Menu

Mode Gelap
Api Prometheus I Cerpen – Aldi Rijansah Puisi Ngadi Nugroho Asmara yang Tidak Diakali Waktu Puisi Maulidan Rahman Siregar Puisi Ilham Wahyudi

Cerpen · 25 May 2025 15:42 WIB ·

Kemasan Asa


 Mario Prassinos, Untitled, via WikiArt.org Perbesar

Mario Prassinos, Untitled, via WikiArt.org

Toko kelontong—yang menjadi pusat sorot mata pengunjung pasar—itu selalu menyisihkan kemasan produk yang tidak lagi terpakai. Lembar demi lembar plastik ataupun kertas ditumpuknya lalu dimasukkan ke plastik dengan rapi. Pemilik toko tersenyum seusai menyelesaikan rutinitas itu terlebih ketika seseorang menghampirinya dengan mata berbinar.

“Apa kabar, Runa?”

Gadis berpakaian compang-camping dengan salah satu tangan yang menyeret karung itu tersenyum ramah, “Baik, bagaimana dengan, Ibu?”

Tidak banyak kata, Ibu pemilik toko hanya tersenyum, manik mata beliau melesat pada plastik yang menggembung oleh isi. Sepasang kaki kecil yang bernoda oleh bekas gigitan nyamuk itu melangkah menuju bungkusan plastik. Plastik yang menggembung oleh isi berhasil melepas senyum lebar Runa. Pemilik toko mempersilakan Runa membawa pulang bungkusan itu, beliau beranjak kembali ke toko meninggalkan Runa yang antusias mendekap bungkusan itu.

Seusai mengucap banyak syukur atas pemberian yang diterimanya, Runa bergegas menuju suatu tempat di mana ia mendapatkan sumber penghidupannya. Tempat itu seperti balai berkumpulnya lalat nakal penyebar penyakit, di sisi kanan kirinya selalu dipenuhi tumpukan barang yang memburuk oleh kualitasnya terlebih lagi mengontaminasi kualitas tempat itu. Namun, bagi Runa hal tersebut lebih baik daripada tempat tinggalnya.

Lelaki tua dengan sorot mata tajam itu sekilas melirik Runa lalu beralih pada lembaran uang yang mengusang. Mulutnya komat-kamit menghitung jumlah uang sembari menuliskan pada buku tebal. Buku tebal yang selalu Runa pandangi karena terlihat sangat menarik.

“Mau mencuri?!” Bentak Lelaki tua itu meloloskan hormon adrenalin Runa hingga terlonjak kaget.

Runa meringis sembari menenangkan sisa-sisa kejutnya, “tidak,” bantahnya cepat.

Ketika sisiran lembar uang terakhir terhitung, mata beliau beralih pada Runa yang sedari tadi mematung tanpa sepatah kata apapun, “apa yang kau dapat hari ini?”

Mata Runa berbinar, diletakkannya karung itu pada timbangan besar yang hampir menggapai tinggi tubuhnya. Jarum timbangan bergerak ke kanan dengan cepat, kali ini ia berhasil menaikkan jumlah pendapatannya. Bayangan akan semangkuk bakso melalang kabut memenuhi otaknya, ia bahkan berjanji untuk membeli lontong agar kenyang lebih lama.

Belum sempat menyampaikan nominal upah Runa, Lelaki tua itu mencuri pandang pada plastik ukuran sedang yang masih dalam genggaman Runa, “itu sekalian?”

Lantas Runa menyembunyikan tentengan plastik itu di balik badannya, “tidak, ini untuk bahan belajar.”

Terdengar tawa lelaki tua itu menggelegar sembari memegangi perutnya. Hal tersebut berhasil membuat Runa mengernyitkan dahi tanda tidak mengerti. Tawanya terdengar seperti merendahkan Runa atas ucapannya.

“Belajar?” Lagi-lagi gelak tawanya pecah, “untuk apa? Kau hanya perlu bekerja untuk bertahan hidup.”

“Apa salahnya?” Bantah Runa yang mulai terpancing oleh perkataan penuh ego lelaki tua itu.

Bak petugas keamanan yang menyeleksi pengunjung, kedua manik mata lelaki tua itu bergulir menyusuri tubuh Runa dari kepala hingga ujung kakinya, “dan kau seorang perempuan, dapur itu tempatmu!”

Runa tidak sanggup dengan pernyataan yang baru saja melesat di telinganya. Matanya menegang hingga urat kepalanya samar terlihat. Suasana semakin keruh ketika lelaki tua itu menyebutkan beberapa tokoh perempuan di sekitar Runa yang dikondisikan tak berdaya oleh pandangan patriarki.

“Pemikiran kolot Pamanlah yang membuat hancur masa depan!”

Belum sempat meminta upah, Runa berlari meninggalkan tempat rongsok yang benar-benar kotor seperti pembuangan sampah. Kedua tangannya menggenggam erat plastik yang sedari tadi bersembunyi di balik badannya. Tekadnya hampir rapuh oleh semburan kalimat yang tidak dipertanggungjawabkan, keadaan sumringah hari ini seketika tandas tak bersisa. Harapan pada semangkuk bakso lenyap tanpa jejak. Satu hal yang ingin ia wujudkan kali ini, pulang dan tenang.

Banyak suara yang Runa ingin katakan, tekadnya semakin bulat untuk belajar agar berhasil menghancurkan pemikiran kolot yang mendarah daging itu. Rantai patriarki dan mengakarnya pola pikir ajeg yang menolak perubahan perlu Runa putuskan di lingkungan konservatif ini.

Rasa kesal yang menggebu-gebu hanya merusak jiwa murni Runa yang sedang berada dalam masa berjuangnya. Runa berusaha menetralkan keadaan dirinya, kakinya melangkah pelan sesuai dengan tempo nafasnya yang mulai tenang. Sesekali kedua matanya terpejam seolah sistem sedang menghapus memori tidak berguna dari otaknya.

Gemuruh riuh anak-anak seusianya menarik perhatian Runa dari bangunan sepetak berukuran 110 m² yang kokoh dekat mushola desa. Seketika keinginan untuk pulang mereda. Runa berlari kecil mendekati asal suara berharap menemukan suatu hal yang menghibur dirinya. Tidak disangka, tempat itu adalah perpustakaan baru yang berdiri beberapa minggu lalu. Runa merutuki dirinya karena sudah lama tidak melewati desa tetangga yang penuh dengan fasilitas ini.

Air wajah para pengunjung perpustakaan terlihat bersinar, banyak pasang mata yang berbinar dengan keadaan mereka saat ini. Perhatian Runa tercuri pada sekumpulan anak yang sedang membaca tumpukan komik dan novel. Tumpukan buku itu lebih menggiurkan dari pada segelas es teh di siang bolong. Runa mendekati mereka perlahan sembari duduk pada kursi yang tersisa, belum sempat membuka percakapan, Runa mencuri pandang pada sebuah buku usang yang tergeletak tanpa pemilik.

“Permisi, bolehkah aku membaca buku ini?”

Tidak ada yang menyadari keberadaan Runa karena semua insan sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Namun, seorang gadis berusia hampir menginjak dewasa menghampirinya. Langkahnya pelan hingga Runa hampir tidak menyadarinya.

“Boleh sekali, siapa namamu?” Gadis itu merendahkan badannya hingga setara dengan Runa.

Runa masih menampakkan keterkejutan pada wajahnya, “Runa.”

“Hai, Runa. Ambilah buku yang kau inginkan, bacalah hingga kau menemukan apa yang kau cari,” tukas gadis itu, suaranya setara dengan lembutnya alunan kalimba.

Runa mengangguk dengan antusias, tangannya meraih buku tak berpemilik itu. Buku itu terlihat usang termakan waktu, lembarannya menguning oleh usia, tetapi aroma khas buku tidak hilang dari lembarannya. Tangan Runa menyisir satu per satu halaman, tulisannya terlihat padat dan panjang, itu terlihat seperti gerombolan semut yang sedang bergotong royong. Lantas Runa meringis sembari melempar wajah pada gadis itu.

“Ada apa?”

“Aku tidak dapat membaca tulisan ini, Kak,” ucap Runa menahan malu yang terlihat dari kuku jemarinya saling bergesekan.

Gadis itu tersenyum sembari mengedarkan pandang mencari kursi, “Bagaimana kalau kakak bantu? Panggil aku Kak Mala saja, ya!” timpal gadis itu setelah menemukan kursi.

Runa menjawab dengan anggukan antusias.

Pembelajaran Runa dengan Kak Mala berhasil membulatkan tekadnya untuk menuntut ilmu setinggi mungkin. Setelah membersihkan diri dari dunia luar, Runa meraih plastik yang sedari tadi menjadi saksi buta atas perjuangannya. Dijejerkan lembaran plastik dan kertas hingga menampakkan banyak huruf-huruf yang dibutuhkannya.

Di atas balai-balai reyot, ia menggunting setiap huruf lalu dikumpulkan dalam kotak plastik bekas makanan ringan. Gunting yang berkarat telah mengerjakan tugasnya selama bertahun-tahun. Tugasnya bermula ketika mendiang Ibu Runa memutuskan menggunakan cara ini untuk mengajarkan cara membaca.

Kali ini ia mendapatkan kemasan deterjen yang membekas oleh wanginya. Huruf pada kemasan deterjen itu tampak jelas dan tepat untuk belajar Runa kali ini. Malam ini ia ingin menyusun kalimat perkenalan kepada Kak Mala. Kumpulan huruf itu ia tumpuk di atas koran bekas lalu disusunnya satu persatu dengan lem. Runa berusaha membuatnya tersusun rapi dan mudah dibaca.

Di tengah sibuknya menyusun kata, seonggok buku tersembul dari plastik yang masih tersisa lembaran kemasan. Rupanya buku yang berhasil ia pinjam dari perpustakaan. Sampul cokelat yang usang tidak pernah gagal mencuri perhatiannya. Kak Mala memberinya tantangan untuk membaca satu halaman di hadapannya besok.

Narasi novel yang awalnya terlihat seperti rombongan semut, kini terlihat lebih bersahabat. Kak Mala mengajari secara dasar hingga Runa memahaminya. Tidak mudah bagi Runa membaca kalimat padat itu sendiri, ia mengejanya perlahan dengan memperhatikan keterkaitan antar huruf. Jika hubungan antar huruf dirasa cocok, Runa meyakini ejaannya benar.

Lagi-lagi sesuatu menggoyahkan tingkat fokus Runa, selebaran kecil yang terselip di tengah buku itu menyembul ketika Runa menyisir acak halaman yang lain. Selebaran itu tertera dengan judul yang renggang sehingga Runa dapat membacanya dengan baik.

“Lomba Cerita Pendek Anak,” ejanya sembari memastikan huruf satu persatu.

Runa berlari riang menuju perpustakaan setelah memutuskan untuk libur setor rongsokan kepada lelaki tua itu. Alam seakan mendukung keputusannya, matahari menyorotnya hangat, sepoi angin merangkulnya lembut. Banyak kemungkinan yang terbayang pada pikirannya, tentang bagaimana rangkaian kata pujian yang Kak Mala dengungkan bahkan tentang banyaknya ilmu yang Kak Mala berikan. Terlebih lagi hasil susunan huruf yang Runa siapkan petang kemarin, ia membayangkan lantunan pujian dari Kak Mala yang menggema di telinganya.

Namun, langkah Runa terhenti pada Kantor Balai Desa. Ia teringat pada selebaran yang ia temukan pada buku perpustakaan. Bagaikan terjabar karpet merah yang mengantarnya menuju kantor, Runa pun bergegas memasuki kawasan balai desa. Banyak anak kecil berlarian menunggu orang dewasa menyelesaikan urusannya dengan para panitia acara. Runa mendekati salah satu panitia dengan gugup.

“Kak, Runa mau daftar,” pinta Runa, manik matanya menyorot pada tumpukan kertas formulir.

“Hai Runa, kamu dari sekolah mana? Nanti kakak bantu menghubungi pihak sekolah agar dipermudahkan administrasinya,” tukas kakak panitia itu.

Runa menggaruk kepalanya bingung, “harus bersekolah ya?”

Kakak panitia itu menjawab dengan lembut, jawaban yang terlontar berhasil membuatnya pupus oleh harapan. Bukan karena nada bicara, tetapi pembenaran atas persyaratan wajib sebagai siswa salah satu sekolah. Runa telak tidak dapat mengikuti perlombaan itu, gugur sebelum perang.

Rautnya kusut diterpa air mata yang hampir tumpah dan berharap ada suatu keajaiban meminangnya. Perjalanan menuju perpustakaan terasa berat, kakinya seolah terantai oleh gelondongan besi. Tubuh mungilnya terhuyung oleh keputusasaan yang mungkin berkepanjangan. Namun, ia berharap kegelisahannya runtuh ketika bertemu Kak Mala. Setidaknya tersisa sepotong asa untuknya hari ini.

Dari kejauhan, Kak Mala menangkap raut gusar Runa. Kegelisahan berhasil mengikis senyum hangatnya, Kak Mala yakin sesuatu telah menimpanya. Tanpa bercerita, Runa menyelipkan selebaran lomba itu pada gengaman tangan Kak Mala. Selebaran itu cukup merangkum jawaban atas pertanyaan Kak Mala.

Hening, tidak ada yang berkutik selain jarum jam yang berdetak mengejar waktu. Ruangan khusus pegawai benar-benar hening seakan berbeda dunia dengan ruang baca anak-anak. Kak Mala terdiam membiarkan Runa larut dalam renungannya, berharap Runa menemukan samar-samar ketenangannya. Sesekali Kak Mala menawarkan biskuit cokelat sebagai sogokan pembuka percakapan. Satu hingga dua biskuit gagal, tetapi biskuit ketiga berhasil menggoyahkan Runa yang sedari tadi mengunci mulutnya.

“Apakah orang sepertiku tidak layak berkompetisi?”

Kepala Kak Mala sepenuhnya tergeleng, “peraturan memang membatasimu. Namun, jangan tumbang. Banyak cara agar kau dapat menyalurkan kemampuanmu untuk berkompetisi.”

Samar terlihat tarikan senyum yang mulai meredupkan kegelisahan Runa.

“Ayo, setoran satu halaman!” Ujar Kak Mala dengan nada meledek.

Kini senyuman itu melebar hingga memecah tawa. Dengan percaya diri atas kemampuan yang diasah hingga larut malam, Runa duduk tegap menghadap buku yang telah terbuka lebar. Kini di hadapan Kak Mala, ia siap melontarkan kata-kata yang diyakini benar olehnya.

“Cerdas!” Lontar Kak Mala sembari mengacungkan kedua jempolnya. Tak hentinya beliau memuji kerja keras Runa, “Bagaimana cara kau belajar membaca, Runa?”

Lantas Runa teringat akan koran perkenalan yang ia susun hingga larut malam. Tidak disangka bahkan tidak terpikirkan oleh Kak Mala atas ide kreatif seorang anak kecil seusia Runa. Runa menangkap kekaguman dan ketidakpercayaan pada sorot mata Kak Mala. Satu persatu ia menceritakan awal mula mengetahui metode baca yang diwarisi oleh mendiang ibunya, lalu perjuangan Runa dalam mencari kemasan bekas pada penjual toko kelontong hingga bertemu dengan si pemilik toko kelontong yang berhati malaikat. Bahkan si pemilik toko menawarkan pekerjaan untuk mencatat persediaan toko jika Runa dapat membaca dan menulis dengan lancar, hal tersebut menjadi salah satu pemicu Runa berkompetisi agar dinilai layak mengemban tanggung jawab.

Bekali-kali Kak Mala kagum dengan cara berpikir Runa. Kertas koran yang tersaji rentetan huruf berhasil memoles senyum haru Kak Mala. Samar terlihat garis khayal yang belum sepenuhnya bersih sebagai tanda bahwa Runa memperhatikan kerapiannya. Di sudut-sudutnya terdapat guntingan bunga, Kak Mala menebak bahwa itu berasal dari kemasan deterjen.

“Runa mau mencoba menulis dengan pensil atau pena?” Tawaran Kak Mala membulatkan mata Runa tak percaya.

Anggukan Runa kali ini sebagai simbol era dimulainya ia berkarya. Kak Mala tidak hanya mengajarinya menulis, tetapi merangkai kata hingga bermanfaat bagi banyak kalangan. Runa bebas berpendapat melalui tulisan tanpa merasa rendah diri atas dirinya yang tidak bersekolah. Dengan karyanya, Runa mewujudkan impiannya satu persatu.

Kak Mala sengaja menjilid seluruh karya Runa menjadi antologi yang berisikan beragam fiksi maupun non fiksi. Antologinya berjajar dengan antologi lain, bahkan antologinya berada di sebelah kumpulan karya lomba tempo hari itu. Kabar mengenai karya Runa menjangkau hingga ujung desa. Atas kabar itu, sang pemilik toko kelontong menepati janjinya, kini Runa menjadi karyawan tetap di sana.

Kak Mala menyerahkan sebuah buku tebal dengan sampul berhiaskan nama Runa, di sisi pinggir bukunya terdapat pena yang warnanya seiras dengan buku, “penghargaan atas kerja keras dan kegigihan.”

Tangis Runa tak terbendung, kini ia berada dalam naungan Kak Mala yang mencengkram hangat dirinya. Keduanya bergetar oleh tangis, banyak pasang mata yang haru melihat kejadian itu. Suasana perpustakaan hening seakan terhenti oleh waktu. Samar-samar dari ujung kursi baca terdengar seseorang menghampiri, langkahnya tegas penuh wibawa.

“Runa, besok resmi bersekolah, ya!”

Runa bergeming memandang bapak pemilik tempat rongsok itu merentangkan senyum.(*)

Gefira Nur Fauzia, seorang lulusan perpajakan yang gemar menulis. Dari banyaknya cabang menulis, ia memilih menulis ‘Cerita Pendek’ karena singkat dan dapat menjabarkan seluruh ide liarnya. Karyanya sering bergabung dengan beberapa antologi cerpen dan fiksi mini.

Artikel ini telah dibaca 123 kali

Baca Lainnya

Satu Sesi Percakapan

30 November 2025 - 07:53 WIB

Emile Bernard, Breton Woman at Haystacks via WikiArt.org

Rani

25 November 2025 - 00:10 WIB

Jacob Lawrence, The Library, 1960, via WikiArt.org

Manusia Pohon Beringin

9 November 2025 - 04:05 WIB

WikiArt.org

Serambi Masjid Kami yang Kotor

20 October 2025 - 01:05 WIB

Endre Bartos, People from The Space, 2005 via WikiArt.org

Tukang Seblak

24 August 2025 - 05:43 WIB

WikiArt.org

Tukang Becak

10 August 2025 - 12:39 WIB

Frida Kahlo, Henry Ford Hospital (The Flying Bed)
Trending di Cerpen