Menu

Mode Gelap
Api Prometheus I Cerpen – Aldi Rijansah Puisi Ngadi Nugroho Asmara yang Tidak Diakali Waktu Puisi Maulidan Rahman Siregar Puisi Ilham Wahyudi

Cerpen · 18 May 2025 04:56 WIB ·

Ucok


 Paul Ackerman, The Artist and His Model, 1965, via WikiArt.org Perbesar

Paul Ackerman, The Artist and His Model, 1965, via WikiArt.org

Jalan tanah di Desa Pertampilan masih sama seperti dulu. Berdebu saat kemarau, berlumpur saat hujan. Rumah-rumah kayu berdiri berjejer di pinggir jalan, sebagian besar mulai lapuk dimakan usia. Anak-anak masih berlarian di depan warung, suara ibu-ibu bercengkerama terdengar dari serambi rumah. Seolah-olah waktu enggan bergerak di desa ini.

Tapi ada satu hal yang pasti setiap kali aku pulang.

Ucok.

Aku baru saja mematikan motor di depan pemakaman ketika suara langkahnya terdengar. Ia datang dari arah gerbang dengan langkah cepat, tubuhnya kurus kering tanpa baju, hanya celana lusuh yang nyaris jatuh dari pinggangnya. Rambutnya panjang, kusut, seperti tak pernah tersentuh sisir.

Matanya kosong, tapi ketika melihatku, sejenak ada kilatan yang berbeda di sana.

“Eh… eh… kau… kau… datang lagi, ya?” katanya dengan suara serak, terbata-bata.

Aku menarik napas panjang. “Iya, Cok.”

Ucok mengulurkan tangannya, gemetar. Aku tahu apa yang ia mau.

“Tanganmu… tanganmu…” katanya sambil menggoyangkan jemarinya.

Aku menyerahkan pergelangan tanganku. Tangannya yang kasar menggenggam erat seolah sedang membaca sesuatu di sana. Matanya menyipit, lalu tiba-tiba ia menggeleng-geleng.

“Kau… kau banyak pikir, kau.”

Aku menelan ludah. Ucok tak pernah salah dalam hal ini.

Aku memang banyak berpikir. Tentang Ucok. Tentang rasa bersalah yang tak pernah pergi.

Dulu, Ucok adalah bagian dari hidupku. Kami tumbuh bersama, berbagi tawa, berbagi luka.

Ia lebih berani.

Jika aku ragu untuk memanjat pohon, Ucok sudah di atas lebih dulu. Jika aku takut melompat ke sungai, Ucok sudah lebih dulu menyelam. Aku selalu menjadi yang kedua, yang mengekor di belakangnya, tapi ia tak pernah keberatan.

Hingga suatu sore.

Kami bermain di sungai, seperti biasa. Ucok berdiri di atas dahan pohon yang menjulang tinggi di atas air. Aku menatapnya dari bawah, merasakan perutku mulas hanya dengan melihat ketinggiannya.

“Kau takut?” tanyanya, menyeringai.

“Enggak,” jawabku cepat, meskipun jantungku berdetak lebih cepat.

Ucok tertawa. “Kalau enggak takut, loncatlah duluan!”

Aku tahu dia hanya bercanda, tapi harga diri lebih besar dari ketakutanku. Jadi aku naik ke atas. Dahan itu terasa goyah di bawah kakiku.

Dari bawah, Ucok menatapku dengan mata penuh semangat.

“Kau pasti bisa!” katanya.

Aku menarik napas dalam-dalam, menatap air yang beriak di bawah.

Lalu aku melompat.

Aku meleset.

Tubuhku menghantam air di bagian yang dangkal. Kepala membentur batu.

Rasa sakit menyebar begitu cepat, dan sebelum aku sempat berpikir, air sudah memenuhi hidung dan mulutku. Aku berusaha bergerak, tapi arus menarikku ke bawah.

Aku panik. Aku ingin berteriak, tapi tak ada suara yang keluar.

Lalu sesuatu menarik lenganku dengan kuat.

Ucok.

Wajahnya tegang, napasnya berat. Ia menyeretku ke tepian, tubuhnya gemetar karena panik. Aku terbatuk-batuk, muntah air sungai, paru-paruku terasa seperti terbakar.

Ucok duduk di sebelahku, napasnya terengah-engah. Tapi ia masih sempat tertawa kecil.

“Aku bilang apa? Kau itu penakut,” katanya, menepuk punggungku.

Aku menatapnya, ingin marah, ingin menangis, tapi kemudian aku ikut tertawa.

Dan sejak hari itu, aku tahu satu hal: jika aku jatuh, Ucok akan menangkapku.

 

Tapi hidup ini aneh.

Ucok yang dulu menyelamatkanku… akhirnya menjadi orang yang jatuh paling dalam.

Kecelakaan itu mengubahnya. Ia bukan lagi Ucok yang aku kenal. Yang tersisa hanyalah seseorang yang bicara terbata-bata, yang membaca pergelangan tangan orang-orang seolah ada jawaban di sana.

Aku benci melihatnya seperti ini.

Karena jauh di dalam hatiku, ada sesuatu yang tak pernah aku akui.

Aku lega.

Ucok yang dulu lebih baik dariku. Lebih berani, lebih tangguh. Ia yang selalu maju lebih dulu, ia yang selalu menarikku dari tepi ketakutan.

Tapi sekarang?

Sekarang aku yang berdiri lebih tinggi. Aku yang lebih “normal.” Aku yang bisa pergi dan menjalani hidup dengan baik, sementara ia tetap di sini.

Aku membenci diriku sendiri karena berpikir seperti itu. Tapi itulah kenyataannya.

 

Di pemakaman, Ucok sibuk menyapu daun-daun kering di atas nisan orang tuaku. Aku membantunya, mengangkat batu-batu kecil yang berserakan.

Saat semuanya sudah bersih, aku mengeluarkan sesuatu dari kantong celana dan menyodorkannya padanya.

“Cok, ini untukmu.”

Matanya berbinar. “Uh… eh… rokok ya?”

Aku mengangguk.

Ucok mengambil rokok itu, menyelipkannya di bibir, lalu menyalakannya dengan korek api yang entah dari mana ia dapat. Ia mengisapnya pelan-pelan, menghembuskan asap ke udara, lalu menatapku lama-lama.

“Kau… kau pulang lagi nanti?” tanyanya tiba-tiba.

Aku terdiam.

Aku ingin bilang iya. Aku ingin berjanji. Tapi aku tahu, suatu hari nanti aku akan berhenti pulang ke sini. Aku akan semakin sibuk dengan hidupku, dan desa ini, kuburan ini, Ucok… akan menjadi bagian dari kenangan yang perlahan-lahan memudar.

Ucok tersenyum.

Seakan-akan ia tahu. Seakan-akan ia sudah membaca semuanya dari pergelangan tanganku.

Dan aku membiarkannya berpikir bahwa aku akan selalu kembali.

Karena mungkin, itu lebih baik daripada mengatakan kebenaran.

Ucok masih ada di sini.

Masih membaca pergelangan tanganku, masih membantuku membersihkan kuburan, masih menerima rokok dariku.

Dan mungkin, selama aku masih pulang… ia akan tetap ada di sini.

Atau mungkin, ia akan menghilang lebih dulu, seperti daun-daun kering yang ia sapu di atas makam.(*)

Laivina Gebryel Barus, lahir di Sumatera Utara, 29 Juli 2008. Siswa kelas 11 SMAS Methodist Tanjung Morawa. Menulis menjadi cara untuk mengekspresikan imajinasi dan perasaan, sering terinspirasi dari kehidupan sehari-hari dengan sentuhan imajinatif. Harapan dengan karya ini menjadi langkah awal dalam dunia kepenulisan. Bisa disapa melalui instagram: @laivina_gebryel

Artikel ini telah dibaca 151 kali

Baca Lainnya

Tahun Baru Itu

8 February 2026 - 23:29 WIB

WikiArt.org

Dipenggal Malam

11 January 2026 - 03:46 WIB

Requiem

4 January 2026 - 20:14 WIB

wikiart.org

Satu Sesi Percakapan

30 November 2025 - 07:53 WIB

Emile Bernard, Breton Woman at Haystacks via WikiArt.org

Rani

25 November 2025 - 00:10 WIB

Jacob Lawrence, The Library, 1960, via WikiArt.org

Manusia Pohon Beringin

9 November 2025 - 04:05 WIB

WikiArt.org
Trending di Cerpen