. Firman mendatangi Mala depan televisi. Sebelumnya Ayu telah disuruh masuk ke kamar tidurnya untuk belajar. Melihat Firman datang mengahampirinya, Mala memalingkan muka sebab tak tahu mau membahas apa dan ia masih menerka-nerka kenapa Firman tahu siapa itu Amiruddin.
Firman membuka pertanyaan malam itu, “Sayang, apakah betul akhir-akhir ini kamu menerima tamu lelaki malam hari?”
Pikiran Mala buyar, ia tak tahu mau menjawab apa. Suasana hening sejenak, kemudian Mala angkat suara “oh iya sayang, aku biasa pesan makanan di malam hari dan tak ada kendaraan untuk belanja di warung yang letaknya jauh dari rumah, jadi aku pesan dengan ojek online”
Mala menyembunyikan wajahnya yang panik. Ia bicara dengan tenang, “tapi sayang, kok katanya tetangga-tetangga rumah kita, tiap malam ada lelaki yang datang, apa iya, kamu makan malam dengan nasi warung setiap malam? Pantas saja uang kita selalu terasa kurang dan tak pernah cukup, kamu jarang masak soalnya” Firman tersenyum dan mencoba merayu istrinya agar ikut tersenyum. Mala heran, tak ada sedikit pun mimik Firman yang marah. Ia malah menunjukkan rupa yang sangat ramah. Mala semakin merasa bersalah.
Amiruddin mendesak bertemu tapi Mala dihantui wajah suaminya. Ia dibayang-banyangi rasa bersalah. Mala menolak bertemu dan mengutarakan alasannya. Namun, Amiruddin tak mau dengar alasan. Ia ingin bertemu Mala sekarang juga. Pada tengah malam saat suaminya sudah tertidur pulas. Amiruddin datang dan Mala pun bingung, Amiruddin menolak pulang dan memaksa untuk masuk ke dalam rumah. Untuk menghindari keributan, terpaksa Mala membiarkan Amiruddin masuk. Pintu dengan segara ditutup, Amiruddin langsung mengulum bibir Mala, dan tak ingin melepaskan lengannya yang telah berjalan menyusuri lekuk tubuh yang sangat dikenalinya itu. Awalnya Mala meronta dengan pelan takut kedengaran suaminya, namun lama-kelamaan ia larut dalam permainan terlarang itu. Rumah kontrakan kecil menjadi saksi bisu dua orang yang mendobrak norma adat dan agama. Dua orang yang kalah oleh hasutan hasratnya. Jam menunjukkan pukul empat subuh. Amiruddin akhirnya pulang tanpa disuruh setelah ia mendapatkan dan melampiaskan hasratnya bersama Mala.
Jantung Mala berdegup lebih cepat dari biasanya di pagi hari saat suaminya tak bangun-bangun padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Mala mebangunkan suaminya, tapi ia tak bangun. Tubuh Firman sangat dingin dan pucat. Mala menyentuh lengan kiri tepat di nadinya, tak berdetak begitupun jantungnya yang juga berhenti. Mala berteriak kencang, meraung-raung mendapati suaminya telah terkapar tak berdaya. Para tetangganya berkerumun dan tak bisa berbuat apa-apa. Ayu hanya berdiri dekat ayahnya dengan mendekap boneka pemberian Amiruddin dengan erat. Ayu tak menangis sebab tak ada ingatan tentang ayahnya yang mampu ia ingat. Ayahnya orang paling sibuk dan jarang ada waktunya di rumah.
Seminggu setelah kematian Firman, hasil otopsi dari rumah sakit mengatakan kalau Firman meninggal karena penyempitan pembuluh darah di otak yang diakibatkan oleh kelelahan dan kurang tidur. Setelah petugas rumah sakit yang datang membawa hasil otopsi itu, dua orang lain datang membawa sebuah amplop dan langsung memberikan amplop itu kepada Mala.
”Ambil ini uang tunjangan kematian Bapak Firman.”
“Besyukur ya bu’ punya suami kayak Pak Firman. Setiap jaga malam, ia hanya menghabiskan waktu untuk bercerita tentang betapa ia sangat sayang istri dan putrinya.” ucap lelaki di sebelahnya. Lalu yang lain membawakan kunci rumah.
“Ini apa pak?”
“Itu kunci rumah bapak, sengaja tidak diberitahukan ke ibu sebab baru nyicil, katanya di ulang tahun pernikahan ke lima Pak Firman, rumah itu akan diberitahukan ke istrinya”. Mala tak mampu menahan tangis. Seperti ada jarum-jarum kecil yang menusuk jantungnya secara bergantian. Di tenggorokannya, suaranya terkunci. Lidahnya tak ingin bergerak dan akhirnya Mala terjatuh dan membekukan sebagian tubuhnya.(*)
Syafri Arifuddin Masser Lahir di Sirindu, Sulawesi Barat. Alumnus mahasiswa jurusan Sastra Inggris di Fakultas Sastra Universitas Muslim Indonesia. Karyanya puisinya tergabung dalam Antologi Cerpen dan Puisi pilihan Kibul 2017, Antologi Puisi Festival Seni Multatuli 2018, Antologi Puisi Fiction Writers & Fonts Makassar International Eights Festival & Forum 2018. Antologi Puisi Kelompok Pemerhati Budaya dan Museum Indonesia 2019, Antologi puisi seri sastra Tembi Rumah Budaya 2019. Antologi Payakumbuh Poetry Festival 2024 Buku Pertamanya Unjuk Rasa-Kumpulan Sajak-Sajak Politik (IBC, 2018) dan Kabar Buruk Kehilangan (Langgam Pustaka, 2023)












