Menu

Mode Gelap
Api Prometheus I Cerpen – Aldi Rijansah Naik Becak Denganmu – SAJAK-SAJAK NGADI NUGROHO Asmara yang Tidak Diakali Waktu Tutorial Mengubah Nasib – SAJAK-SAJAK MAULIDAN RAHMAN SIREGAR Bila Ia Tertidur – Sajak-sajak Ilham Wahyudi

Budaya · 7 Jul 2024 01:09 WIB ·

Pulang


 Pulang Perbesar


Pulang
Cerpen: Maxim Gorky
Terjemahan: Rahman Kurniawan

Angin yang sangat dahsyat berembus dengan kencang di Kota Khiva dan menghantam pegunungan hitam Daghestan, bolak-balik mendorong air dingin danau laut Kaspia dan menaikkan gelombang ombak menuju tepian.

Air laut mengalun dengan ribuan gelombang berbuih putih yang menari seperti lelehan kaca yang bergolak dengan dahsyat di dalam wadah raksasa. Para nelayan menyebutnya seperti keributan antara laut dan angin.

Percikan uap air beterbangan menuju gumpalan awan halus, berhamburan mengganggup pak tua, ia adalah kapal layar bertiang dua. Ia dalam pelayaran dari Persia menuju Astrakhan mengangkut buah-buahan kering. Ia juga membawa ratusan penumpang, orang-orang yang mengikuti “perniagaan tuhan.”

Mereka semua berasal dari hutan hulu Volga, bangsa kuat dengan ciri khas palu di tangan, dihanguskan oleh angin panas, direndam dengan air asin nan pahit di kedalaman, dan berjambang seperti binatang. Mereka sangatlah gembira jika pulang dengan penghasilan yang melimpah di kantongnya, dan mereka berkeliaran di geladak kapal seperti beruang.

Genangan kehijauan air laut terlihat bertiup melewati ombak berbuih putih, sehingga haluan lancip kapal memecahnya seperti bajak yang membelah tanah, dan terjun ke dalam buih, merendam layar miring di kedinginan. Itulah laut ketika musim gugur. Layarnya mengembang, tambalannya mengerip, geladaknya berderak, tali-temalinya yang kencang berdenting seperti senar, dan semua ketegangan berada di sengkang depan. Gumpalan-gumpalan awan terburu-buru melintasi angkasa, dan terik matahari menjemur mereka. Laut dan langit sekilas serupa dan angkasa bergelora.

Bersuit-suit sekencang-kencangnya, angin berdesir-desir melampaui suara kerumunan, dan tertawa terbahak-bahak. Lirik-lirik lagu yang sedang mereka nyanyikan sejak semula, namun tetap saja tak seirama. Angin menerpa percikan uap air laut dan mengenai muka para penembang, dan hanya sesekali saja terdengar jeritan seorang wanita, yang masih bernyanyi dengan lirih:

Seperti ular yang berapi-api

Suatu daya magis, aroma manis aprikot kering, bahkan bau air laut yang sangat kuat pun tidak mampu mengalahkan aromanya. Kapal telah melewati Uch Hook, sebentar lagi Pulau Chechen akan nampak keindahannya, sebuah daerah yang dahulu kala dikenal orang-orang Rusia, dari sana para pria Kiev keluar menyerbu Tabaristan. Pada sisi kiri kapal, karena musim gugur yang bening kebiruan, pegunungan gelap Kaukasus nampak samar-samar kemudian menghilang.

Ia menyandarkan punggung lebarnya di tiang layar, terduduk seorang pemuda yang tangguh, yang pipinya belum ditumbuhi jambang, yang mengenakan kemeja linen putih dan celana persia biru; ia memiliki bibir merah terang, sepasang mata biru pucat, yang bersinar seperti kegembiraan remaja. Tungkainya terbujur lebar sampai ke geladak, lututnya tersandar petani wanita muda. Ia adalah salah satu yang bekerja untuk mengeluarkan isi perut ikan. Ia sebesar dan seberat pemuda itu, dengan wajah memerah dan kusam karena terik matahari dan angin; ia memiliki kedua alis yang hitam, tebal, dan panjang seperti sayap-sayap burung angsa; dengan mata mengantuk setengah tertutup, kepalanya bersandar di kedua tungkai pemuda itu. Dari lipatan korset tanpa kancing itu menyembul dadanya, seolah-olah ingin lepas dari tulangnya…

Silang lengannya memperlihatkan sikunya, dan ia meletakkan telapak tangannya yang lebar di atas dada kiri wanita itu dan membelai tubuh tegapnya. Pada tangan satunya, ia menggenggam secangkir anggur yang merah pekat, sehingga tetesan ungu menetes mengenai bagian dada putih kemejanya.

Para pria berkerumun dan iri kepada mereka, matanya yang seronok seolah-olah menyentuh wanita yang terbaring sambil menahan topinya yang ingin lepas dari kepalanya karena terpaan angin dan mengebatkan mantelnya. Ombak kehijauan yang besar mengintai dari pagar kapal, kadang di kanan, kadang di kiri; awan-awan berlari-lari melintasi langit yang warna-warni; segerombolan burung camar sedang bersedih dan matahari musim gugur menari-nari di atas air yang berbuih, menutupinya dengan bayang-bayang biru, kemudian menyalalah segala macam permata di dalamnya.

Orang-orang di kapal layar bersorak, bernyanyi, dan terbahak-bahak. Tumpukan karung yang berisi buah kering tersemat botol besar anggur Khaketian, yang mana besar sekali, para petani berjambang saling berdesakan. Semuanya memiliki hawa zaman kuno yang melegenda tentangnya. Sebuah renungan tentang kembalinya Stenza Razin dari ekspedisi Persianya.

Seorang pelaut Persia berpakaian biru, dengan unta-untanya yang terlihat kurus, yang sedang menonton rakyat Rusia bergembira-ria, dan memperlihatkan gigi mereka seperti mutiara yang menyeringai dengan ramah, mata yang mengantuk dari orang-orang Timur yang berbinar dengan senyuman aneh.

Orang tua  yang merengus, yang dikumalkan oleh angin, dengan hidung bengkok yang mencuat dari wajah berjambang seperti seorang tukang sihir, tersandung kaki wanita yang ia lewati. Ia  berhenti dan menggelengkan kepala yang tidak biasa dari orang tua pada umumnya, kemudian berseru:

“Dasar jelmaan setan! Untuk apa kamu menghalangi jalan! Makhluk tak tahu malu, lihatlah dia, sialan!”

Bahkan wanita itu pun tidak mau berpindah tempat, tak lebih dari ketika ia membuka matanya, hanya bibirnya saja yang sedikit bergetar, dan pemuda itu meletakkan cangkirnya di geladak, dan tangan satunya merangkul dada wanita itu, berkata dengan keras:

“Yakim Petrov, Apakah kamu iri? Pergilah! Jangan marah-marah dengan kedengkian, jangan ikut campur urusan orang. Atau akan aku siram mukamu dengan anggur ini.”

Ia mengangkat telapak tangannya dan meletakkannya lagi di dada wanita itu, ia berkata dengan pongah:

“Kita akan melindungi seluruh Rusia!”

Wanita itu sambil memberikan senyumannya perlahan-lahan, dan kemudian semuanya, kapal layar dan semua orang di sana mengangkat seperti dada yang menyembul. Ombak menghantam lagi sisi kapal dan memercik ke semua orang, termasuk wanita itu, dengan cipratan yang asin. Kemudian ia membuka setengah matanya yang kecoklatan, membuang lirikan yang ramah, dan terburu-buru untuk mulai melindungi dirinya.

“Jangan,” kata pemuda itu sambil menghalangi tangannya. “Biarkan ia melihat. Jangan iri hati pada mereka.”

Kembali ke belakang, para pria dan wanita kemudian menyanyikan lagu sambil berdansa. Jelas, mendebarkan, suara anak muda bernyanyi dalam tempo yang cepat:

Aku tak ingin perak dan emasmu;

Kekasihku lebih berharga dari harta yang melimpah…

Sepatu bot berdebuk di atas geladak, seseorang mendengking seperti burung hantu dewasa, kerincing berbunyi dengan nyaring, cangklong kalmuk berdesis, dan suara wanita, semakin naik dan naik, bernyanyi dengan riang:

Sekawanan serigala melolong di pepohonan,

Melolong karena rasa lapar yang menyakitkan,

Ayah tiri seharusnya menjadi makanan mereka,

Kemudian ia akan mendapat pahala!

Orang-orang tertawa terbahak-bahak dan seseorang bersorak memekakkan telinga:

“Anda menyukainya, Pak tua?”

Angin mendorong gelombang dengan tertawa.

Pemuda tegap telah menyelimuti perlahan-lahan dada wanita dengan mantelnya, dan memutar-mutar mata kekanak-kanakannya, ia berkata, lihat ke arahnya:

“Ketika kita pulang, kita akan membuat sesuatu yang bersenandung! Oh, Marya, tidakkah kita akan membuat sesuatu yang bersenandung!”

Pada sayap-sayap yang berapi, matahari berjalan ke arah barat. Awan-awan mengejarnya, dan tak bisa menyusulnya, menetap di bukit-bukit bersalju di atas punggung gelap pegunungan.

1912.

Tentang Maxim Gorky (Nizhny Novgorod, 28 Maret 1868-Moskwa, 18 Juni 1936)

Maxim Gorky adalah seorang penulis atau dramawan Rusia terkenal yang dianggap sebagai salah satu penulis terbesar dalam sastra Rusia pada awal abad ke-20. Ia dikenal karena karyanya yang menggambarkan kehidupan rakyat biasa dan perjuangan mereka, serta kritik sosial terhadap ketidaksetaraan dan ketidakadilan. Beberapa karyanya yang terkenal antara lain: “My Chilhood” (Buku pertama dari trilogi “Autobiografi Orang Bodoh”), “Mother” (Ibu), dan “The lower Depths” (Dasar-Dasar Bawah).

Gorky Juga Merupakan figur penting dalam sastra dan budaya Rusia pada zamannya dan memainkan peran penting dalam pergerakan sastra realisme sosialis. Ia adalah seorang penulis yang sangat produktif dan memiliki pengaruh yang kuat dalam menggambarkan kondisi sosial dan politik Rusia pada masanya.

Tentang Rahman Kurniawan

Rahman Kurniawan adalah seorang mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Sarjanawiyata Yogyakarta. Ia memiliki hobi membaca buku, menulis artikel, dan menerjemahkan karya dari Bahasa Inggris-Indonesia. Ia berkeinginan menjadi penerjemah dan penulis buku. Ia juga memiliki laman blog pribadi www.daridekatsekali.blogspot.com.

Artikel ini telah dibaca 48 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

JATUH CINTA ATAU HANYA SEKADAR PRASANGKA

1 July 2024 - 01:17 WIB

Sooberty Club Hadirkan Sebuah Event Yang Cukup Meriah Untuk Para Pegiat Musik Indie Lokal Dalam Rangka Promosi Single Rilisan Terbaru

27 June 2024 - 02:43 WIB

Kabut Merah di Mata Syahidin

23 June 2024 - 19:53 WIB

Goligadi dalam Tiga Babak I Cerpen Arif P. Putra

17 June 2024 - 01:11 WIB

Tujuan Aku Bersekolah – Cerpen Christina Sandra

10 March 2024 - 18:12 WIB

SMK Penerbangan Nusantara (SPN) Ketaping Menerima Pendaftaran Peserta Didik Baru Tahun Pelajaran 2024 – 2025

26 February 2024 - 08:10 WIB

Trending di Budaya